Table Of ContentPotret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 770
POTRET KEKEJAMAN KAUM FEODAL TERHADAP
PRIBUMI JAWA DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA
PRAMOEDYA ANANTA TOER
PORTRAIT OF A FEUDAL CLAN OF CRUELTY AGAINST THE
NATIVES OF JAVA IN THE NOVEL GADIS PANTAI BY PRAMOEDYA
ANANTA TOER
Oleh sidiq satrio mandiri, universitas negeri yogyakarta. [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud kekejaman kaum
feodal terhadap pribumi Jawa dalam novel Gadis Pantai, dan (2) Jejak atau bukti
identifikatif yang melatarbelakangi sikap kejam kaum feodal terhadap pribumi Jawa
dalam novel Gadis Pantai.
Objek penelitian ini adalah novel Gadis Pantai. Penelitian ini difokuskan pada
permasalahan bentuk kekejaman kaum feodal terhadap pribumi Jawa dalam novel Gadis
Pantai dan permasalahan berupa jejak atau bukti identifikatif yang melatarbelakangi
sikap kejam kaum feodal terhadap pribumi Jawa dalam novel Gadis Pantai dengan
menggunakan analisis pascakolonial Edward W. Said. Data dianalisis dengan teknik
analisis deskriptif kualitatif. Keabsahan data diperoleh melalui uji validitas dan
reliabilitas. Data dianalisis dengan deskripsi, kategorisasi, inferensi, dan penyajian data.
Hasil penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, wujud
kekejaman kaum feodal terhadap pribumi Jawa dalam novel Gadis Pantai yakni selir dan
abdi. Kedua jejak atau bukti identifikatif yang melatarbelakangi sikap kejam kaum feodal
terhadap pribumi Jawa dalam novel Gadis Pantai yang terbagi menjadi tiga aspek
tinjauan yang dikemukakan oleh Edward W. Said melalui kajian orientalisme, yaitu (1)
politik dengan temuan penggunaan dalih untuk menunjukkan superioritas melalui sikap
kejam kaum feodal terhadap pribumi Jawa antara lain: (a) perbedaan status sosial yang
sangat kontras antara golongan priyayi dengan golongan rakyat jelata, dan (b)
meningkatkan derajat hidup diri sendiri dan keluarga; (2) ideologi dengan temuan dari
teks-teks orientalis yang memiliki tendensi yakni: fenomena gila hormat dengan
menunjukkan sikap pembelaan atas penindasan, karena Bendoro dalam konteks priyayi
merasa derajatnya lebih tinggi dari selir dan abdinya yang berasal dari golongan rakyat
jelata, sehingga sudah sepantasnya untuk dihormati dalam situasi apapun (3) perspektif
yang dibangun oleh tokoh, dengan memperlihatkan bentuk kekejaman tokoh dengan
berpegang teguh pada ajaran agama islam dan al-quran yakni spirit religiusitas setelah
melakukan opresi kepada pribumi Jawa yang dilakukan tokoh-tokoh dalam penelitian ini
dengan menggunakan ajaran agama islam dan al-quran sebagai kedok untuk mengelabuhi
maksud dan tujuannya dalam menindas pribumi Jawa dalam konteks rakyat jelata.
Kata kunci: Kaum Feodal, Pribumi Jawa, Potret Kekejaman, Pascakolonial
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 771
ABSTRACT
This research aims to describe (1) a form of feudal clan of cruelty against the
natives of Java in the novel Gadis Pantai, and (2) the trace or proof the identification of
the that draconian aspects influenced attitudes towards native feudal house of Java in the
novel Gadis Pantai.
The object of this research is novel Gadis Pantai. This research is focused on the
problems of this form of brutality against the native feudal house of Java in the novel
Gadis Pantai and problems in the form of traces or evidence the identification of the that
draconian aspects influenced attitudes towards native feudal House of Java in the novel
Gadis Pantai by using pascakolonial analysis of Edward W. Said. Data were analyzed
with descriptive qualitative analysis techniques. The validity of the data obtained through
the test validity and reliability. Data analyzed with descriptions, categorization, inference,
and presentation of data.
The results of research showing the things, as follow. First, the realization of the
enormity of the feudal clans against the natives of Java in the novel Gadis Pantai that is
concubine and the man. Second trace or evidence the identification of the that draconian
aspects influenced attitudes towards native feudal house of Java in the novel the Gadis
Pantai is divided into three aspects of the views expressed by Edward W. Said,
orientalism, namely studies through (1) politics with findings use of pretext to show
superiority through the cruel attitude towards native feudal house of Java, among others:
(a) the difference in social status are a stark contrast between the belonging to upper
classes with the commoners, and (b) increasing degrees of life self and family; (2) with
the ideology of the findings from the texts of the orientalists who have tendency that is:
the phenomenon of snobby attitudes by showing the defence of oppression, because in the
context of the belonging to upper classes Bendoro feel higher degree of consort and his
servants are derived from the common people, of the been sensible to be respected in any
situation (3) built by perspective, by showing a form of brutality with character cling to
the teachings of islam and the quran that is spirit religiosity after doing opresi to native
Java performed figures in this study by using the teachings of islam and the quran as a
guise to confuse the intent and goal in the oppressive Javanese in the context of
indigenous peoples the commoners.
Keywords: Feudal Clan, Natives of Java, a portrait of cruelty, Pascakolonial.
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 772
PENDAHULUAN istilah inlander atau pribumi. Secara
Dalam sejarah kolonial di tidak langsung, sikap kolonial
Indonesia disadari atau tidak, Belanda menjadikan pengelompokan
kekuasaan penjajah atas pikiran, tersebut didasari oleh adanya
perasaan, sikap, dan perilaku kepentingan politis serta kepentingan
masyarakat terjajah telah sangat kuat ideologis.
dan berlangsung lebih lama daripada Politik kolonial Belanda
masa kekuasaan terhadap wilayah. sampai kurang lebih tahun 1870
Dalam hal ini berdampak pada konsisten dengan anggapan umum di
pribumi yang sulit untuk melepaskan negeri Belanda bahwa tanah koloni,
diri dari pengaruh tersebut saat telah khususnya Jawa, adalah produsen
memasuki era pascakolonial. komoditi agraris untuk ekspor. Tanah
Meskipun era kolonial telah berakhir, koloni harus dieksploitasi untuk
namun jejak penjajahan masih tetap menghasilkan komoditi agraris
tertinggal dan menimbulkan dampak sebanyak-banyaknya dan semurah-
terhadap mentalitas pribumi yang murahnya. Untuk tujuan itu, di tanah
kolonial. Era kolonial telah koloni harus ada pemerintahan Eropa
meninggalkan mentalitas penindas yang efisien dan terkontrol
dan pembudak dalam masyarakat disamping pemerintahan bumiputera.
Indonesia. Oposisi biner yang Di Jawa pemerintahan bumiputera
ditinggalkan kolonial berdampak dikepalai bupati. Kedudukan bupati
secara tidak langsung atas terjadinya tetap dipertahankan, karena
hegemoni antara pihak yang kekuasaan atas rakyatnya yang
berkuasa dengan pihak yang otoriter namun berwibawa masih
dikuasai, antara pribumi dengan non diperlukan. Pada abad ke-19, apalagi
pribumi, antara perjuangan dengan pada awalnya, di Jawa belum ada
penindasan identitas. proletariat yang besar dan dapat
Kolonial Belanda memiliki dipergunakan untuk usaha produksi
andil besar dalam memosisikan secara besar- besaran. Untuk usaha
rakyat Indonesia sebagai masyarakat produksi secara besar-besaran hanya
kelas ketiga yang disebut dengan dapat dilakukan dengan
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 773
menggunakan tenaga kerja dalam pada tahun 1962-1965 oleh
rangka ikatan desa dan ikatan feodal, Lentera/Bintang Timur.
seperti pada waktu VOC. Ini berarti Novel Gadis Pantai
tenaga yang dipergunakan adalah mengungkapkan betapa kejamnya
tenaga wajib yang dikerahkan dari kaum feodal dalam konteks priyayi
desa melalui bupati. Pemerintahan terhadap pribumi Jawa dalam
tradisional tidak dihapus, tetapi harus konteks rakyat jelata terutama kaum
diatur dan ditertibkan pejabat- perempuan pada masa pascakolonial,
penjabat pemerintahan Eropa agar yang mengantarkan pada
tidak ada penyalahgunaan dan kesengsaraan rakyat sebagai
kesewenang- wenangan. Gubernur interpretasi dari individu yang lemah.
Jendral Daendels (1808-1811) yang Dalam novel tersebut pengarang
dapat dikatakan meletakkan dasar menghadirkan sosok gadis, anak
pemerintahan kolonial kemudian seorang nelayan di sebuah kampung
membentuk aparatur pemerintahan nelayan di Kabupaten Rembang,
Eropa yang rasional dan terkontrol di Jawa Tengah yang mewakili rakyat
samping korps pemerintahan jelata, mendapatkan perlakuan
pribumi yang teratur, yang semula semena-mena dari seorang Bendoro
merupakan kelompok yang yang mewakili golongan priyayi
heterogen (Hatmosoeprobo, yang tidak lain adalah suami tidak
1995:55). resminya.
Berdasarkan uraian
Salah satu karya
tersebut maka penulis tertarik
Pramoedya Ananta Toer yang
melakukan penelitian terhadap novel
bercerita tentang potret kekejaman
Gadis Pantai, karena novel Gadis
kaum feodal dalam konteks priyayi
Pantai memiliki keunikan dalam
terhadap pribumi Jawa dalam
mengkonstruksi ideologi
konteks rakyat jelata yang
pascakolonial, terutama ideologi
dilatarbelakangi oleh pascakolonial
pascakolonial yang melekat dalam
adalah Novel Gadis Pantai. Novel
orientalisme Edward W. Said. Hal
tersebut pertama kali diterbitkan
demikian karena pengarang
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 774
memaparkan seorang pembesar penelaahan dokumen yang akan
santri atau dikenal dengan istilah menghasilkan data deskriptif berupa
priyayi yang memiliki ideologi teks-teks tertulis. Sumber data dalam
kolonial direkonstruksikan hidup penelitian ini menggunakan sumber
dalam lingkungan religius islam yang data primer dan sumber data
sangat kuat, namun hanya sebagai sekunder. Sumber data primer
kedok semata dan secara terang- penelitian ini berupa novel Gadis
terangan mampu memperlihatkan Pantai karya Pramoedya Ananta
kontradiksi negatif praktik Toer. Sumber data sekunder
feodalisme Jawa yang tidak memiliki penelitian ini berupa buku-buku yang
adab dan jiwa kemanusiaan yang berisi tentang orientalisme dan
ditunjukan dengan perutusan sorang pascakolonial. Teknik pengumpulan
priyayi terhadap seorang gadis belia data yang digunakan dalam
dari Kampung Nelayan Kabupaten penelitian ini menggunakan riset
Rembang, Provinsi Jawa Tengah, pustaka, pembacaan, dan pendataan.
untuk dijadikan selir (seorang wanita Riset pustaka merupakan teknik yang
yang telah diikat tali kekeluargaan menggunakan sumber- sumber
oleh laki-laki tetapi tidak berstatus tertulis untuk memeroleh data. Data
sebagai istri) dan perlakuan semena- dalam penelitian ini adalah data
mena yang ditunjukkan oleh seorang deskriptif yang ada dalam sebuah
tokoh dari golongan priyayi terhadap novel yang sudah dijelaskan di
abdinya dari golongan rakyat jelata. bagian sumber data. Konsep
Dengan demikian akan sesuai dengan pemikiran mengenai pascakolonial
judul penelitian “Potret Kekejaman Edward W. Said terdapat pada
Kaum Feodal Terhadap Pribumi deskripsi cerita, yaitu berupa narasi
Jawa dalam Novel Gadis Pantai dan dialog.
karya Pramoedya Ananta Toer”. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
METODOLOGI PENELITIAN Hasil Penelitian
Penelitian ini menggunakan H Hasil penelitian “Potret
pendekatan kualitatif dengan metode Kekejaman Kaum Feodal Terhadap
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 775
Pribumi Jawa dalam Novel Gadis ketidakberdayaan pribumi Jawa
Pantai Karya Parmoedya Ananta dalam konteks rakyat jelata,
Toer” mencakup dua hal, yaitu khususnya perempuan yang
mendeskripsikan (1) wujud disebabkan oleh perbedaan status
kekejaman kaum feodal terhadap sosial yang sangat kontras antara
pribumi Jawa dalam novel Gadis kaum feodal dalam konteks priyayi
Pantai karya Pramoedya Ananta dengan pribumi Jawa dalam konteks
Toer (2) jejak atau bukti identifikatif rakyat jelata khususnya perempuan..
yang melatarbelakangi sikap kejam Kedua yaitu ideologi; melalui
kaum feodal terhadap pribumi Jawa seorang tokoh dalam novel tersebut
dalam novel Gadis Pantai karya teks-teks memiliki wacana yang
Pramoedya Ananta Toer. Wujud membawa paham seperti gila hormat
kekejaman kaum feodal dalam yang menunjukkan sikap pembelaan
konteks priyayi terhadap pribumi atas penindasan yang berlawanan
Jawa dalam konteks rakyat jelata dengan sikap menerima apa adanya
yang terdiri dari abdi dan selir yang ditunjukkan oleh pribumi Jawa.
menjadi pokok gagasan yang banyak Ketiga yaitu perspektif; di dalam
disinggung dalam novel tersebut. novel tersebut yang menarik adalah
jejak atau bukti identifikatif yang spirit religiusitas sebagai sebuah
melatarbelakangi sikap kejam kaum perspektif kaum feodal dalam
feodal dalam konteks priyayi konteks priyayi di Jawa
terhadap pribumi Jawa dalam pascakolonial.
konteks rakyat jelata, khususnya Pembahasan
perempuan, terdapat tiga pokok pisau 1. Wujud Kekejaman Kaum Feodal
analisis yang akan dilihat dari teks- Terhadap Pribumi Jawa
teks pada novel tersebut sebagai a. Selir
bagian dari pascakolonialitas. Sebagai status sosial, dan
Pertama yaitu kepentingan/politik; diduga terdapat peran kaum feodal
formasi di dalam novel tersebut dalam konteks priyayi dan koloni di
berujung pada titik sebuah teks dalamnya, selir dalam konteks novel
berbicara mengenai Gadis Pantai menurut Toer (2003:6)
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 776
bermakna sebagai istri pembesar ketidakberdayaan pribumi Jawa
santri setempat; seorang Jawa yang dalam konteks rakyat jelata terutama
bekerja pada administrasi Belanda kaum perempuan. Hal itu dapat
dan kemudian dikenal dengan ditunjukkan dengan kutipan novel di
Bendoro Putri. Perempuan yang bawah ini.
melayani “kebutuhan” seks laki-laki.
Maka pada suatu hari
Wujud kekejaman ini menurut perutusan seorang itu datang ke
rumah orangtua gadis. Dan
wacana pascakolonial yang digagas
beberapa hari setelah itu sang gadis
oleh Said menggunakan pemikiran harus tinggalkan dapurnya, suasana
kampungnya, kampungnya sendiri
teori kritis Foucault untuk
dengan bau amis abadinya. Ia harus
lupakan jala yang setiap pekan
membongkar narsisme dan kekerasan
diperbaikinya, dan layar tua yang
epistemologi “Barat” terhadap tergantung di dapur juga bau laut
tanah airnya.
“Timur” dengan bias, kepentingan,
Ia dibawa ke kota. Tubuhnya
kuasa yang terkandung dalam
dibalut kain dan kebaya yang tak
pelbagai teori yang dikemukakan pernah diimpikannya bakal punya.
Selembar kalung emas tipis
kaum kolonialis dan orientalis (Baso, sekarang menghias lehernya dan
berbentuk medalion jantung dari
2005: 209-210). Bias dan kekuasaan
emas, membuat kalung itu manis
yang ditunjukkan dalam novel tertarik ke bawah.
tersebut ditunjukkan oleh kaum Kemarin malam ia telah
dinikahkan. Dinikahkan dengan
feodal dalam konteks priyayi yang
sebilah keris. Detik itu ia tahu:
mengutus gadis belia dari sebuah kini ia bukan anak bapaknya
lagi. Ia bukan anak emaknya
kampung nelayan untuk dibawa ke lagi. Kini ia istri sebilah keris,
wakil seorang rakyat yang tak
kota dengan dalih akan dijadikan istri
pernah dilihatnya seumur hidup.
seorang pembesar, namun pada
Ia tak tahu apa yang di
kenyataannya justru gadis belia hadapannya. Ia hanya tahu: ia
kehilangan seluruh hidupnya.
tersebut hanya dijadikan selir.
Kadang dalam ketakutan ia
Berdasarkan paparan cerita, bertanya: mengapa tak boleh
tinggal dimana ia suka, diantara
tampak bahwa kaum feodal dalam orang- orang tersayang dan
tercinta, di bumi dengan pantai
konteks priyayi menggunakan dan
dan ombaknya yang amis.
memanfaatkan kekuasaannya untuk (Gadis Pantai, hlm. 11- 12).
menindas dan mengelabuhi
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 777
Menjadi selir bagi tokoh wenang oleh “Barat” yang
gadis belia dalam masyarakat novel dimaksudkan disini adalah kaum
tersebut merupakan suatu feodal dalam konteks priyayi.
keterpaksaan, karena melalui
Kutipan di atas menjelaskan
dominasi kaum feodal dalam konteks
posisi selir sebagai bentuk
priyayi dari berbagai aspek
ketidakberdayaan pribumi Jawa
khususnya ekonomi mampu
dalam konteks rakyat jelata,
memanfaatkan inferior pribumi Jawa
khususnya kaum perempuan yang
dalam konteks rakyat jelata,
dikisahkan melalui tokoh gadis
khususnya kaum perempuan yang
belia untuk melawan perutusan
dikisahkan melalui tokoh gadis belia
Bendoro, meskipun perutusan
sebagai sarana pemuas berbagai
tersebut dirasa sangat merugikan
kebutuhan kaum feodal dalam
dirinya dan hanya menguntungkan
konteks priyayi termasuk kebutuhan
satu pihak saja yaitu Bendoro. Hal
seks. Hal demikian sesuai dengan
demikian sesuai pandangan Gayatri
pandangan Said (2010: 108)
Spivak via Gandhi (2001: vii)
disesuaikan dengan masyarakat
menyatakan bahwa “subaltern tidak
novel, Said menyatakan bahwa
bisa berbicara.” Yang dia
segala hal yang bercorak “Timur”
maksudkan di sini adalah kaum
dalam istilah orientalnya merujuk
perempuan dalam pelbagai konteks
pada orang yang di-orient-kan yang
kolonial tidak memiliki bahasa
direpresentasikan sebagai individu
konseptual untuk berbicara karena
yang lemah, dan apabila mempunyai
tidak ada telinga dari kaum lelaki
kekuatan dianggap membahayakan,
kolonial maupun pribumi untuk
sehingga wajar saja jika “Timur”
mendengarkannya. Ini bukan
yang representasinya sebagai
berarti bahwa perempuan tidak bisa
pribumi Jawa dalam konteks rakyat
berkomunikasi secara literal, tetapi
jelata, dalam hal ini posisi rakyat
tidak ada posisi subjek dalam
jelata merujuk pada selir menjadi
wacana kolonialisme yang
bagian-bagian yang dapat diurus dan
memungkinkan kaum perempuan
diperlakukan secara sewenang-
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 778
untuk mengartikulasikan diri Dari serangkaian kegelisahan
mereka sebagai pribadi. Mereka gadis belia tersebut pada akhirnya
ditakdirkan untuk diam. menjadikan petaka bagi dirinya
sendiri maupun keluarga gadis belia
Timbulnya kesadaran
tersebut. Hal itu dapat ditunjukkan
semacam itu didasari oleh banyak
dalam kutipan berikut di bawah ini.
hal. Diantaranya kesadaran atas
keuntungan salah satu pihak dan “Kau tinggalkan rumah ini! Bawa
seluruh perhiasan dan pakaian.
kesadaran atas adanya pihak lain
Semua yang telah kuberikan
padamu. Bapakmu sudah
yang dirugikan. Kutipan novel di
kuberikan uang kerugian, cukup
atas memberikan pandangan bahwa buat membeli dua perahu
sekaligus dengan segala
sikap Bendoro terhadap gadis belia
perlengkapannya. Kau sendiri,
tersebut menurut Said (2010: 347) ini...,” Bendoro mengulurkan
kantong berat berisikan mata uang
menunjukkan adanya unsur pesangon. “Carilah suami yang
baik, dan lupakan segala dari
kepemimpinan ramah manusia kulit
gedung ini. Lupakan aku, ngerti?”
putih, dengan cara pemaksaan “Sahaya, Bendoro.”
“Dan ingat. Pergunakan pesangon
secara halus melalui perutusan
itu baik- baik. Dan...tak boleh
sekali- kali kau menginjakkan
untuk membawa tokoh gadis belia
kaki di kota ini. Terkutuklah kau
tersebut ke kota untuk dijadikan bila melanggarnya. Kau dengar?”
“Lantas ke mana dia boleh pergi
selirnya. Selain itu adanya unsur
Bendoro?” bapak memprotes.
“Ke mana saja asal tidak di bumi
budaya kapitalis Bendoro sebagai
kota ini.”
golongan priyayi yang ditunjukkan “Sahaya, Bendoro.”
“Apalagi mesti kukatakan? Dokar
dengan diberikan kegelimangan
itu sudah lama menunggu.”
harta dan status sosial dengan dalih “Anak ini, tuanku, bagaimana
nasib anak ini?” Gadis Pantai
akan dijadikan wanita utama yang memekikan rintihan.
“Anak itu? Apa guna kau
secara otomatis dapat menaikkan
pikirkan? Banyak orang bisa urus
derajat diri maupun keluarga tokoh dia. Jangan pikirkan si bayi.”
“Mestikah sahaya pergi tanpa
gadis belia, meskipun sebenarnya
anak sendiri? Tak boleh balik ke
kota untuk melihatnya?”
yang terjadi justru gadis belia
“Lupakan bayimu. Anggap dirimu
dijadikan selir Bendoro. tak pernah punya anak.”
Gadis Pantai tersedan-sedan.
Potret Kekejaman Kaum Feodal... (Sidiq Satrio Mandiri) 779
“Sahaya harus berangkat, mencari laki-laki lain yang
Bendoro, tanpa anak sahaya
sekiranya lebih baik daripada
sendiri?”
“Aku bilang kau tak punya anak.
Bendoro. Nasib tokoh gadis belia
Kau belum pernah punya anak.”
“ Sahaya, Bendoro.” sebagai selir dalam masyarakat
“Pergilah.”
novel yang dilatarbelakangi oleh
“Tanpa anak ini perhiasan dan
uang pesangon tanpa artinya, pascakolonial pada akhirnya tak
Bendoro.”
“Kau boleh berikan pada si bayi.” lain hanya sebagai pemuas tuannya.
Baik Bapak maupun Gadis Pantai
terdiam kehabisan kata. Dan
b. Abdi
Bendoro menggoyang- goyangkan
kursinya. Apabila melihat pengertian
Gadis Pantai pun berjalan berlutut
dan fungsinya, abdi merupakan
mundur-mundur kemudian pergi
diikuti oleh bapak. Sesampainya merujuk pada orang bawahan;
di kamar ia segera memeluk
bayinya. pelayan; hamba dalam novel ini
“ Maafkan aku, anakku, tiada
menggambarkan perlakuan kasar
kusangka akan begini akhirnya.”
(Gadis Pantai, hlm. 257- 258). dan tidak manusiawi Bendoro
sebagai perwakilan dari kaum
Kutipan di atas secara
feodal dalam konteks priyayi
sederhana hendak menggambarkan
terhadap bujang wanita sebagi
bahwa dalam posisinya sebagai
perwakilan dari rakyat jelata.
selir dan sebagai individu yang
Berikut kutipannya di bawah ini.
lemah, gadis belia yang menjadi
Nampak seorang pria bertubuh
selir Bendoro boleh dikatakan
tinggi kuning langsat berwajah
tidak memiliki hak apapun. Gadis agak tipis dan berhidung
mancung. Ia berkopiah haji dan
belia dalam kutipan tersebut pada
berbaju teluk belanga dari sutera
putih dan bersarung bugis hitam
akhirnya tidak memiliki hak atas
dengan beberapa genggang putih
posisinya sendiri sebagai selir, tipis-tipis. Ia lihat orang itu
membangunkan bujang dengan
apalagi hak atas anak yang
kakinya. Dan bujang itu bangun,
cepat-cepat menggulung tikar
dilahirkan dari rahimnya. Setiap
dengan bantal di dalamnya,
saat mereka dapat ditinggalkan oleh merangkak mundur kemudian
berdiri membungkuk, keluar
suami yang juga majikannya.
dari pintu lenyap dari
Bahkan gadis belia tersebut pandangan. (Gadis Pantai, hlm.
31).
diberikan perintah untuk segera
Description:PRAMOEDYA ANANTA TOER. PORTRAIT OF A FEUDAL jelata, sehingga sudah sepantasnya untuk dihormati dalam situasi apapun (3) perspektif.