Table Of ContentHabitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi dan Antropologi
Vol. 2 No.1 Maret 2018 p.151-172
PROBLEMATIKA PENDIDIK SOSIOLOGI ANTROPOLOGI DI MASYARAKAT
MULTIKULTURAL
Oleh:
Zaini Rohmad1
Abstrak
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang beragam kumunitas budaya dengan segala
kelebihannya, dan kekurangannya tentang konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk
organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan. Berdasarkan hal di atas, kajian ini berdasarkan
konsepsi teoritis mengenai problematika pendidik sosiologi antropologi di masyarakat multicultural.
Minimal ada empat hal yang dialami pendidik di masyarakat multikultural, yakni: (1) tuntutan
penyetaraan pelayanan dalam menyeleksi dan mengintegrasikan isi (content selection and
integration); (2) masalah “proses mengkonstruksikan pengetahuan” (the knowledge construction
process); (3) menguragi prasangka (prejudice reduction)? (4) sejauhmana guru mampu memilih
aspek dan unsur budaya yang relevan dengan isi dan topik mata pelajaran, sehingga peserta didik
menuntut penyetaraan pendidikan (equity of education). Berdasarkan uraian di atas, pendidikan harus
memenuhi kriteria ilmiah (scienteific methods), dengan lebih mengedepankan penalaran induktif
(inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning) dengan
pendekatan kolaburatif dan kontekstual.
Kata Kunci: soiologi antropologi, permasalahan pendidikan, multikuturalisme, masyarakat
1 Staf Pengajar di Pendidikan Sosiologi Antrapologi FKIP, dan S2 dan S3 di Pascasarjana,
Universtas Sebelas Maret, Surakarta.
151
konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti,
A. Pendahuluan
nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat
Sebagaimana diketahui, bahwa masyarakat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then
merupakan suatu jaringan hubungan- is one that includes several cultural
hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat communities with their overlapping but none
adalah sebuah komunitas yang interdependen the less distinc conception of the world, system
(saling tergantung satu sama lain). Pada of (meaning, values, forms of social
umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk organizations, historis, customs and
mengacu sekelompok orang yang hidup practices)”). Jadi, masyarakat multikultural
bersama dalam satu komunitas yang merupakan masyarakat yang
teratur.Dapat dikatakan sebagai sebuah menganut multikulturalisme, yaitu paham
masyarakat apabila memiliki pemikiran, yang beranggapan bahwa berbagai budaya
perasaan, serta sistem/aturan yang sama. yang berbeda memiliki kedudukan yang
Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, sederajat.
manusia kemudian berinteraksi sesama Sedang tipe-tipe masyarakat
mereka berdasarkan kemaslahatan. Proses multikultural adalah: (a). kompetisi seimbang:
yang demikian, masyarakat terbentuk. kelompok-kelompok yang ada mempunyai
Sedangkan Masyarakat Multikultural kekuasaan yang seimbang; (b). mayoritas
adalah suatu masyarakat yang hidup dalam dominan: kelompok terbesar mendominasi,
suatu tempat dengan beberapa kebudayaan contoh : Indonesia, umat Islam mayoritas dan
yang berbeda. Masyarakat multikultural memegang kekuasaan; (c). minoritas dominan:
biasanya menganut paham multikulturalisme, kelompok kecil yang mendominasi;
yaitu anggapan bahwa setiap budaya memiliki (d). fragmentasi: masyarakat terdiri dari
kedudukan yang sama atau sederajat dan banyak kelompok yang kecil, tidak ada yang
memiliki kelebihannya masing-masing. mendominasi.
Dengan faham ini seorang pendidik harus Sedangkan ciri-ciri masyarakat
memahami berbagai corak budaya yang dianut multikultural adalah: (1) Segmentasi (terbagi)
oleh masyarakatnya, termasuk peserta didik ke dalam kelompok-kelompok; (2) Kurang
yang sedang belajar di pendidikan formal. mengembangkan konsensus (kesepakatan
Menurut Azra (Rohmad: 2017), bersama); (3) Sering mengalami konflik; (4)
Masyarakat multikultural adalah suatu Integrasi sosial atas paksaan; dan (5)
masyarakat yang terdiri dari beberapa macam Dominasi (penguasaan) suatu kelompok atas
kumunitas budaya dengan segala kelompok lain.
kelebihannya, dengan sedikit perbedaan
162
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi dan Antropologi
Vol. 2 No.1 Maret 2018 p.151-172
Sedangkan dalam UU No 20 tahun Misalnya dalam proses mengkonstruksikan
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pengetahuan (the knowledge construction
menghendaki bahwa pendidikan process); menyeleksi dan mengintegrasikan isi
diselenggarakan secara demokratis, (content selection and integration) mata
berkeadilan serta tidak diskriminatif serta pelajaran; mengurangi prasangka (prejudice
menjunjung tinggi HAM, nilai, religi, kultural, reduction); dan menyesetaraan pendidikan
dan keberagaman suku bangsa, dan sebagai (equity paedagogy). Tugas pendidik,
satu kesatuan yang sistemik dengan sistem khususnya guru tidak mudah untuk
terbuka dan multi makna. Berkaitan dengan menjalankan pekerjaannya. Barangkali tidak
hal tersebut, tujuan utama dari pendidikan cukup dengan wacana SNGP(Standar
adalah untuk menanamkan sikap simpati, Nasional Guru Profesional), dan Guru
respek, apresiasi, dan empati terhadap budaya Profesional—yang terdiri dari (a) Profesi
yang berbeda dan etnis yang berbeda. spiritual; (b)Profesi Paedagogy; (c) Profesi
Bagaimana bila terjadi perubahan dalam Profesional;dan (d) Profesi Sosial.
budaya nasional, kalaupun budaya daerah
B. Problema yang dihadaipi Pendidik
tergusur, tidak perlu risau selama nilai-nilai
Terhadap Peserta Didik
yang unggul diterima dan berkembang dalam
Problema atau masalah adalah
masyarakat lokal.Dengan kata lain, budaya
kesenjangan antara yang ada dengan yang
yang berdasarkan pada nilai-nilai 'kebenaran
seharusnya ada (das sain dengan dos sollen).
yang parsial atau marjinal' tidak dapat
Kesenjangan antara keadaan yang ada dengan
bertahan dalam jangka waktu yang lama atau
keadaan yang seharusnya ada ini yang harus
permanen. Dengan cara demikian, seluruh
segera dipecahkan bersama agar tidak muncul
nilai budaya yang ada dapat dijadikan sumber
masalah yang lebih rumit dan kompleks.
kekuatan dan ketahanan masyarakat dalam
Walau kita ketahui bahwa pendidikan
membangun dirinya, serta masyarakat
merupakan investasi jangka panjang, sehingga
berbudaya sebagai cita-cita bersama
perlu pemikiran yang lebih matang dan
diniscayakan dapat terwujud.
terencana.
Berdasarkan kondisi faktual di
Sebagaimana kita singgung di atas,
masyarakat dan tujuan utama sistem
problema yang dihadapi pendidik kepada
pendidikan nasional, pendidik mendapat
peserta didik cukup komplek dan rumit, serta
amanah yang cukup berat dalam menata dan
memerlukan ketekunan dan ketelitian oleh
menanamkan nilai dan norma kepada
pelakunya, yakni pendidik atau guru.
masyarakat, khususnya kepada peserta didik.
163
Tampaknya Menteri Pendidikan dan Bagaimana agar peserta didik yang belum
Kebudayaan, Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy mengenal budaya yang dijadikan media
menyadari hal ini, sehingga seorang guru pembelajaran menjadi tidak berprasangka
harus tinggal di sekolahan selama delapan jam bahwa pendidik atau guru cenderung
per hari, guna mempersiapkan materi yang mengutamakan unsur budaya kelompok
akan diajarkan atau yang akan sharingkan tertentu. Dalam perlakuan ini muncul masalah
kepada peserta didik, agar tidak terjadi hal-hal kesetaraan status budaya peserta didik yang
yang tidak kita inginkan. budayanya jarang dijadikan media
Bila kita amati, banyak sikap, pembelajaran. Bagaimana pendidik atau guru
keterampilan dan pengetahuan pendidik yang dapat mengintegrasikan budaya lokal dalam
belum mencerminkan budayanya sendiri. mata pelajaran yang diajarkan, sehingga
Setiap hari kita dapat melihat dan mendengar pembelajaran yang dilaksanakan lebih
berita dari lingkungan kita, baik melalui realita bermakna (meaningfull learning) bagi peserta
maupun melalui berita-berita, baik melalui didik. Bagaimana agar guru dapat
berita di surat kabar, majalah mapun berita mengusahakan “kerjasama” (cooperation) dan
elektronik seperti TV, yang menunjukkan pengertian bahwa strategi pemakaian budaya
bahwa guru kurang mengenal budayanya tertentu bukan merupakan “kompetisi,” mela-
sendiri, budaya lokal maupun budaya peserta inkan sebuah kebersamaan.
didik; atau guru kurang menguasai garis besar Ditambah lagi, pandangan umum,
struktur dan budaya etnis peserta didiknya, tentang rendahnya kemampuan pendidik atau
terutama dalam konteks mata pelajaran yang guru dalam mempersiapkan peralatan yang
akan diajarkannya;. dapat merangsang minat, ingatan, dan
Masalah ini muncul apabila pendidik pengenalan kembali peserta didik terhadap
atau guru terlalu banyak memakai budaya khasanah budaya masing-masing. Lebih-lebih
etnis atau kelompok tertentu dan (secara tidak di masyarakat multikultural seperti di
sadar) menafikan budaya kelompok lain. Indonesia ini, dengan keberagamaan budaya
Untuk mempersiapkan atau memilih unsur indonesia dapat menimbulkan masalah dalam
budaya membutuhkan waktu, tenaga dan proses pembelajaran. Pendidik atau guru
referensi dari berbagai sumber dan pustaka, seharusnya dapat menggunakan frameof
mencari tahu dari tokoh sehingga guru dapat reference dari budaya tertentu dan
melaksanakan kesetaraan pedagogi. Pendidik mengembangkannya dalam perspektif ilmiah –
harus memiliki “khasanah budaya” mengenai yang kini dikenal dengan pendekatan saintifik.
berbagai unsur budaya dalam tema tertentu, Secara garis besar, permasalahan yang
termasuk Tionghoa dan yang lainnya. sering diderita oleh pendidik atau guru
164
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi dan Antropologi
Vol. 2 No.1 Maret 2018 p.151-172
pendidikan sosiologi antropologi, secara garis didik?; aspek budaya manakah yang dapat
besarnya sebagai berikut: dipilih sehingga dapat membantu peserta
1. Mengingat seorang guru harus mengajar didik untuk memahami konsep tepat kunci
sebanyak 24 jam per minggu, maka guru secara lebih bermakna (meaningfull
merasa kurang waktu dalam menyeleksi learning)
dan mengintegrasikan isi (content selection 4. Mengingat budaya kita sudah condong ke
and integration) mata ajaran yang akan di- arah materialism, maka tolok ukur yang
ajarkan; digunakan sering ke arah itu, sehingga
2. Mengingat materi yang diajarkan (terlalu) bagaimana pendidik atau guru dapat
banyak, maka masalah “proses mereduksi atau mengeliminasi prasangka
mengkonstruksikan pengetahuan” (the masalah “kesetaraan pedagogy” (equity
knowledge construction process) yang paedagogy). Contoh yang kasat mata saat
diberikan kepada peserta didik kurang utuh, ini adalah sekolahan yang mahal biayanya
sehingga materi yang diajarkan kurang dengan sekolahan yang setengah gratis.
lengkap. Akibatnya proses sosialisasi yang Namun, masyarakat lebih tertarik kepada
diberikan pendidik kurang lengkap dan ini sekolahan mahal biayanya. Artinya,
tampak pada peserta didik kurang lengkap sekolahan mahal lebih disukai masyarakat
sosialisasinya, sehingga banyak diantara daripada sekolahan yang murah.
anak-anak saling terjadi tawuran di Berdasarkan hal di atas, dapat diambil
masyarakat. kesimpulan, bahwa segala sesuatu diukur
3. Permasalahan lain yang kurang tampak, dari materi yang melekatnya.
tetapi pada sikap dan perilaku peserta didik
atau orang tua murid muncul adanya
C. Cara Mengatasi Masalah Terhadap
prasangka yang cukup berlebihan, sehingga
Peserta Didik
bagaimana pendidik atau guru dapat
Tehnik untuk mengatasi masalah yang
menguragi prasangka (prejudice reduction)
berkaitan dengan peseta didik, atau orang tua
tersebut? Pertanyaannya adalah: Sejauh
siswa, ataudengan lembaga
mana guru mampu memilih aspek dan
pendidikan,sebaiknya dipecahkansecara
unsur budaya yang relevan dengan isi dan
bersama-sama, agar proses pemecahannya
topik mata pelajaran?; Sejauhmana guru
lebih komprehensif dan terpadu. Mengingat
dapat mengintegrasikan budaya lokal dalam
proses pemecahan pendidikan, maka
mata pelajaran yang diajarkan, sehingga
realisasinya seharusnya secara kooperatifdan
pembelajaran lebih bermakna bagi peserta
kolaboratif dengan smooth.
165
Metode ilmiah pada umumnya memuat Metode mengamati sangat bermanfaat bagi
serangkaian aktivitas pengumpulan data pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity) peserta
melalui observasi, wawancara atau ekperimen, didik,sehingga proses pembelajaran memiliki
mengolah informasi atau data, menganalisis, kebermaknaan yang tinggi.
kemudian memformulasi, danpengujian Kegiatan mengamati dalam
hipotesis. pembelajaranhendaklah guru membuka secara
Menurut Permendikbud Nomor 81 A luas dan bervariasi kesempatan peserta didik
tahun 2013, lampiran IV menunjukkan untuk melakukan pengamatan melalui
langkah-langkah yang perlu dilakukan kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan
bersama dalam proses pembelajaran antara membaca. Guru memfasilitasi peserta didik
pendidik atau guru dengan peserta didik. untuk melakukan pengamatan, melatih mereka
Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific untuk memperhatikan (melihat, membaca,
appoach) dalam proses pembelajaran meliputi mendengar) hal yang penting dari suatu benda
menggali informasi melalui pengamatan, atau objek. Adapun kompetensi yang
bertanya, percobaan, kemudian mengolah data diharapkan adalah melatih kesungguhan,
atau informasi, menyajikan data atau ketelitian, kecermatan, kepastian dan mencari
informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, informasi.
menalar, kemudian menyimpulkan, dan b. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru
mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau
membuka kesempatan secara luas kepada
situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan
peserta didik untuk bertanya mengenai apa
ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau
secara prosedural. Pada kondisi seperti ini,
dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik
tentu saja proses pembelajaran harus tetap
untuk dapat mengajukan pertanyaan:
menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah
pertanyaan tentang hasil pengamatan objek
dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat
yang konkrit sampai kepada yang abstrak
nonilmiah. Terdapat lima unsur dalam
berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur,
pembelajaran kontekstual, yaitu:
atau pun hal lain yang lebih abstrak.
a. Mengamati (observasi)
Pertanyaan yang bersifat faktual sampai
Metode mengamati mengutamakan
kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
kebermaknaan proses pembelajaran
Berdasarkan situasi di mana peserta didik
(meaningfull learning). Metode ini memiliki
dilatih menggunakan pertanyaan dari guru,
keunggulan tertentu, seperti menyajikan media
masih memerlukan bantuan guru untuk
obyek secara nyata, peserta didik senang dan
mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di
tertantang, dan mudah pelaksanaannya.
166
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi dan Antropologi
Vol. 2 No.1 Maret 2018 p.151-172
mana peserta didik mampu mengajukan objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan
pertanyaan secara mandiri. Berangkat dari perlakukan (experiment). Dari kegiatan
kegiatan tersebut dihasilkan sejumlah tersebut terkumpul sejumlah informasi. Dalam
pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya aktivitas mengumpulkan informasi
dikembangkan rasa ingin tahu (curiousity) dilakukan melalui eksperimen atau
peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya perlakuan, membaca sumber lain selain buku
maka rasa ingin tahu semakin dapat teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas
dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi wawancara dengan nara sumber dan
dasar untuk mencari informasi yang lebih sebagainya. Adapun kompetensi yang
lanjut dan beragam dari sumber yang diharapkan adalah mengembangkan sikap
ditentukan guru sampai yang ditentukan teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang
peserta didik, dari sumber yang tunggal lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
sampai sumber yang beragam. kemampuan mengumpulkan informasi melalui
Kegiatan“menanya” dalam kegiatan berbagai cara yang dipelajari,
pembelajaran, pendidik atau guru mengajukan mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar
pertanyaan tentang informasi yang tidak sepanjang hayat.
dipahami dari apa yang diamati atau d. Mengasosiasikan/Mengolah
pertanyaan untuk mendapatkan informasi Informasi/Menalar
tambahan tentang apa yang diamati (dimulai Kegiatan “mengasosiasi/mengolah
dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan informasi/menalar” dalam kegiatan
yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi pembelajaran adalah memproses informasi
yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, hasil kegiatan mengumpulkan data atau
kemampuan merumuskan pertanyaan untuk eksperimen maupun hasil pengolahan
membentuk pikiran kritis yang perlu untuk informasi yang dikumpulkan dari yang
hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. bersifat menambah keluasan dasar dari
c. Mengumpulkan Informasi kegiatan mengamati dan kegiatan
Kegiatan “mengumpulkan
mengumpulkan data/informasi. Pengolahan
informasi” merupakan tindak lanjut
kedalaman sampai kepada pengolahan
dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan
informasi yang bersifat mencari solusi dari
menggali dan mengumpulkan informasi dari
berbagai sumber yang memiliki pendapat yang
berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk
berbeda sampai kepada yang bertentangan.
itu peserta didik dapat membaca buku yang
Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan
lebih banyak, memperhatikan fenomena atau
167
keterkaitan satu informasi dengan informasi menceritakan apa yang ditemukan dalam
lainya, menemukan pola dari keterkait- kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan
an informasi tersebut. Adapun kompetensi dan menemukan pola. Hasil tersebut
yang diharapkan dari kegiatan ini disampikan di kelas dan dinilai oleh guru
adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, sebagai hasil belajar peserta didik atau
disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan kelompok peserta didik tersebut. Kegiatan
menerapkan prosedur dan kemampuan “mengkomunikasikan” dalam kegiatan
berpikir induktif serta deduktif dalam pembelajaran adalah menyampaikan hasil
menyimpulkan. pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil
Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai analisis secara lisan, tertulis, atau media
kegiatan menalar, yaitu proses berfikir yang lainnya.
logis dan sistematis atas fakta-kata empiris
D. Teknik-Teknik Mengajar di Masyrakat
yang dapat diobservasi untuk memperoleh
Multikultural
simpulan berupa pengetahuan. Aktivitas
Mengingat teknik-teknik pembelajaran
menalar dalam konteks pembelajaran dengan
multikultural rumit dan kompleks, maka
pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori
proses pembelajarannya haruslah bersifat
belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif.
kolaburatif dan kontekstual. Mengapa
Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk
demikian? Masyarakat multikultural yang
pada kemamuan mengelompokkan beragam
peserta didiknya yang beragam, baik dilihat
ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa
budaya, etnis, agama, dan stratifikasinya.
untuk kemudian memasukannya menjadi
Keragamannya masyarakat multikulturalnya
penggalan memori. Selama mentransfer
diharapkan guru menyampaikan contoh-
peristiwa-peristiwa khusus ke otak,
contoh isi mata ajaran tidak menimbulkan
pengalaman tersimpan dalam referensi dengan
prasangka (prejudice reduction) dalam proses
peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang
pembelajaran.
sudah tersimpan di memori otak berelasi dan
Model pembelajaran adalah bentuk
berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya
pembelajaran yang tergambar dari awal
yang sudah tersedia.
sampai akhir yang disajikan secara khas oleh
e. Mengkomunikasikan
pendidik atau guru. Model pembelajaran
Pada pendekatan scientific guru
merupakan bingkai dari penerapan suatu
diharapkan memberi kesempatan kepada
pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
peserta didik untuk mengkomunikasikan apa
Ada banyak model pembelajaran dan beberapa
yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat
dilakukan melalui menuliskan atau
168
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi dan Antropologi
Vol. 2 No.1 Maret 2018 p.151-172
yang disarankan di dalam pelaksanaan mengumpulkan data atau informasi,
pembelajaran saintifik, diantaranya adalah: termasuk dalam melatih
1. Inquiry Based Learning nomerator/peneliti tentang proses
Langkah-langkah atau sintaks Inquiry pengumpulan data seperti ketelitian,
Based Learning, secara umum dalam proses akurasi dan kejujuran dalam mencari atau
pembelajaran adalah sebagai berikut: merumuskan berbagai alternatif
a. Observasi/Mengamati pemecahan masalah
b. Mengajukan pertanyaan d. Data Processing (mengolah data) adalah
c. Mengajukan dugaan atau kemungkinan kegiatan dalam mencoba dan
jawaban/ mengasosiasi atau melakukan mengeksplorasi pengetahuan konseptual,
penalaran melatih keterampilan berpikif logis dan
d. Mengumpulkan data yang terakait dengan aplikasinya.
dugaan atau pertanyaan yang e. Verfication (memferikasi) adalah kegiatan
diajukan/memprediksi dugaan dalam mengecek kebenaran atau
e. Merumuskan kesimpulan-kesimpulan keabsahan data, pengolahan data, mencari
berdasarkan data yang telah diolah atau sumber yang relevan yang baik dari
dianalisis, dan dipresentasikan relevan buku atau media dan
2. Discovery Based Learning mengasosiasikannya untuk menjadi suatu
Langkah-langkah atau sintaks Discovery kesimpulan secara utuh.
Based Learning dalam pembelajaran adalah f. Generalization (menyimpulkan dari hasil
sebagai berikut: penelitian agar dapat melatih pengetahuan
a. Stimulation (memberi stimulus), baik metakognisi pada peserta didik.
berupa bacaan, gambar atau situasi yang 3. Problem Based Learning
Langkah-langkah atau sintaks
sesuai dengan materi atau bahan
Problem Based Learning, secara umum
pembelajaran atau sesuai dengan tema
dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
atau topik materi pembelajaran;
a. Orientasi pada masalah dengan
b. Problem Statement (mengidentifikasi
mengamati masalah yang menjadi objek
masalah) dalam kegiatan ini adalah
pembelajaran
menemukan permasalahan menanya,
b. Pengorganisasian kegiatan pembelajaran
mencari informasi dan merumuskan
dengan menyampaikan berbagai
masalah.
pertanyaan (atau menanya) terhadap
c. Data Collecting (mengumpulkan
masalah kajian
data)adalah kegiatan dalam mencari dan
169
c. Penyelidikan mandiri dan kelompok dan untuk perbaikan tugas projek pada mata
melakukan percobaan (mencoba) untuk ajaran yang sama atau mata ajaran lain
memperoleh data dalam rangka pada waktu yang akan datang.
menyelesaikan masalah yang dikaji. Berangkat dari 4 (empat) klasifikasi
d. Pengembangan dan pengkaian hasil, dan pembelajaran konteksual yang bersifat
mengasosiasikan data yangditemukan kerjasama dan kolaburatif ini dalam
dengan berbagai data lain dari berbagai pelaksanaan praktis dan nyata dapat dilakukan
sumber, dan dengan, antara lain: diskusi atau FGD (focus
e. Analisis dan evaluasi proses pemecahan group discussion), melakukan perlakuan
masalah. (experiment) atau rancangan percobaan,
4. Project Based Learning demonstrasi dan atau simulasi. Dalam
Langkah-langkah atau sintaks Project Based pelaksanaannya lebih operasonal dan praktis,
Learning, secara umum dalam pembelajaran seperti adanya penyampaian informasi, dan
adalah sebagai berikut: jenis pelaksanaannya bersifatpenugasan, dsb.
a. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan Kesemuanya itu, tergantung pada materi yang
proyek, sejak langkah awal agar peserta diajarkan dan metode yang digunakan untuk
didik mengamati lebih detail atau dalam mencapai tujuan pembelajaran--yang sesuai
terhadap pertanyaan yang muncul dari dengan karakteristik peserta didik.
fenomena yang ada.
E. Penutup
b. Merancang atau mendesain perencanaan
proyek, mulai menyusun perencanaan Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil
proyek atau bisa juga dengan perencanaan beberapa kesimpulan, antara lain:
percobaan (rancob); 1. Problematika Pendidik Sosiologi dan
c. Menyusun jadual sebagai pedoman atau Antropologi sangat komplek, sejak
arahan dalam melaksanakan langkah- pendidk atau guru yang kurang
langkah nyata dari sebuah projek tersebut; profesional, sampai dengan menghadapi
d. Memonitor kegiatan dan perkembangan peserta didik yang multikultural, baik
projek, serta mengevaluasi projek yang etnis, budaya, ras, agama dan golongan.
sedang dikerjakan atau sedang berjalan; 2. Problema yang dihadapi pendidik atau
e. Menguji hasil yang diperoleh, baik berupa guru semakin kompleks, sejak dari
fakta dan data yang dihubungkan dengan orientasi peserta didik dengan tuntutan
berbagai data lain; penyetaraan pelayanan dalam menyeleksi
f. Mengevaluasi kegiatan atau pengalaman dan mengintegrasikan isi (content
yang diperoleh sebagai acuan perbaikan selection and integration); masalah
170
Description:(content selection and integration) mata pelajaran; mengurangi prasangka (prejudice reduction); dan menyesetaraan pendidikan. (equity paedagogy).