Table Of ContentBAB III
A. HASIL PENELITIAN
1. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Luas kecamatan Kota waikbubak 44,71 km2 dengan ketinggian 200-600
meter dari permukaan laut. Kecamatan kota waikabubak merupakan wilayah
administratif dan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Sumba Barat.
Secara geografis kecamatan kota waikabubak memiliki batas-batas geografis adalah
sebagai berikut:
1) Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Wanukaka
2) Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Loli
3) Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Loli
4) Sebelah Timur berbatasan dengan Sumba Tengah
Keadaan iklim kecamatan Kota Waikabubak terjadi dua musim secara
bergantian pada setiap tahun yaitu musim hujan mulai dari bulan November sampai
dengan bulan Mei dan musim kemarau mulai bulan Juni sampai dengan bulan
November. Jumlah penduduk kecamatan Kota Waikabubak pada tahun 2009 yaitu
berjumlah 23098 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2
Jumlah Penduduk Kecamatan Kota Waikabubak Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2009
Kec. Kota Kepala Laki-laki Perempuan Jumlah
waikabubak keluarga
4.680 11.762 11.336 23098
55
Sumba Barat dalam angka tahun 2010
Kecamatan kota Waikabubak terdiri dari 5 kelurahan dan 7 Desa, yaitu sebagai
berikut :
1. Kelurahan Komerda.
2. Kelurahan Maliti.
3. Kelurahan Kampung Sawah.
4. Kelurahan Kampung Baru.
5. Kelurahan Padeeweta.
6. Desa Kalimbukuni.
7. Desa Tebara.
8. Desa Sobarade.
9. Desa Kodaka.
10. Desa Modu Wemaringu.
11. Desa Lapale.
12. Desa Puumawo.
2. KEADAAN SOSIAL BUDAYA
1) Agama
Agama adalah keyakinan hidup rohani pemeluknya, baik perseorangan
maupun kelompok. Oleh karena itu agama merupakan suatu kesatuan moral yang
paling mendasar serta mempunyai andil yang besar dalam kehidupan manusia yang
didalamnya terdapat ajaran yang menentukan, membimbing serta mengarahkan pada
56
interaksi manusia, baik terhadap Tuhan, sesama, dan terhadap lingkungan sekitarnya.
Budaya orang loli (Marapu) tidak selalu sejalan dengan agama resmi yang sering
dianggap produk kebudayaan asing, meskipun sekarang sudah banyak yang
membaurkan antara budaya Sumba dan kebudayaan dari luar Sumba. Bentuk
pembauran ini antara lain tampak dari perkawinan orang kristen Sumba yang harus
membawa Belis secara adat istiadat, setelah itu baru nikah secara kristen.41
Penduduk kecamatan Kota Waikabubak mayoritas menganut agama Kristen
Protestan dan Katolik. Namun masyarakat di kecamatan Kota Waikabubak masih ada
yang menganut agama suku atau aliran kepercayaan Marapu. Marapu adalah suatu
kepercayaan kepada arwah para leluhur yang diyakini mampu memeberikan
keselamatan dan ketentraman serta kekuatan tertinggi yang disebut amola ama rawi,
yang artinya yang membuat dan menciptakan.42
Pada tabel 3 berikut ini, ditampakkan data jumlah penduduk di kecamatan
Kota Waikabubak sesuai agama yang dianut.
Tabel 3
Jumlah Penduduk Beragama di Kecamatan Kota Waikabubak
Kec. Kota Islam Kristen Katolik hindu bhudha Lain-lain Jumlah
Waikabubak (Marapu)
5442 10629 6603 188 - 727 23589
Sumba Barat dalam angka 2010
Untuk data di atas perlu dipahami bahwa meskipun mayoritas pemeluk agama
resmi, tetapi tidak semuanya adalah penghayat murni agama Kristen, Katolik, Islam,
41wawancara dengan pale seingu tua adat marapu. tanggal 8 mei 2011 pukul 16.00-17.30 WIB.
42wawancara dengan Tagubore Nono, salah satu penganut marapu. tanggal 18 mei 2011 pukul 11.00-
01.30 WIB.
57
dan Hindu. Di dalam pemeluk agama resmi di antaranya ada pemeluk Marapu yang
terpaksa memilih agama Kristen, Katolik, Islam, dan Hindu yang merupakan agama
mayoritas di Sumba.
Dengan demikian, ada dua kategori penganut Marapu, yakni penghayat murni dan
pemeluk marapu tidak murni.
2) Pendidikan
Perkembanmgan pendidikan di kecamatan Kota Waikabubak sangat maju
sesuai dengan irama perkembangan zaman dan mendapat perhatian penuh dari orang
tua dan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Pendidkan merupakan suatu
bidang pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya
manusia (SDM), yang dapat di handalkan dalam pembangunan di berbagai bidang
kehidupan.
Secara prinsipil pendidikan merupakan upaya untuk membawa individu agar
mengalami perubahan perilaku dalam hidupnya. Fasilitas-fasilitas pendidikan yang
ada di kecamatan Kota Waikabubak Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4
sebagai berikut:
Tabel 4
Banyak Sekolah, Guru, dan Murid di kecamatan Kota Waikabubak
Tahun 2010
Tingkatan Jumlah Jumlah guru Jumlah
Pendidikan Sekolah Murid
TK 9 53 536
SDN/Swasta 14 424 4996
SMPN/Swasta 8 248 2142
58
SMAN/Swasta 5 47 2252
SMK 1 63 862
Sumba barat dalam angka 2010
3) Bahasa
Bahasa daerah yang terdapat pada kecamatan Kota Waikabubak adalah bahasa
Loli, dalam aktifitas sehari-hari yang bersifat in formal dapat digunakan bahasa Loli
atau bahasa Indonesia, sedangkan pada kegiatan yang berifat formal masyarakat
menggunakan bahasa indonesia. bahasa loli diwariskan secara turun temurun, bahasa
diwarisi setiap kelompok masyarakat terasa kedudukan dan peranannya akan sangat
penting bila ada aktifitas adat yang dilakukan secara bersama-sama seperti upacara
kematian, upacara perkawinan dan upacara panen.
Dalam kehidupan masyarakat Sumba Barat pada umumnya dan kecamatan
Kota Waikabubak pada khususnya bahwa bahasa merupakan alat komunikasi bagi
masyarakat. Karena bahasa sebagai alat komunikasi, maka bahasa merupakan
cerminan dari salah satu unsur kebutuhan yang universal. Bahasa daerah seperti
bahasa Loli memilki dialek yang berbeda-beda tetapi artinya sama.
4) Budaya
Orang Loli memiliki budaya dan ritual-ritual atau acara-acara adat yang
sangat khas, ritual atau acara budaya ini tidak terlepas adanya pengaruh dari
kepercayaan marapu itu sendiri misalnya pada acara perkawinan dan kematian. Acara
atau ritual yang juga sering diadakan yang berkaitan dengan aliran kepercayaan
Marapu, antara lainnya sebagai berikut :
59
a. Wulla Poddu
Wulla podu adalah salah satu ritual atau acara aliran kepercayaan marapu
dimana “wulla” berarti bulan dan “poddu” berarti suci. Jadi wulla podu berarti bulan
suci. Pada saat wulla poddu dilaksanakan ada beberapa larangan yang tidak boleh
dilanggar oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali, meskipun ia bukan orang
kepercayaan marapu. Larangan-larangan itu antara lain pada saat wulla podu
berlangsung semua orang dilarang membuat rumah, membunyikan gong atau alat-alat
yang berbunyi keras, dilarang masuk kebun, dan dilarang memotong hewan (kerbau,
kuda dan sapi) pada saat acara penguburan.
b. Pasola
Pasola adalah acara budaya orang wanokaka yaitu merupakan salah satu adat
istiadat orang marapu, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba. ada
tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu
warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut untuk mencari makanan dan mereka
tidak kembali dalam waktu yang lama dan dinyatakan meninggal oleh seluruh
rakyatnya. Rabu kaba istri dari umbu dula mendapat pelabuhan hati Rda Gaiparona
asal Kampung Kodi. Namun adat tidak menghendaki perkawinan mereka, sehingga
mereka nekat melakukan kawin lari.
Beberapa waktu berselang, ke tiga pemimpin warga Waiwuang ternyata belum
meninggal dan warga waiwuang pun bersukacita. Umbu Dulla menanyakan perihal
istrinya rabu kaba, “Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke
60
Kampung Kodi,” jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang
dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang lagi mabuk kepayang itu. Akhirnya
keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.
Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula
namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona tidak ingin
kembali. Ia tidak mau dipisahkan lagi. Kemudian Rabu Kaba meminta
pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari
keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis
pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan
Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.
Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga
Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan
kesedihan mereka karena kehilangan Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun
warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka, di Sumba Barat mengadakan bulan
(wula) nyale dan pesta pasola.
Meskipun acara ini dilaksanakan oleh orang wanokaka tapi ada juga dari suku
loli yang turut ambil bagian dalam ritual ini pada setiap tahunnya.
c. Ritual agraris (paba/o’uma marapu)
Sawah atau ladang ini adalah milik marapu itu sendiri dimana pada saat
menyebar bibit, tanam dan pada saat panen dilakukan ritual-ritual khusus seperti
memukul gong dan memotong ayam atau babi yang dipersembahkan kepada marapu.
61
d. Yaiwo
Acara ini sering dilakukan oleh orang marapu, acara ini sama halnya dengan
berdoa atau melakukan pemujaan kepada marapu yang dilakukan dengan cara khusus
dan untuk hal-hal tertentu juga, misalnya para rato adat melakukan yaiwo untuk
orang yang mati dalam medan perang/terbunuh dengan senjata tajam, biasanya orang
mati akan dikubur dalam batu kubur dan harus adanya penyembelihan ternak seperti
halnya kebudayaan orang Sumba pada umumnya, tetapi unutk kematian seperti ini
mayat akan dikubur dalam tanah dan tidak dilakukan penyembelihan ternak, maka
yaiwo dilakukan untuk pengambilan arwah di tempat matinya orang tersebut dan agar
arwahnya bisa tenang dan tidak gentanyangan.
Ritual yaiwo juga dilakukan untuk orang yang berzinah, orang akan
memasuki rumah baru dan peresmian rumah marapu atau tempat penyimpanan
marapu itu sendiri.
3. PAMAHAMAN TENTANG MARAPU MENURUT PENGANUT
DAN APARATUR PEMERINTAH
a. Pemahaman tentang Marapu menurut penganutnya
1) Pengertian marapu menurut penganut
Bagi penganut Marapu sendiri, Marapu adalah suatu kepercayaan kepada
arwah para leluhur yang diyakini mampu memberikan keselamatan dan ketentraman
serta kekuatan tertinggi yang disebut amola ama rawi, yang artinya yang membuat
62
dan menciptakan.43 Marapu bagi penganutnya juga berarti roh nenek moyang yang
memberikan keselamatan, kehidupan, dan segala berkat baik dalam berkebun dan
bersawah bagi anak cucunya yang masi hidup44, dan merupakan sesuatu yang tidak
dapat dilihat dan bersembunyi di atas langit sebagai nenek moyang yang memeberi
berkat bagi manusia.45
2) Pandangan penganut Marapu terhadap agama resmi
Bagi penganut Marapu, Marapu adalah sistem keyakinan yang setara dengan
agama resmi yang lain berdasarkan kriteria kepercayaan kepada pencipta, mereka
setara dengan agama lain, agama resmi percaya dengan adanya pencipta begitu pun
dengan aliran kepercayaan Marapu,46 oleh karena itu orang Marapu juga menyembah
Marapu sebagai tuhan yang maha kuasa,47 sebagai tujuan hidup dalam
penyembahan48. Marapu dan budaya adalah satu, dalam budaya ada Marapu itu
sendiri.49
Berkaitan dengan agama resmi ada dua pandangan yang hidup di antara
penganut Marapu. Pandangan pertama menganggap bahwa agama resmi bertentangan
43 wawancara dengan Tagubore Nono penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 18 mei 2011 pukul
11.00-01.30 WIB.
44 wawancara dengan Pale Seingu penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 8 mei 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
45 wawancara dengan Dukka Bongo penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 4 juni 2011 pukul
10.00-12.00 WIB.
46 wawancara dengan Rowa dima penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 8 juni 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
47 wawancara dengan Tagubore Nono penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 18 mei 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
48 wawancara dengan Pale seingu penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 8 mei 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
49 wawancara dengan Dukka bonggo penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 4 juni 2011 pukul
10.00-12.00 WIB.
63
dengan Marapu karena adat istiadat berbeda dengan agama resmi.50 Pandangan yang
kedua Marapu tidak bertentangan dengan agama-agama yang ada, tapi dalam segi
pelaksanaan upacara adat penganut aliran kepercayaan Marapu berbeda dengan
agama-agama yang ada dalam cara penyembahan dan pengucapan dalam bahasa
adat,51 perbedaanya hanya terdapat pada cara penyampaiannya,52 tetapi banyak dari
penganut aliran kepercayaan Marapu yang sekarang masuk agama lain, karena di
ajak dengan berbagai cara.53
Meskipun demikian, para penganut Marapu yang menjadi responden
beranggapan bahwa implementasi Marapu secara penuh tidak bisa sejalan, hal ini
tidak bisa dilakukan karena penganut aliran kepercayaan Marapu sudah punya
Marapu sebagai a ma wolla a ma rawi yang menjadi sumber berkat dalam
kehidupan,54 pada sisi lain menurut penganut aliran kepercayaan Marapu, Marapu
hanya ada satu55 dan hanya bisa menjalankan adat saja yang sesuai dengan Marapu.56
Para penganut Marapu yang telah diwawancara menyatakan hanya memeluk
Marapu saja, alasannya karena telah meyakini Marapu itu dari kecil dan
50 wawancara dengan Rowa dima penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 8 juni 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
51 wawancara dengan Tagubore nono penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 18 mei 2011 pukul
11.00-01.30 WIB.
52 wawancara dengan Dukka bonggo penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 4 juni 2011 pukul
10.00-12.00 WIB.
53 wawancara dengan Pale seingu penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 8 mei 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
54 wawancara dengan Rowa dima penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 8 juni 2011 pukul
16.00-17.30 WIB.
55 wawancara dengan Tagubore nono penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 18 mei 2011 pukul
11.00-01.30 WIB.
56 wawancara dengan Dukka bonggo penganut aliran kepercayaan marapu. tanggal 4 juni 2011 pukul
10.00-12.00 WIB.
64
Description:Budaya orang loli (Marapu) tidak selalu sejalan dengan agama resmi yang sering yang menganut agama suku atau aliran kepercayaan Marapu.