Table Of Contentu m r a n i s m e
Penjelajahan Niat Arsitektur untuk Membangun Adab
Ilya Fadjar Maharika
cover.indd 1 6/13/18 18:10
Penjelajahan Niat Arsitektur untuk Membangun Adab
Ilya Fadjar Maharika
i
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Maharika, Ilya Fadjar
Umranisme, Penjelajahan Niat Arsitektur untuk Membangun Adab
Ilya Fadjar Maharika; Yogyakarta:
Universitas Islam Indonesia, 2018.
-- 118 hlm.; 21x25 cm.
ISBN: 978-602-450-261-4 (cetak)
ISBN: 978-602-450-262-1 (elektronik)
Seri Referensi Islam dalam Disiplin Ilmu Arsitektur dan Urbanisme
Seri Referensi Socius Design
Umranisme, Penjelajahan Niat Arsitektur untuk Membangun Adab
©2018 Ilya Fadjar Maharika
Tata letak dan ilustrasi: Raka Affa Maharika
Diterbitkan oleh
Universitas Islam Indonesia
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak atau
memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara
elektronik ataupun mekanik termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Dicetak di Yogyakarta, cetakan pertama 2018
ii
Isi
Isi iii
Pengantar iv
Peristilahan vi
Daftar Gambar vi
Niat Arsitektur: Mukadimah
Pertanyaan dan Dugaan 2
Peta Metodologis 5
Susunan Pemikiran 10
Kegagalan Arsitektur
Arsitektur Siap Saji 14
Rejim Keindahan Visual 18
Motif Ruang Insuler 24
Rongga dan Selubung 33
Arsitektur Organisasi Sosial
Menjaga kehidupan dengan rongga biologis 37
Menjaga kestabilan relatif dengan rongga atmosferik 38
Motif organisasi sosial dengan rongga antropogenik 40
Niat Berarsitektur 58
Arsitektur Peradaban
Pondasi Peradaban: ruang dan waktu 63
Asal Muasal Bentuk 68
Teknologi Bentuk Hidup 74
Keindahan Bentuk Hidup 84
Estetika Keutuhan Alamiah 88
Umranisme: Catatan Akhir
Tantangan Umranisme: Desakota 95
Merancang Berwawasan Umranisme 106
Pustaka 110
Indeks 116
iii
Pengantar
Dalam pencarian substansi untuk mata kuliah Teori Arsitektur dan Perkotaan
seringkali para dosen lebih banyak mengeksplorasi teori yang telah berkembang
- yang sebagian besar berakar pada tradisi dan sejarah arsitektur Barat. Buku ini
adalah sebuah upaya membuka wacana arsitektur bukan semata sebagai deretan
teori (Barat) ataupun merangkai kembali kedudukan teori dalam arsitektur yang
sudah dikenal saat ini dalam suatu kerangka totalitas arsitektur. Buku ini berupaya
mengkaitkan antara arsitektur dengan persoalan keseharian baik dalam dimensi
besar seperti negara ataupun dalam dimensi kecil seperti pedagang kaki lima.
Namun alih-alih menggunakan kembali teori yang sudah sering dibahas, bacaan
ini berusaha membangun kesadaran baru agar kita berani membangun teori-teori
baru yang berbasis persoalan kita di Indonesia. Dengan demikian melalui bacaan
ini pembaca diminta untuk terus mendialogkan antara pengalaman sendiri
dengan refleksi-refleksi dalam buku ini. Tentu saja, membacanya mungkin
tidak terlalu mudah. Namun demikian diharapkan dosen, mahasiswa, dan
arsitek muda maupun profesional serta para perancang kota dengan dapat mulai
memahami relasi antara arsitektur dalam pemahaman yang seluas mungkin
dengan persoalan-persoalan masyarakat kita dan mulai membangun teori atau
bernarasi dan kemudian memilih dan menggunakan teori itu dalam konteks yang
setepat-tepatnya untuk desain mereka. Dalam upaya itu penulis terinspirasi pada
buku hebat yang ditulis oleh Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Namun menyadari
keduafaan penulis dalam merujuk pada teks asli maka dalam projek penulisan
buku ini penulis menyandarkan pada terjemahan dari Franz Rosenthal yang
cukup banyak beredar di internet.
Rangkaian gagasan yang tertuang dalam bab-bab di buku ini tak lepas dari
dukungan banyak pihak. Pertama ada orang-orang di sekeliling penulis, Retno
Danarti, yang selalu memberi semangat dengan kecintaannya menulis, RA.
Arasya, yang turut membantu dalam pekerjaan tata letak dan ilustrasi yang dapat
merenyahkan buku ini, dan RA. Ardhya serta RA. Ahsantya yang senantiasa
mendorong segera terbitnya buku ini. Kedua adalah rekan-rekan kerja di Jurusan
Arsitektur Universitas Islam Indonesia yang sering menodong dengan ungkapan
menunggu buku ini. Di antaranya adalah Noor Cholis Idham, PhD. IAI. selaku
Ketua Program Studi Arsitektur Program Sarjana, Suparwoko, PhD. IAI. Ketua
Program Studi Arsitektur Program Magister dan Saifudin Mutaqi, MT. IAI.
AA. selaku Ketua Program Studi Program Profesi Arsitek. Harapan penulis,
buku ini dapat menjadi bahan bacaan bagi dosen dan mahasiswa di jenjang
pendidikan tersebut baik di dalam maupun di luar Universitas Islam Indonesia
serta menginspirasi para arsitek dan perancang kota profesional. Kontribusi
iv
kritis para mahasiswa utamanya yang pernah penulis bimbing baik di Studio
Perancangan Arsitektur 7 maupun Projek Akhir Sarjana di Universitas Islam
Indonesia, juga menjadi bagian dari proses pematangan gagasan di buku ini.
Untuk kontribusi tersebut penulis menyampaikan apresiasi mendalam walau tak
mungkin menyebut mereka satu per satu.
Buku ini juga merupakan abstraksi dari hasil Hibah Penelitian Terapan Unggulan
Perguruan Tinggi (PTUPT) yang diterima penulis bersama Ari Sujarwo, S.Kom.,
MIT (Hons), Medilla Kusriyanto, ST., M.Eng. dan Dr.-Ing. Widodo B. MSc.
dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Penelitian ini berjudul
“Pengembangan Desain dan Prototip “Prasarana Data Lingkungan” Berteknologi
Internet of Things untuk Pemantauan dan Perencanaan Kualitas Lingkungan di
Wilayah Perkotaan Informal: Studi Kasus Kampung Terban Yogyakarta” yang
berlangsung sejak 2017. Oleh karenanya penulis mengapresiasi dukungan rekan-
rekan peneliti. Secara khusus saya sampaikan juga terima kasih kepada Prof.
Yandi Andri Atmo, Ph.D. Guru Besar Arsitektur Universitas Indonesia atas
komentar dan diskusinya yang selalu menyegarkan. Demikian pula kepada Nur
Kholis, S.Ag., M.Sh.Ec. dan Fathul Wahid, PhD. yang bersamanya membangun
pemikiran tentang integrasi pengetahuan di Universitas Islam Indonesia.
Buku ini ditulis bukan sebagai interpretasi arsitektural dari buku Muqaddimah,
melainkan eksperimentasi pemikiran dengan melumatnya bersama pemikiran
kontemporer seperti Christopher Alexander, Gilles Deleuze dan Peter Sloterdijk.
Sebagai bagian upaya untuk memetakan produksi arsitektur ala Indonesia,
umranisme yang diambil menjadi judul ini diharapkan merupakan eksperimentasi
pemikiran arsitektural yang integratif. Diharapkan integrasi baru ini dapat
menciptakan arsitektur yang secara langsung memihak pada usaha untuk mencari
relasi yang lebih tebal antara arsitektur sebagai ilmu merancang dan dimensi-
dimensi sosial bahkan hingga ke dimensi keyakinan. Akhir kata, semoga buku ini
bermanfaat dan dapat memberi inspirasi dalam berkarya maupun dalam hidup
dan menghidupkan umran.
Ilya Fadjar Maharika,
Yogyakarta, 2 April 2018
v
Peristilahan
Umran Ungkapan asli dalam bahasa Arab adalah ‘umran (dibaca dengan
ain) namun sesuai dengan transliterasi ke bahasa Indonesia ditulis
umran (tidak memakai apostrop untuk menunjukkan ain). Walaupun
merupakan istilah yang dianggap asing, umran ini sengaja tidak dicetak
miring (italic) sebagai upaya memasukkan ke bahasa Indonesia sebagai
salah satu unsur serapan.
Daftar Gambar
Gambar 1 Dusun di Sleman, Yogyakarta yang masih menggambarkan kekuatan
hak alam (observasi 2012) (hal. viii)
Gambar 2 Arsitektur yang apa adanya (Dieng, foto atas) dan arsitektur sebagai
pencapaian sofistikasi yang dapat dimaknai sebagai ekspresi berlebihan
(Kuala Lumpur, foto bawah (observasi Dieng 2016; Kuala Lumpur
2017) (hal.10)
Gambar 3 Arsitektur siap saji yang diproduksi oleh korporasi dan menjadi modus
global pembentuk homo consumens (observasi 2015) (hal. 14)
Gambar 4 Konsep arsitektur siap saji berkembang menjadi motif insuler:
perumahan berpagar yang mengubah keamanan menjadi segregasi sosial
berbasis status ekonomi (observasi 2005-6) (hal. 30)
Gambar 5 Arsitektur sebagai pencipta entropi, foto atas menunjukkan peluruhan
alami tembok lama di Lasem (observasi 2014), foto bawah menunjukkan
peluruhan kualitas kota secara mekanis di Kuala Lumpur (observasi
2017) (hal. 32)
Gambar 6 Dunia rongga renik dan selubungnya yang merupakan ekspresi
arsitektural alami (hal. 36)
Gambar 7 Rupa ruang lembut: Waduk Sermo di Kulon Progo, rupa terpetak:
kota Hongkong, pemetakan dengan pagar di kampung di pinggiran
Yogyakarta (observasi 2015, foto Hongkong oleh Raka Affa) (hal. 67)
Gambar 8 Kertas tisu yang diperbesar 51o kali (foto koleksi Laboratorium Terpadu
Universitas Islam Indonesia), dan kampung (observasi 2015) dapat
melebur dualisme geometris dan organis (hal. 76)
Gambar 9 Gambaran umranisme sebagai relasi antar konsep (hal. 96)
Gambar 10 Penalaran abduktif untuk membangun konsep-konsep spasial baru
berbasis umranisme (hal. 107)
Gambar 11 Lingkungan berimbang antara hunian dan bercocok tanam, desakota
di luar kota Guangzhou, China (hal. 109)
vi
Dan berapalah banyaknya kota yang Aku
tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang
penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab
mereka, dan hanya kepada-Kulah kembalinya
(segala sesuatu).
Alquran Surat Al Hajj Ayat 48
Untuk membangun kemitraan melalui arsitektur.
vii
Gambar 1. Dusun di Sleman, Yogyakarta
yang masih menggambarkan kekuatan hak
alam (observasi 2012)
viii
1
Niat Arsitektur: Mukadimah
Arsitektur saat ini sedang sakit, mungkin sedang mendekati kematian
dan membawa kehancuran. Pernyataan provokatif ini dijadikan wacana
pembuka untuk mengingatkan kita, para arsitek, dosen arsitektur,
mahasiswa, pemerhati serta masyarakat luas, bahwa arsitektur sebagai
sebuah kriya membangun pelingkup dan selubung - sebuah art of enclosure
- ataupun kriya rongga - art of space - sangat kuat pengaruhnya dalam
menciptakan atau justru menghancurkan peradaban manusia. Niat
menulis buku ini didorong oleh petikan ayat Alquran. Hampir seluruh
cerita di Kitab tersebut yang membicarakan kota selalu berakhir dengan
kehancuran. Kota seakan identik dengan suatu jenjang arsitektur yang
menunjukkan capaian tertinggi umat manusia tetapi sekaligus sinyal
datangnya kehancuran peradaban. Indikasi utama penyebab hancurnya
peradaban yang disebabkan azab Tuhan tersebut adalah hilangnya adab.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adab menjadi akar kata peradaban
dan dimaknai sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan
serta akhlak (https://kbbi.kemdikbud.go.id). Nilai ini yang sepertinya
lambat namun pasti menghilang dari niat utama kita membangun
arsitektur dan kota-kota.
Buku yang merupakan sebuah kajian teoritis wacana arsitektural dan
urbanisme ini sengaja mencampuradukkan atau menyejajarkan arsitektur
dan rancang kota sebagai sebuah rumpun yang tak terpisahkan. Memang
terkadang keduanya dipisah ketika konteks pembicaraannya menjadi
khusus. Namun secara umum buku ini membawa pesan bahwa keduanya
adalah sebuah ilmu alat untuk menerjemahkan gagasan menjadi kenyataan,
sebuah aksi penciptaan yang barangkali lantas mengingatkan kita pada
sebuah sifat ketuhanan “maha pencipta” - hanya saja dalam bentuk yang
jauh disederhanakan. Melalui judul buku ini, umranisme, penulis hendak
menunjukkan ketidakcukupan wacana urbanisme yang saat ini kita miliki
1
Description:jarak, ketakutan, ketegangan, permusuhan, ketidaksetaraan maupun keterasingan. langsung dengan kekuatan alam (misalnya overhang).