Table Of ContentNusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
PENGOLAHAN AIR LINDI DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROB-AEROBDAN
DENITRIFIKASI
LeachateTreatmentUsing Anaerobic-AerobicBiofilter and Denitrification Process
Oleh :
Nusa Idaman SaiddanDinda Rita Krishumartani Hartaja
Pusat Teknologi Lingkungan,BPPT
Abstrak
Pengolahan lindi sebagian besar TPA di Indonesia, masih menggunakan teknologi sistem kolam,
yaitu menggunakan kolam penampung, kolam anaerobik, kolam aerobik, kolam stabilisasi, dan
dilanjutkan dengan menggunakan wet land. Kelemahan teknologi tersebut adalah waktu tinggal
yang relatif lama yakni antara 30–50 hari, sehingga bangunan kolam membutuhkan lahan yang
cukup luas. Selain itu hasil olahan lindi masih di atas baku mutu yang diijinkan untuk dibuang ke
badan lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satu alternatif adalah
pengolahan lindi dengan menggunakan kombinasi proses biofilter anaerob–aerob dan
denitrifikasi. Dengan teknologi tersebut diharapkan mampu mempersingkat waktu tinggal,
sehingga lahan yang diperlukan untuk pengolahan lindi tidak terlalu luas. Hasil olahan lindi juga
diharapkan dapat memenuhi baku mutu yang diijinkan untuk dibuang kelingkungan.Pengolahan
air lindimenggunakan proses biofilter anaerob-aerob dan proses denitrifikasidengan total waktu
12 hari, yakni waktu tinggal di dalam reaktor anaerobik 8 (delapan) hari, waktu tinggal di dalam
reaktor aerobik 3 (tiga) hari dan waktu tinggal di dalam reaktor denitrifikasi 1 (satu) hari dapat
dihasilkan efisiensi penyisihan COD sebesar 97% , efisiensi penyisihan amoniak 97,56%, efisiensi
penisihan TSS 87,5 %, dan efisiensi penyisihan nitrat sebesar 86,4 %
Kata Kunci :Biofilteranaerob-aerob, denitrifikasi, lindi.
Abstract
Most of the leachate treatment in Indonesia using pond system, that is maturation ponds,
anaerobic ponds, stabilization ponds, and continued using wetland. The weakness of this
technology is longretention time (between 30-50 days), thus the building a pond requires a wide
area. In addition, the processed leachate is over quality standards to be discharged into the
environment agency. To overcome these problems, one alternative is to use a combination of
processing leachate within anaerobic-aerobic biofilter and denitrification. The technology is
expected to shorten the residence time, so that the land required for the processing of leachate is
not too extensive . The processed leachate is also expected to meet the quality standards are
allowed to be discharged into the environment. Leachate treatment using anaerobic - aerobic
biofilter and the denitrification process with a total hidraulic retention time of 12 day, the
retention time in the anaerobic reactor 8 ( eight ) days , the retention time in the aerobic reactor 3
(three) days and retention time in the denitrification reactor 1 (one) day can be generated COD
removal efficiency of 97 %, ammonia removal efficiency of 97.56 %, TSS removal efficiency 87.5 %
, and nitrate removal efficiency of 86.4 %
Keywords :Anaerob-aerob biofilter, denitrification, leachate.
1. PENDAHULUAN pengumpulan dan pengolahan air lindi sebelum
dibuang ke perairan umum (Farquhar, 1989). Oleh
1.1 Permasalahan Air Lindi karena itu, perlu mengembangkan pilihan opsi yang
dapat diandalkan serta berkelanjutan dalam hal
Masalah lingkungan utama di lokasi tempat pegelolaan serta pengolahan air lindi yang efektif. Di
pembuangan akhir (TPA) sampah adalahinfiltrasi air dalam merancang sistem pengolahan air lindi maka
lindi dan selanjutnya akan mencemari tanah dan prosesnya harus dapat mengolah air lindi yang
akuifer sekitarnya. Perbaikan di bidang teknologi TPA berasaldari TPA untuk perioda yang lama.
ditujukan untuk mengurangi produksi air indi,
1
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
Saat ini pengelolaan sampah di Indonesia 2. TINJAUAN PUSTAKA
khususnya sampah domestik, sebagian besar
menggunakan sistem TPA open dumping. Pada 2.1 Teknologi Pengolahan Lindi Di Indonesia
kondisi pengelolaan seperti ini, sebagian besar
Air lindi (leachate) adalah limbah cair yang
sampah hanya ditumpuk dalam suatu area TPA yang
timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam
terbuka. Sehingga pada saat hujan, air rembesan
timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi
sampah yang dikenal dengan air lindi akan keluar.
–materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil
Dan apabila tidak dikelola dan diolah dengan benar,
proses dekomposisi biologis. Dari sana dapat
maka akan berpotensi mencemari lingkungan sekitar.
diramalkan bahwa kuantitas dan kualitas air lindi
Dalam kebanyakan TPA, air lindi terbentuk
akan sangat bervariasi dan berfluktuasi (Rowe dan
oleh rembesankadar air dalam sampah maupun oleh
Booker, 1997). Air lindi dapat didefinisikan sebagai
sumber-sumber dari luar seperti pengaruh drainase,
cairan yang menginfiltrasi melalui tumpukan sampah
air hujan dan lain sebagainya yang melalui tumpukan
dan telah mengekstraksi material terlarut maupun
sampah. Air lindi mengandung polutan padatan
tersuspensi (Tchobanoglous, 1993). Dikebanyakan
tersuspensi dan terlarut, zat - zat kimia baik organik
tempat pembuangan akhir sampah (TPA), air lindi
maupun anorganik yang terkandung dalam sampah
terbentuk dari cairan yang memasuki area landfill
yang konsentrasinya cukup tinggi seperti amonia,
dari sumber - sumber eksternal, seperti drainase
nitrat, nitrit, sulfida, logam berat, nitrogen dan lain
permukaan, air hujan, air tanah, dan cairan yang
sebagainya. Dengan tingginya konsentrasi polutan,
diproduksi dari dekomposisi sampah, sedangkan air
maka potensi pencemaran terhadap lingkungan
lindi yang ditimbulkan dari kadar air yang terkandung
sangat besar. Oleh karena itu perlu dicari teknologi
dari dalam sampah dapat diabaikan dalam
yang tepat untuk dapat mengolah air lindi sampai air
perhitungan, karena jumlahnya yang relatif kecil.
hasil olahannya tidak berbahaya terhadap
Air lindi secara luas dapat juga didefinisikan
lingkungan.
sebagai cairan yang dihasilkan dari dekomposisi
Pengolahan lindi sebagian besar TPA di
sampah dan infiltrasi air hujan di TPA. Di dalam air
Indonesia, masih menggunakan teknologi sistem
lindi dapat mengandung senyawa logam berat,
kolam, yaitu menggunakan kolam penampung,
garam, senyawa nitrogen dan berbagai jenis bahan
kolam anaerobik, kolam aerobik, kolam stabilisasi,
organik. Air Lindi adalah merupakan air limbah yang
dan dilanjutkan dengan menggunakan wet land.
pekat atau kuat yang memiliki dampak besar dan
Kelemahan teknologi tersebut adalah waktu tinggal
pengaruh pada desain dan operasional TPA. Kualitas
yang relatif lama yakni antara 30 –50 hari, sehingga
air lindi sangat bervariasi tergantung dari kompsisi
bangunan kolam membutuhkan lahan yang cukup
sampah, umur sampah, iklim, serta hidrogeologinya
luas. Selain itu hasil olahan lindi masih di atas baku
(Keenan, 1984). Air lindi memiliki karakteristik yang
mutu yang diijinkan untuk dibuang ke badan
khas, yaitu tingginya kandungan organik, logam,
lingkungan.
asam, garam terlarut, dan mikro organisme.
Dari permasalahan tersebut salah satu
Karakteristik tersebut menyebabkan air lindi menjadi
alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut
sangat berbahaya untuk lingkungan dengan potensial
adalah mengembangkan teknologi pengolahan lindi
kontaminasi melebihi dari beberapa limbah industri.
dengan menggunakan sistem biofilter anaerob –
aerob dan denitrifikasi. Dengan teknologi tersebut
2.1.1 KarakteristikAirLindi Di Indonesia
diharapkan mampu mempersingkat waktu tinggal,
sehingga lahan yang diperlukan untuk pengolahan
Persoalan utama dalam pengolahan lindi
lindi tidak terlalu luas. Hasil olahan lindi juga
adalah penentuan kualitas desain dari lindi yang akan
diharapkan dapat memenuhi baku mutu yang
diolah di Instalasi Pengolah Lindi (IPL). Kualitas
diijinkan untuk dibuang ke badan lingkungan.
desain lindi sangat bergantung pada sampling lindi
yang dilakukan. Karakteristik dan kuantitas lindi
1.2 Tujuan Penelitian
dipengaruhi oleh beberpa hal antara lain
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik dan komposisi sampah, jenis tanah
efektifitas pengolahan air lindi dengan proses penutup landfill, musim,pH dan kelembaban, serta
biofilter anerob-aerob dan proses denitrifikasi umur timbunan (usia landfill).Sehingga dalam
dengan menggunakan batu kapur dan pengambilan sampel lindi, beberapa hal yang perlu
belerang.Sedangkan sasaran dari penelitian ini diperhatikan adalah sebagai berikut:
adalah diperoleh data untuk mendesain teknologi a. Posisi pengambilan sampel.
proses yang tepat untuk mengolah air lindi yag b. Waktu pengambilan sampel apakah setelah
dihasilkan oleh TPA. hujan atau pada saat musim kemarau.
2
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
c. Metode pengambilan sampel (apakah composit Pada umumnya alokasi dana untuk
ataugrab sampling). pengelolaan sampah di TPA sudah sangat kecil,
Lindi yang berasal dari timbunan sampah yang sehingga dana yang dialokasikan untuk O/M IPL
baru mempunyai nilai BOD dan COD yang sangat semakin kecil lagi. Disisi lain, untuk pengoperasian
tinggi, tetapi semakin lama umur landfill, maka dan pemeliharaannya, IPL memerlukan biaya yang
kualitas lindi landfill juga akan menurun. tidak sedikit.
Karakteristik lindi berdasarkan umur landfill dapat
dilihat pada Tabel1. b. Terbatasnya Sumber Daya Manusia yang
kompeten yang dapat mengoperasikan IPL.
Tabel 1 : Karakteristik Lindi Berdasarkan Umur Di sebagian besar TPA di Indonesia tidak
Landfill(Annonim, 2012). tersedia operator khusus yang bertugas untuk
menjalankan IPL. IPL yang ideal seharusnya
Landfill Landfill Umur dijalankan oleh SDM yang kompeten, karena
Tipikal
Parameter Umur < 2 th > 10 th
(mg/L) kebanyakan IPL menggunakan pengolahan secara
(mg/L) (mg/L)
biologis dimana mikroorganisme perlu kondisi yang
2.000–
BOD 10.000 100–200 spesifik untuk dapat bekerja dengan optimal.
30.000
3.000–
COD 18.000 100–500 c. Tidak ada kontrol dan monitoring yang baik
60.000
pH 4,5–7,5 6,0 6,6–7,5 untuk pengoperasian IPL.
TSS 200–2.000 500 100–400 Mayoritas IPL di Indonesia dibiarkan berjalan
N-NO 5–40 20 20–40 begitu saja tanpa ada control yang baik, padahal
2
N-NO 5–40 25 5–10 seharusnya sebelum mulai dijalankan, harus
3
1.000– dilakukan aklimatisasi selama kurang lebih 3 bulan
Alkalinitas 3.000 200–1.000
10.000 untuk mendapatkan kondisi mikroorganisme yang
Sulfat 50–100 300 20–50 optimal.
Kalsium 200–3.000 1.000 100–400
Klorida 200–2.500 500 100–400
d. Kurang perhatiannya para pengambil kebijakan
Natrium 200–2.500 500 100–400
pada TPA.
Besi Total 50–1.200 60 20–200
Sampai saat ini, pengelolaan sampah belum
menjadi prioritas untuk mendapatkan alokasi dana
Secara umum, lindi memiliki karakteristik
yang besar di daerah - daerah. Hal tersebut
antara lain adalah:
dikarenakan masih rendahnya tingkat kesadaran
Konsentrasi BOD dan COD tinggi diawal.
para pengambil kebijakan untuk pengelolaan sampah
Memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. pada umumnya dan IPL pada khususnya.
Daya hantar tinggi, hal tersebut dikarenakan Beberapa pilihan alternatif teknologi
banyaknya mineral yang dilarutkan oleh aliran pengolahan air lindi yang diterapkan di Indonesia
lindi, sehingga daya hantarnya menjadi tinggi. adalah sebagai berikut(Annonim, 2012):
Kandungan logam berat yang kadang tinggi, hal a. Kolam Anaerobik, Fakultatif, Maturasi dan
tersebut dikarenakan pH lindi yang asam dapat Biofilter (alternatif 1)
melarutkan logam berat yang tercampur pada b. Kolam Anaerobik, Fakultatif, Maturasi dan
sampah yang masuk ke TPA Landtreatment / Wetland (alternatif 2)
Memilki pH netral sampai asam. c. Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dengan
Warna yang sulit dihilangkan (coklat muda Aerated Lagoon (alternatif 3)
d. Proses Koagulasi-Flokulasi, Sedimentasi, Kolam
sampai hitam).
Anaerobik atau ABR (alternatif 4)
e. Proses Koagulasi - Flokulasi, Sedimentasi I,
2.1.2 Kondisi Umum Instalasi Pengolahan Lindi Di
Aerated Lagoon, Sedimentasi II (alternatif 5)
Indonesia
Sebagian besar pengolahan air lindi di
Indonesia masih menggunakan sistem kolam karena
Instalasi pengolahan lindi (leachate) yang ada
biaya operasionalnya yang rendah, tetapi
di TPA - TPA di Indonesia pada umumnya tidak atau
memerlukan waktu tinggal yang cukup lama. Untuk
belum beroperasi sesuai dengan kriteria teknis yang
kolam anaerobik memerlukan waktu tinggal 20 – 50
ada. Beberapa hal yang menyebabkan kurang
hari dengan efisiensi penghilangan BOD 50 – 85 %,
optimalnya operasi IPL di TPA adalah (Annonim,
kolam fakultatif memerlukan waktu tinggal 5-30 hari
2012) :
dengan efisiensi penghilangan BOD 70 – 80 %,
a. Terbatasnya dana yang dialokasikan untuk
sedangkan kolam matrurasi memerlukan waktu
pengoperasian dan pemeliharaan IPL di TPA.
3
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
tinggal 7-20 hari dengan efisiensi penghilangan BOD memanfaatkan perbedaan sifat-sifat fisik yang
60-89 % (Annonim 1, 2012). dimiliki oleh polutan dalam air limbah, seperti
Sebagian besar pengolahan lindi di Indonesia perbedaan berat jenis, ukuran partikel, dan titik
memiliki masalah yang sama, yaitu kuantitas dan didih. Beberapa contoh proses Kimia- fisika dalam
kualitas lindi yang berfluktuasi. Disisi lain, dasar pengolahan limbah adalah proses netralisasi,
untuk dapat merencanakan IPL yang baik adalah pengendapan, penyaringan dan penguapan. Pada
beban hidrolis (Q), serta beban organik (BOD, COD) proses netralisasi dan pengendapan diperlukan
yang stabil. Oleh karena itu, diperlukan penambahan bahan kimia koagulan (penggumpal)
pengaturan/penyeimbangan untuk debit dan beban dan flokulan (pembentuk flok) yang bertujuan untuk
organik yang masuk ke IPL, dikarenakan membantu mengikat dan mengendapkan partikel-
mikroorganisme yang bekerja di IPL tersebut sangat partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah.
sensitif dengan perubahan debit dan beban organik Proses kimia fisika ini kelebihannya adalah
yang ekstrim. Salah satu cara untuk mengatur debit dapat berlangsung dalam waktu yang singkat
dan beban organik tersebut adalah dengan sehingga unit instalasi pengolahan air limbah (IPAL)
menggunakan kolam stabilisasi serta pintu air yang diperlukan kecil. Sedangkan kelemahan dari
sebelum inlet IPL. proses ini diantaranya adalah hanya bersifat
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memindahkan polutan sehingga kalau pengelolaan
dapat mengurangi dampak negatif dari lindi adalah: hasil samping (sludge/endapan) tidak bagus maka
a. Penggunaan lapisan tanah penutup, baik akan dapat menimbulkan masalah baru.
lapisan tanah penutup harian, antara, dan
penutup akhir. 2.2.2 Teknologi Pengolahan Secara Biologis
b. Pemakaian lapisan dasar/liner yang sesuai
dengan kriteria teknis untuk dapat mencegah Di dalam proses pengolahan air limbahsecara
infiltrasileachateke tanah dan air tanah. biologis, pada hakekatnya adalah memanfaatkan
c. Pembangunan sarana pengumpul dan pengolah mikroorganisme (bakteria) yang mempunyai
lindi yang sesuai dengan kriteria teknis, serta kemampuan untuk menguraikan senyawa-senyawa
pembangunan drainase sekeliling TPA yang polutan tertentu di dalam suatu reaktor biologis yang
sesuai dengan kriteria teknis untuk dapat dikondisikan. Di dalam proses pertumbuhan dan
mengurangi jumlah limpasan air hujan yang perkembang-biakan mikroorganisma diperlukan
masuk ke dalam TPA. sumber energi, karbon serta elemen anorganik atau
d. Melakukan resirkulasi lindi. nutrien misalnya nitrogen, phospor, sulfur, natrium,
kalsium dan magnesium. Dalam proses pengolahan
2.2 Teknologi Pengolahan Air Limbah air limbah, sumber energi karbon dan nutrien ini
diserap dari polutan yang ada dalam air limbah.
Air limbah mempunyai beberapa jenis dan Berdasarkan kebutuhan oksigen, bakteri
karakteristik tergantung dari mana air limbah untuk pengolahan air limbah digolongkan menjadi 3
tersebut berasal. Dalam menentukan teknologi (tiga) jenisyaitu :
pengolahan air limbah harus didasarkan kepada
karakteristik air limbah yang akan diolah. Pada a. Bakteri Aerob Mutlak : yakni bakteri yang tidak
prinsipnya pengolahan air limbah adalah untuk dapat hidup dan menguraikan polutan air
menetralkan, menguraikan dan mengambil polutan limbah jika tanpa oksigen di lingkungannya.
yang ada dalam air limbah sehingga air limbah b. Bakteria Fakultatif Aerob : yakni bakteri yang
tersebut dapat dibuang ke lingkungan sesuai dapat tumbuh dan bekerja menguraikan
peraturan baku mutu yang berlaku. Berdasarkan polutan air limbah tanpa oksigen, tetapi
karakteristik air limbah yang akan diolah, secara garis pertumbuhannya akan lebih cepat bila
ada dua jenis teknologi pengolahan air limbah yaitu: terdapat oksigen di lingkungannya.
a. Teknologi pengolahan air limbah secara fisika c. Bakteria Anaerob Mutlak : yakni bakteria yang
kimia, tidak dapat hidup dan bekerja menguraikan
b. Teknologi pengolahan air limbah secara polutan air limbah jika terdapat oksigen di
biologis. lingkungannya.
2.2.1 Teknologi Pengolahan Secara Fisika Kimia Dengan demikian berdasarkan penggolongan
dari jenis bakteri yang digunakan, maka teknologi
Proses kimia-fisika umumnya dipakai untuk proses IPAL biologis dibagi menjadi dua yaitu
mengolah limbah-limbah anorganik seperti air teknologi proses anaerob dan teknologi proses
limbah industri pertambangan, pelapisan logamatau Aerob.
pemurnian logam. Proses ini lebih banyak
4
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
2.2.1 ProsesBiologisAerob mendegradasi polutan dalam air limbah. Pada proses
biakan melekat, jumlah bakteri dikontrol melalui
Pada proses pengolahan air limbah dengan media. Apabila menginginkan jumlah bakteri yang
bakteri aerob, polutan organik, senyawa kimia lain banyak, maka luas permukaan media dipilih sebesar
seperti sulfida dan amonia akan diuraikan menjadi mungkin. Pada proses biakan tersuspensi, jumlah
senyawa yang stabil dan aman terhadap lingkungan. bakteri dikontrol dengan memantau dan selalu
Proses pengurian secara aerob ini adalah sebagai mengukur konsentrasi padatan tersuspensi dalam air
berikut: limbah sehingga perlu pemantauan yang rutin.
Reaksi Penguraian Organik : 2.2.2 Proses Anaerob
Oksigen (O2) Proses biologi anaerob adalah cara
Senyawa Polutan organik CO2+ H20 (1) pengolahan limbah yang sudah cukup lama dikenal
Heterotropik dan ekonomis. Pada awal tahun 1900 proses ini
+ NH + Biomasa
4 sudah diaplikasikan di Inggris untuk mengolah
ReaksiNitrifikasi :
organic sludge (lumpur organik) yang berasal dari
kolam pengendap pada unit pengolahan limbah cair
NH + + 1,5 O NO - + 2 H+ + H O (2)
4 2 2 2 domestik. Selanjutnya proses ini dikembangkan
NO -+ 0,5 O NO - (3)
2 2 3 untuk mengolah berbagai jenis limbah industri,
khususnya yang mempunyai kadar pencemar organik
Reaksi Oksidasi Sulfur :
tinggi.
Pada proses anaerob diperoleh hasil gas
S2-+ ½ O +2 H+S0 + H O (4)
2 2 metan melalui beberapa tahapan. Pada prosesnya
2 S + 3 O + 2 H O 2 H SO (5)
2 2 2 4 hampir semua polimer organik dapat diuraikan
menjadi senyawa karbon tunggal. Tahap penguraian
Dari reaksi reaksi kimia tersebut diatas,
ini meliputi tahap pembentukan asam (acidification)
oksigen diperlukan untuk menguraikan polutan dan
dan tahap pembentukan gas metan (gasification).
besarnya oksigen yang diperlukan sebanding dengan
Proses asidifikasi dilakukan oleh kelompok bakteri
jumlah organik, sulfida dan amonia yang ada dalam
acidogenik yang menghidrolisa senyawa-senyawa
air limbah. Dalam reaksi 1 diatas terllihat kalau
polimer dan mengkonversinya menjadi asam-asam
organik diuraikan diantaranya menjadi biomasa.
organik yang merupakan hasil antara. Kemudian
Biomasa ini akan dibuang sebagai sisa lumpur yang
bkteri metanogenik pada tahap gasifikasi akan
perlu penanganan lebih lanjut. Kelebihan dari proses
mengubah hasil - hasil antara ini menjadi metan
aerobik adalah reaksinya berlangsung lebih cepat
sebagai produk akhir(Polprasert, 1989).
dibanding proses anaerobik dan dapat mendegradasi
Kedua proses ini berlangsung secara
polutan organik sampai tingkat konsentrasi yang
sinambung, secara garis besar, mekanisme
sangat rendah. Selain kelebihan, ada beberapa
penguraian ini seperti terlihat pada Gambar 1.
kelemahan proses pengolahan air limbah secara
Reaksi yang terjadi pada proses penguraian
aerobik diantaranya:
polutan organik dalam air limbah dapat diuraikan
Perlu banyak energi untuk suplai oksigen
lebih rinci sebagai berikut :
kedalam reaktor pengolah air limbah, biaya
operasional tinggi
a. Hidrolisa dan pembentukan asam (hydrolysis &
Timbul lumpur yang perlu penanganan lebih acidogenesis).
lanjut. Biaya yang diperlukan untuk penanganan Polutan-polutan organik komplek seperti
lumpur cukup mahal lemak, protein dan karbohidrat pada kondisi
Kurang efektif diaplikasikan untuk air limbah anaerob akan dihidrolisa oleh enzim
dengan konsentrasi polutan tinggi (BOD diatas hydrolaseseperti lipase, protease dan cellulase yang
3000 mg/l) dihasilkan bakteri pada tahap pertama. Hasil
Dalam aplikasinya di IPAL, proses pengolahan hidrolisa polimer-polimer diatas adalah monomer
biologi aerobik dapat dilakukan dengan seperti manosakarida, asam amino, peptida dan
menempatkan atau melengketkan bakteri pada gliserin. Selanjutnya monomer-monomer ini akan
suatu media yang dikenal dengan istilah biakan diuraikan menjadi asam-asam lemak (lower fatty
melekat dan dapat dilakukan dengan mencampurkan acids) dan gas hidrogen(Archer dan Kirsop, 1991;
bakteri ke dalam air limbah tanpa media yang Barnes dan Fitzgerald, 1987; Sahm, 1984; Sterritt dan
dikenal dengan biakan tersuspensi. Lester, 1988; Zeikus, 1980),
Efisiensi proses IPAL biologis sangatlah .
ditentukan oleh jumlah bakteri yang bekerja
5
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
CH CH CH COOH+2 H O2CH COOH+2 H (12)
3 2 2 2 3 2
Asam Butrirat Asam Asetat
Dekomosisi asam laktat oleh Clostridium
Formicoaceticum.
CH CHOHCOOH+2 H OCH COOH+H CO (13)
3 2 3 2 3
Asam Laktat
+2 H O
2
ReaksiH dengan CO oleh
2 2
ClostridiumAceticumdanAcetobacteriumWoodii.
4 H + 2 CO CH COOH + 2 H O (14)
2 2 3 2
c. Tahap pembentukan gas metan
(methanogenesis)
Gambar 1 : Mekanisme Penguraian Polutan Organik
Sumber utama pembentukan gas metan
Pada Proses Biologi Anaerobik.
adalah asam asetat, H dan CO . Disamping itu juga
2 2
bisa dihasilkan dari konversi asam formiat dan
Dekomposisi lemak :
metanol.
Lipase
C3H5(RCOO)3+3H2O3 RCOOH+C3H5(OH)3 6) CH3COOH CH4+ CO2 (15)
Lemak Asam lemak Gliserol Asam Asetat
Dekomposisi protein : CO + 4H CH + 2 H O (16)
2 2 4 2
Protease HCOOH 0,25 CH + 0,75 CO + 0,5 H O (17)
4 2 2
Protein Asam amino (7) Asam Formiat
RCHNH COOH+ H RCH COOH+NH (8)
2 2 2 3
Asam amino Asam Lemak CH3OH 0,75 CH4+ 0,25 CO2+0,5 H2O (18)
Metanol
Dekomposisi karbohidrat :
Secara fundamentaldiketahui bahwa, jumlah
Cellulases bakteri sangat mempengaruhi kecepatan reaksi
SelulosaGlukosa (9) penguraian polutan diatas. Disamping konsentrasi
C H O CH CH CH COOH+2H +2 CO (10) bakteri, penambahan nutrisi tertentu seperti
6 12 6 3 2 2 2 2
Glukosa Asam Butirat senyawa nitrogen dan phosfat dapat mempercepat
proses degradasi. Disamping itu, pemberian mineral
b. Pembentukan asam asetat dan hidrogen anorganik seperti Co+2, Ni+2 dan Fe+3 dalam jumlah
(acetogenesis & dehydrogenation) mikrodapat merangsang aktivitas mikroba dan
Meskipun sejumlah asam asetat dan H2 meningkatkan effisiensi pengolahan.
dihasilkan dari penguraian monosakarida dan asam- Disamping mempercepat, ada beberapa
asam amino pada tahap acidogesis, namun sebagian senyawa kimia yang bersifat racun terhadap mikroba
besar diproduksi dari penguraian asam-asam lemak anaerobik, sehingga perlu dihilangkan pada tahap
yang mempunyai gugus karbon lebih tinggi melalui pretearment. Bahan kimia yang dapat mengganggu
tahap acetogenesis dan dehydrogenation, seperti: proses anaerobik adalah senyawa-senyawa sulfur,
sianida dan logam-logam berat (Cr+6, Hg+2, Cu+2).
Dekomposisi asam propionat dilakukan oleh
Dibandingkan dengan prosesbiologisaerobik,
SyntrophobacterWolinii.
proses anaerobik mempunyai beberapa keunggulan,
antara lain:
CH CH COOH + 3 H O CH COOH+H CO (11)
3 2 2 3 2 3 Hemat energi.Pada pengolahan anaerobik,
Asam Propionat Asam Asetat
proses penguraian polutan-polutan organik
+3 H
2
oleh mikroba berlansung pada kondisi
tanpaudara, sehingga tidak diperlukan energi
Dekomposisi asam butirat oleh Syntrophomonas
untuk mensupply udara seperti halnya pada
Wolfei.
proses aerobik.
6
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
Menghasilkan biogas (gas metan). Salah satu dilakukan berlebih. Agar supaya bahan organik yang
produk akhir penguraian polutan organik adalah tidak bereaksi atau yang tersisa dalam air limbah
gas metan (CH ) yang dapat dimanfaatkan setelah proses denitrifikasi tidak menimbulkan
4
sebagai bahan bakar gasa yang kaya energi, pencemaran lingkungan, perlu dilakukan proses
sepertipada generatorpembangkit listrik atau biodegradasi lagi sebelum limbah dibuang ke
pada boiler pembangkit uap. Nilai panas 1 m3 perairan. Dengan demikian denitrifikasi secara
gas CH setara dengan 8.550 kcal. konvensional dengan mikroba heterotroph
4
Mampu mengolah limbah organik disamping perlu biaya besar juga prosesnya menjadi
berkonsentrasi tinggi (BOD sampai 80,000 rumit karena perlu banyak unit-unit pengolahan.
mg/l). Untuk air limbah nitrat yang mengandung BOD
Surplus sludge yang merupakan surplus bakteri rendah, penulis mengusulkan alternartif lain yaitu
lebih sedikit dan dengan mudah dapat dengan menggunakan mikroba autotroph.
dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Mikroba autotroph adalah jenis mikroba
Disamping hal-hal positif, proses anaerobik atau bakteri yang dalam melakukan aktifitas maupun
juga mempunyai kelemahan, seperti : pertumbuhannya tidak memerlukan bahan organik
Reaksi penguraian polutan lambat. tapi cukup dengan menggunakan bahan anorganik
Sangat sensitif terhadap udara, perubahan dan sumber karbon dari CO2. Salah satu jenis
temperatur dan fluktuasi beban. mikroba ini adalah Thiobacillus denitrificans yang
Kurang effektif untuk mengolah limbah dapat mereduksinitrat menjadi nitrogen gas dengan
menggunakan senyawa belerang tereduksi seperti
berkonsentrasi rendah (BODdibawah 3.000
batuan belerang, thiosulfat, ferry sulfat maupun
mg/l).
hidrogen sulfida sebagai donor elektron. Senyawa
Seperti pada proses biologis aerob, proses
belerang ini pada akhir reaksi denitrifikasi akan
anaerob pada aplikasinya dapat dilakukan dengan
teroksidasi menjadi sulfat dengan reaksi sebagai
sistem biakan melekat ataupun biakan tersuspensi.
berikut:
2.2.3 Proses Denitrifikasi
1.114So + NO - + 0.699H O + 0.337CO + (19)
3 2 2
Ada beberapa proses yang bisa diterapkan 0.0842HCO - + 0.0842 NH + → 1.114SO 2- +
3 4 4
untuk denitrifikasi yaitu proses kimia fisika seperti 0.5N + 1.228H+ + 0.0842C H O N (biomass)
2 5 7 2
penukar ion, pemisahan dengan membran dan
0.844S O 2- + NO - + 0.434H O + 0.347CO + (20)
proses biologis dengan menggunakan bakteri 2 3 3 2 2
0.0865HCO - + 0.0865NH + → 1.689SO 2- +
heterotroph dan autotroph. Dahab 1988, melakukan 3 4 4
0.5N + 0.697H++ 0.0865C H O N (biomass)
kajian berbagai proses denitrifikasi tersebut diatas 2 5 7 2
untuk air limbah dan menyimpulkan kalau sistem
0.422H S + NO - + 0.422HS- + 0.346CO + (21)
biologis adalah yang paling ekonomis dan layak. 2 3 2
0.0865HCO - + 0.0865NH + →0.844SO 2- +
Denitrifikasi dengan menggunakan sistem 3 4 4
0.5N + 0.288H+ + 0.403H O + 0.0865C H O N
biologis untuk air limbah yang cukup kandungan BOD 2 2 5 7 2
(biomass)
(Biological Oxygen Demand)/N nya seperti untuk
limbah domestik dan limbah industri, biasanya
Kelebihan dari proses denitrifikasi dengan
menggunakan mikroba heterotroph. Kandungan
mikroba autotroph yaitu:
organik (sebagai BOD) yang ada di dalam air limbah
Tidak memerlukan penambahan bahan organik
digunakan sebagai donor hidrogen pada reaksi
sehingga biaya pengolahan limbah dapat
denitrifikasi heterotroph. Reaksi denitrifikasi yang
ditekan.
terjadi pada pengolahan limbah dengan mikroba
Mempunyai sifat yang lambat dalam
heterotroph adalah sebagai berikut:
pertumbuhan dibanding bakteri heterotroph
12NO -+ 5C H OH→ 6N + 10CO +9H O + 12OH- sehingga bila diterapkan dalam pengolahan
3 2 5 2 2 2
limbah sistem biologis tidak akan banyak
menghasilkan sisa lumpur. Sisa-sisa lumpur
Pada proses konvensional, denitrifikasi air
merupakan salah satu kendala dalam
limbah yang mempunyai kandungan BOD/N rendah
penanganan dan pengolahan limbah sistem
atau kandungan senyawa nitrogennya relatif tinggi
biologis karena untuk mengolahnya perlu biaya
dilakukan dengan menggunakan mikroba
yang cukup besar.
heterotroph, yaitu dengan menambahkan bahan
Tidak menimbulkan polusi sampingan oleh
organik sebagai donor hidrogen kedalam air limbah.
bahan organikyang tidak terolah.
Akibatnya biaya pengolahan limbah menjadi besar.
Disamping itu, untuk meningkatkan efisiensi reaksi
denitrifikasi, penambahan bahan organik tersebut
7
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
Bisa diterapkan dengan sistem yang sederhana dua bagian, yaitu lapisan aerob dan lapisan anaerob.
yaitu dengan reaktor bahan isian batu belerang Jika lapisan biofilm bertambah tebal maka daya lekat
dan batu kapur. mikroorganisme terhadap media penyangga tidak
akan kuat menahan gaya berat lapisan biofilm dan
2.3 MekanismePenguraian Senyawa Polutan Pada akan terjadi pengelupasan lapisan biomassa. Koloni
Proses Biofilter mikroorganisme yang baru sebagai proses
pembentukan lapisan biofilm akan terbentuk pada
Di dalam reaktor biofilter, mikroorganisme bagian yang terkelupas ini. Pengelupasan dapat juga
tumbuh melapisi keseluruhan permukaan media. terjadi karena pengikisan berlebihan cairan yang
Pada saat operasi, air yang mengandung senyawa mengalir melalui biofilm. Mekanisme proses yang
polutan mengalir melalui celah media dan kontak terjadi pada sistem biofilter secara sederhana dapat
langsung dengan lapisan massa mikroba (biofilm). ditunjukkan seperti pada Gambar 2.
Biofilm yang terbentuk pada lapisan atas media Gambar 2tersebut menunjukkan suatu sistem
dinamakan zoogleal film, yang terdiri dari bakteri, biofilm yang terdiri dari medium penyangga, lapisan
fungi, alga, protozoa (Eighmy,1983 di dalam Bitton biofilm yang melekat pada medium, lapisan alir
1994). Metcalf dan Edy (1991) mengatakan bahwa limbah dan lapisan udara yang terletak diluar.
sel bakterilah yang paling berperan dan banyak Senyawa polutan yang ada di dalam air limbah
dipakai secara luas di dalam proses pengolahan air misalnya senyawa organik (BOD, COD), amoniak,
buangan, sehingga struktur sel mikroorganisme phospor dan lainnya akan terdifusi ke dalam lapisan
lainnya dapat dianggap sama dengan bakteri. atau film biologis yang melekat pada permukaan
Proses yang terjadi pada pembentukan medium. Pada saat yang bersamaan dengan
biofilm pada air limbah sama dengan yang terjadi di menggunakan oksigen yang terlarut di dalam air
lingkungan alami. Mikroorganisme yang ada pada limbah senyawa polutan tersebut akan diuraikan
biofilm akan mendegradasi senyawa organik yang oleh mikroorganisme yang ada di dalam lapisan
ada di dalam air. Lapisan biofilm yang semakin tebal biofilm dan energi yang dihasilkan akan diubah
akan mengakibatkan berkurangnya difusi oksigen ke menjadi biomasa. Suplai oksigen pada lapisan
lapisan biofilm yang dibawahnya, hal ini biofilm dapat dilakukan dengan beberapa cara
mengakibatkan terciptanya lingkungan anaerob pada misalnya dengan cara kontak dengan udara luar
lapisan biofilm bagian atas (Metcalf and Eddy, 1991). dengan aliran balik udara, atau dengan
Mekanisme yang terjadipada reaktor melekat menggunakan blower udara atau pompa sirkulasi.
diam terendam adalah (Lim dan Grady, 1980) :
Transportasi dan adsopsi zat organik dan nutrien
dari fasa liquid ke fasa biofilm
Transportasi mikroorganisme dari fasa liquid ke
fasa biofilm
Adsorpsi mikroorganisme yang terjadi dalam
lapisan biofilm
Reaksi metabolisme mikroorganisme yang
terjadi dalam lapisan biofilm, memungkinkan
terjadinya mekanisme pertumbuhan,
pemeliharaan, kematian dan lysis sel.
Attachment dari sel, yaitu pada saat lapisan
biofilm mulai terbentuk dan terakumulasi secara
kontinu dan gradual pada lapisan biofilm.
Mekanisme pelepasan (detachment biofilm) dan
produk lainnya (by product).
Gambar2: Mekanisme Proses Metabolisme Di
Pertumbuhan mikrooorganisme akan terus Dalam Sistem Biofilm.(Disesuaikan dariViessman
berlangsung pada lapisan biofilm yang sudah and Hamer, (1985) ,Hikami, (1992)).
terbentuk sehingga ketebalan biofilm bertambah.
Difusi makanan dan O akan berlangsung sampai Jika lapiasan mikrobiologis cukup tebal, maka
2
ketebalan maksimum. Pada kondisi ini, makanan dan pada bagian luar lapisan mikrobiologis akan berada
O tidak mampu lagi mencapai permukaan padat dalam kondisi aerobik sedangkanpada bagian dalam
2
atau bagian terjauh dari fase cair. Hal ini biofilm yang melekat pada medium akan berada
menyebabkan lapisan biomassa akan terbagi menjadi dalam kondisi anaerobik. Pada kondisi anaerobik
akan terbentuk gas H S, dan jika konsentrasi oksigen
2
8
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
terlarut cukup besar maka gas H S yang terbentuk denitrifikasi dan reaksi fermentasi zat organik.
2
tersebut akan diubah menjadi sulfat (SO ) oleh Dibawah lapisan micro-aerophilic terdapat zona atau
4
bakteri sulfat yang ada di dalam biofilm. lapisan fakultatif anaerobik dimana didalam zona
Selain itu pada zona aerobik nitrogen– tersebut terjadi reaksi reduksi sulfat dan reaksi
amoniak akan diubah menjadi nitrit dan nitrat dan fermentasi organik. Lapisan yang paling bawah yang
selanjutnya pada zona anaerobik nitrat yang berbatasan dengan media penyangga adalah zona
terbentuk mengalami proses denitrifikasi menjadi anaerobik dimana terjadi reaksi fermentasi zat
gas nitrogen. Oleh karena di dalam sistem biofilm organik dan reaksi metanogenesis.
terjadi kondisi anaerobik dan aerobik pada saat yang Di dalam tiap lapisan biofilm tersebut terdapat
bersamaan maka dengan sistem tersebut proses beberapa grup mikroorganisme yang berbeda
penghilangan senyawa nitrogen menjadi lebih tergantung dari tingkat kompetisi pertumbuhannya
mudah. di dalam lapisan biofilm. Selain itu ketebalan lapisan
Pada proses aerobik efisiensi akan menurun biofilm serta kondisi di dalam lapisan biofilm
dengan bertambahnya ketebalan lapisan biofilm dan tergantung dari konsentrasi substrat yang ada di
semakin tebalnya lapisan anaerob. Walaupun lapisan dalam air. Untuk konsentrasi substrat yang rendah
biomassa mempunyai ketebalan beberapa milimeter misalnya konsentrasi zat organik rendah, maka
tetapi hanya lapisan luar setebal 0,05 –15 mm yang ketebalan lapisan biofilm pada permukaan media
merupakan lapisan aerob. Hasil penelitian yang telah sangat tipis dan zona yang ada di dalam biofilm
dilakukan sebelumnya menegaskan bahwa hanya terdapat zona aerobik dan reaksi yang terjadi
penghilangan substrat oleh lapisan mikroba akan didominasi oleh reaksi nitrifikasi. Walaupun
bertambah secara linier dengan bertambahnya prosesnya secara aerobik, ketebalan lapisan atau
ketebalan film sampai dengan ketebalan maksimum, zona aerobik di dalam biofilm hanya sekitar 0,1 –0,2
dan penghilangan tetap konstan dengan mm (Viessman and Hamer, 1985).
bertambahnya ketebalan lebih lanjut (Winkler,1981).
Ketebalan lapisan aerob diperkirakan antara 0,06–2
mm, sedangkan ketebalan kritis berkisar antara 0,07
– 0,15 mm yang tergantung pada konsentrasi
substrat (Winkler, 1981).
Fenomena modeling biofilm umumnya
diasumsikan sebagai biofilm homogen dengan
ketebalan dan kerapatanmasa mikroorganisme yang
homogen dan konstan. Hal ini di dalam
kenyataannya tidak selalu demikian
(Christensen,1988). Umumnya observasi dimana
waktu dikaitkan dengan penambahan luas
permukaan biofilm dan di beberapa kasus meskipun
bentuk media dikembangkan. Sampai saat sedikit
sekali informasi tentang faktor yang dapat
mempengaruhi bentuk biofilm seperti kerapatan dari
biomasa.
Kinner (1983) menggambarkan model reaksi biokimia
(reaksi redoks) yang terjadi di dalam biofilm sebagai
fungsi beban substrat (Arvin and Harremoes, 1990),
seperti pada Gambar 3. Gambar yang paling atas
adalah menggambarkan reaksi di dalam biofilm di
dalam kondisi yang paling kompleks dimana beban
substrat organik tinggi.
Di dalam lapisan biofilm tersebut terdapat
empat zona atau lapisan yang menggambarkan
kondisi reaksi redoks yang ada di dalam biofilm, yaitu Gambar3: Model Reaksi Bokimia di dalam Biofilm
zona aerobik, zona micro-aerophilic, zona fakultatif dengan Beban Air Limbah yang berbeda (Arvin and
anaerobik serta zona anaerobik. Harremoes, 1990).
Lapisan yang paling luar adalah zona aerobik
dimana terjadi reaksi oksidasi heterotrophik Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
terhadap zat organik, reaksi nitrifikasi dan oksidasi ketebalan biofilm antara lain adalah:
sulfida. Dibawah lapisan aerobik terdapat lapisan Pertumbuhan dari biomasa yang aktif akibat
atau zona micro-aerophilic dimana terjadi reaksi dari aliran substrat.
9
Nusa Idaman Said danDinda Rita Krishumartani Hartaja :Pengolahan Air Lindi Dengan Proses... JAI Vol 8. No. 1. 2015
Kerusakan biomasa aktif. d. StarBio
Akumulasi material organik inert akibat dari StarBio digunakan sebagai nutrisi mikroba
bakteri yang aktif yang mati. baik mikroba anaerob maupun aerob. Sebelum
Akumulasi polimer dari metabolisme substrat. dimasukkan ke dalam bioreaktor anaerob dan aerob,
Polimer dapat dipecah atau didegradasi dengan StarBio tersebut terlebih dahulu dilarutkan dalam air.
sangat lambat.
Penumpukan atau flokulasi dari partikel yang e. Batuan Sulfur
tersuspensi ke dalam biofilm. Batuan sulfur digunakan sebagai media
Erosi permukaan biofilm dari partikel-partikel penyangga pada reaktor denitrifikasi. Batuan sulfur
kecil. dalam bioreaktor ini berperan sebagai donor proton
Pelepasan bagian-bagian besar dari biofilm (H+) yang akan bereaksi dengan senyawa nitrat untuk
berubah menjadi senyawa antara yaitu nitrit, dan
akibat beban hidrolik yang terlalu besar.
akhirnya menjadi gas nitrogen.
Sampai saat ini kemampuan untuk memperkirakan
ketebalan biofilm adalah masih sangat terbatas.
f. Batuan Kapur
Sebagai konsekuensinya kontrol ketebalan dalam
Selain batuan sulfur, dalam bioreaktor
reaktor biofilm masih berdasarkan pada penelitian
denitrifikasi juga diisi dengan batuan kapur
murni secara empiris(Arvin and Harremoes, 1990).
digunakan sebagai media penyangga. Batuan kapur
berfungsi sebagai pensuplai alkalinity pada cairan air
3. MATERIAL DANMETODOLOGIPENELITIAN
limbah, sehingga menjadikan pH netral.
3.1 Tempat Penelitian
g. Bahan–bahan kimia untuk analisa, antaralain:
Penelitian dilakukan di laboratorium Pusat
Teknologi Lingkungan, Badan Pengkajian dan o H2SO4 : Analisa COD
Penerapan Teknologi Kawasan Puspiptek Serpong o K2Cr2O7 : Analisa COD
Tangerang Selatan. o NitraVer 4 : Analisa Nitrat
NitriVer 3 : Analisa Nitrit
o
3.2 Material o SulfaVer 5 : Analisa Sulfat
Ammonia Cyanurate : Analisa Amonia
o
3.2.1 Bahan o Ammonia Salicilate : Analisa Amonia
Bahan - bahan yang digunakan dalam 3.2.2 Peralatan Analisa
penelitian ini adalah:
Analisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu
a. Air Lindi analisa eksternal yang dilakukan oleh Laboratorium
Air lindi yang akan diolah adalah air lindi yang Lingkungan dari pihak luar dan analisa internal atau
berasal dari tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar swapantau yang dilakukan di laboratorium Pusat
Gebang-Bekasi. Teknologi Lingkungan.
Peralatan analisa internal yang digunakan
b. Lumpur Biologis untuk pemantauan lindi adalah spektrofotometer
Lumpur biologis (biological sludge) yang HACH DR2800, dan COD Reactor Hanna Instruments
digunakan diperoleh dari proses pembiakan bakteri HI 839800.
di dalam reaktor yang telah diisi dengan media
sarang tawon sebagai tempat melekatnya mikroba. 3.2.3 Peralatan Proses
Proses pembiakan bakteri tersebut dilakukan dengan
menggunakan air limbah domestik Gedung Geostek Ada 2 (dua) jenis peralatan proses, yaitu
Kawasan Puspiptek Serpong, yang disirkulasikan ke peralatan proses skala pilot plant dan peralatan
dalam reaktor selama satu minggu, selanjutnya di bench scale yang digunakan dalam penelitian
alirkan air lindi secara bertahap. Proses pembiakan pengolahan air lindi dengan proses biofilter anaerob
mikroba dilakukan selama satu bulan. – aerob dan proses denitrifikasi. Pada dasarnya
prinsip kerja kedua peralatan tersebut sama. Yang
c. Glukosa membedakan hanyalah kapasitas peralatan dalam
Glukosa digunakan pada tahap aklimatisasi mengolah limbah lindi.
untuk membuat air lindi sintesis pada bioreaktor Peralatan yang digunakan dalam penelitian
anaerob maupun aerob. ini baik bench scale maupun skala pilot plant antara
lain adalah:
10
Description:DENITRIFIKASI. Leachate Treatment Using Anaerobic-Aerobic Biofilter and Denitrification Process Bidang Sampah II “, Direktorat Jendral Cipta.