Table Of ContentBENTENG DARI
KESESATAN AKIDAH
-Kumpulan Artikel Sanggahan, Kritik dan Diskusi Terhadap Pemahaman
Akidah Yang Menyimpang-
Al-Wudud Ahlul Hisap 10/1/17 abusalafy
BENTENG DARI KESESESATAN AKIDAH
1 METODE QUR’ANI DALAM TAFSIR AL QUR’AN!
Posted on 17 Januari 2011 by abusalafy
Persembahan Untuk: www.firanda.com dan Para Wahhâbiyyûn Yang Jâmidûn!
Al Qur’an adalah kitab suci terakhir yang Allah turunkan untuk umat manusia. Ia diturunkan dengan bahasa dan
dikemas dengan susunan yang indah. Sejak awal penurunanya Al Qur’an telah mendapat sambutan hangat dari
kaum Muslim dan mengundang perhatian dan keingin-tahuan tentangnya dan tentang makna yang terkandung
di dalamnya.
Allah SWT telah berjanji akan memberikan penjelasan atas firman yang Ia turunkan. Dan Dia juga
mempercayakan Nabi-Nya untuk menjadi penafsir utama Al Qur’an. Allah SWT berfirman:
ﮫ ُ ﻧَﺎﯾﺑَ ﺎﻧﯾَْﻠﻋَ نﱠ ِإ مﱠ ﺛُ * ﮫ ُ ﻧَآرْ ُﻗ ﻊْ ﺑِﺗﱠﺎﻓَ ُهﺎﻧأْرَ ﻗَ اذِﺈﻓَ.
“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.* Kemudian,
sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.” (QS. Al Qiyamah;18-19)
نَ ورُ ﻛﱠ ﻔَﺗَﯾَ مْﮭُ ﱠﻠﻌَ َﻟ وَ مْﮭِ ﯾَْﻟِإ لَ زﱢ ﻧُ ﺎﻣ سِ ﺎﻧﱠﻠِﻟ نَ ﯾﱢﺑَﺗُِﻟ رَ ﻛْ ذﱢﻟا كَ ﯾَْﻟِإ ﺎﻧﻟْزَ ﻧَْأ وَ.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl;44 )
Karenanya tafsir Nabi saw. adalah tafsir yang tidak boleh diabaikan dan harus diutamakan! Ia adalah rujukan
utama dan pertama dalam memahami tafsir ayat-ayat Al Qur’an disamping berujuk kepada Al Qur’an sendiri.
Sebab ayat-ayat Al Qur’an itu saling mnjelaskan dan saling membenarkan! Nabi saw. bersabda:
ﺎﺿً ﻌَ ﺑ ﮫﺿُ ﻌَ ﺑ قُ دﱢﺻَ ﯾُ لزﻧ ﺎﻣﻧإ
“Sesungguhnya Al Qur’an itu turun untuk saling membenarkan.”[1]
1.1 ALLAH SWT MEMERINTAH UMAT MANUSIA AGAR MERENUNGKAN AYAT-AYAT AL QUR’AN!
Tadabbur terhadap ayat-ayat Al Qur’an dengan mengindahkan syarat-syarat yang diperlukan adalah metode
tafsir ideal. Allah SWT berfirman:
ً ارﯾﺛﻛَ ً ﺎﻓﻼﺗِﺧْ ا ﮫِ ﯾﻓ اودُﺟَ وََﻟ ﷲ ِﱠ رِ ﯾْﻏَ دِﻧْﻋِ نْ ﻣِ نَ ﺎﻛ وَْﻟ وَ نَ آرْ ُﻘﻟْا نَ ورُ ﺑﱠدَﺗَﯾَ ﻼﻓَ َ أ.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi
Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An Nisâ’;82)
Tentang ayat di atas, Ibnu katsir berkata, “Allah berfirman memerintah mereka untuk tadabbur, merenungkan
Al Qur’an dan melarang dari berpaling darinya dan dari mencari faham tentang makna-maknanya yang kokoh
1
dan teks-teksnya yang balighah. Allah mengabarkan bahwa tiada di dalamnya perselisihan dan kekacauan, tiada
juga terdapat pertentangan, sebab ia turun dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Terpuji. Ia adalah haq dari Dzat
Yang Maha Haq… .”[2]
Perintah itu berlaku untuk semua dan di segala waktu. Ia tidak terbatas untuk generasi tertentu. Sebagaimana
perintah itu butki kuat bahwa ayat-ayat Al Qur’an dapat direnungkan dan dapat dimengerti dan difahami
maknanya. Sebab andai tidak, maka sis-sialah perintah untuk bertadabbur itu!
Dan pemahaman itu bukanlah monopoli generasi tertentu! Dan tafsir produk para pendahulu tidak aula bit
tibâ’/lebih berhak diikuti disbanding tafsir generasi lanjutan… bahkan bisa jadi tafsir generasi penerus lebih
matang dan lebih mirip dengan kebenaran dan apa yang menjadi maksud Sang Pemfirmannya. Sebab yang
menjadi i’tibâr/pengandalan adalah kesesuaiannya atau paling tidak kedekatanya dengan kebenaran dan bukan
keklasikan pengucapnya!
1.2 NILAI TAFSIR SALAF!
Karenanya, tidak ada keharusan memasung kecerdasan pemahaman seorang mufassir dengan pasung tafsir
Salaf terdahulu. Sebab selain tidak ada dalil yang mengharuskan kita memasung diri dengan tafsir Salaf, ia akan
mematikan keagungan Al Qur’an sebelum ia mematikan kreatifitas para mufassir! Karena Al Qur’an untuk
semua generasi dan dia akan selalu tampil baru dan segar!
Burhânuddîn az Zarkasyi dalam al Burhan-nya menukil keterangan tentang keharusan berujuk kepada tafsir
Tabi’în, di antaranya ia berkata, “Dan dalam berujuk kepada tafsir seorang tabi’i telah diriwayatkan dua riwayat
(penukilan pendapat) dari Ahmad. Ibnu ‘Aqîl memilih menolak. Dan mereka menukilnya juga dari Syu’bah. …
“[3]
Tentunya, jangan disalah-fahami bahwa kita tidak perlu menghiraukan tafsir Salaf. Akan tetapi, kita tidak boleh
terpasung oleh tafsir Salaf dan atau menjadikannya sebagai hujjah yang wajib diikuti! Ibnu Taimiyah berkata,
“Syu’bah bin Hajjâj dan selainnya berkata, “Ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) para Tâbi’în bukanlah hujjah,
lalu bagaimana ia dapat dijadikan hujjah dalam tafsir?! Ustadz Adz Dzahabi berkata, “Dan kami condong
berpendapat bahwa mengambil ucapan para Tâbi’în dalam tafsir tidaklah wajib, kecuali jika pada masalah-
masalahyang tiada ruang bagi pendapat, ia dapat diambil ketika tidak ada keraguan padanya.”[4]
1.3 DASAR KEBERAGAMAAN YANG SALAH!
Sebagian orang memasung diri dengan hanya membatasi pamahamannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an hanya
pada pemahaman Salaf… . Slogan mereka mengatakan, “Berujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan
pemahaman Salaf!” Ini adalah metode yang salah dalam mendasarkan keberagamaan.
Dalam memahami ayat-ayat tentang Tauhid, baik tauhid sifat maupun maalah-masalah terkait lainnya, misalnya
mereka pasti akan dihadapkan dengan tumpukan ucapan Salaf yang saling kontradiksi satu dengan lainnya.
Bahkan tidak jarang pula terdapat perbedaan penukila dari seorang dari Salaf! Dalam kondisi seperti ini, bagi
yang memasung diri hanya dengan pemahaman Salaf pasti akan kesulitan… Dan pada akhirnya mereka mungkin
terpaksa melakukan uji kualitas, mana di antara ucapan Salaf itu yang benar untuk diambil dan itu artinya,
ucapan Salaf yang lainnya akan dicampakkan dan dibuang ke tong sampah yang menampung limbah-limbah
aqwâl Salaf! Itu artinya pula bahwa konsep yang mengatakan harus berujuk kepada Salaf adalah sesuatu yang
sulit atau bisa jadi mustahil dipraktikkan! Sebagaimana kenyataan itu membuktikan bahwa para Salaf pun
bertingkat-tingkat kualitas intelektualnya.
2
1.4 KAUM PEMBID’AH SULIT OBYEKTIF DALAM MENGIKUTI SALAF SHALEH!
Orang yang hanya mencari pembenaran atas nama Salaf akan sangat mudah melupakan Salaf kebanggaannya
apabila ternyata ia menyelisihi akidah yang telah diadopsinya.
Seorang yang selama ini membanggakan seorang mufassir Salaf bernama Mujahid misalnya, dia tidak akan
segan-segan melupakan dan mencampakkan sang Salaf andalannya itu ketika ternyata ia terbukti menafsirkan
ayat 23 surah al Qiyamah dengan tafsiran yang merugikan doktrin lamanya.
Tentang tafsir ayat tersebut, telah diriwayatkan dari Mujahid dengan sanad bersambung melalui beberapa jalur
bahwa ia menafsirkannya dengan menanti pahala Tuhan, bukan melihat Tuhan, seperti yang selama ini difahami
ulama:
ٌةرَ ظِ ﺎﻧ ﺎﮭﺑﱢرَ ﻰﻟِإ * ٌةرَ ﺿِ ﺎﻧ ذٍﺋِﻣَ وْﯾَ ٌهوﺟُ وُ.
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Terhadap (pahala) Tuhannyalah
mereka menanti.”
Ath Thabari berkata:
ﺎﮭﺑر نﻣ باوﺛﻟا رظﺗﻧﺗ ﺎﮭﻧأ :كﻟذ ﻰﻧﻌﻣ لﺑ :نورﺧآ لﺎﻗو.
“Dan sebagian berpendapat: Akan makna ayat itu adalah, ‘Mereka menanti pahala dari Tuhan
mereka.’”
Kemudian ath Thabari merangkum tafsir Mujahid tersebut melalui jalur:
ﮫﻧﻣ رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ٌ ةرَ ﺿِ ﺎﻧَ ذٍ ﺋِ ﻣَ وْﯾَ ٌ هوﺟُ وُ ) دھﺎﺟﻣ نﻋ ،روﺻﻧﻣ نﻋ ،دﯾﺑﻋ نﺑ رﻣﻋ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،بﯾرَ ﻛُ وﺑأ ﺎﻧﺛدﺣ
.باوﺛﻟا
.ﺎﮭﺑر نﻣ باوﺛﻟا رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ) دھﺎﺟﻣ نﻋ ،روﺻﻧﻣ نﻋ ،نﺎﯾﻔﺳ نﻋ ،ﻊﯾﻛو ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ
.باوﺛﻟا رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ) دھﺎﺟﻣ نﻋ ،روﺻﻧﻣ نﻋ ،نﺎﯾﻔﺳ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،نﻣﺣرﻟا دﺑﻋ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،رﺎﺷﺑ نﺑا ﺎﻧﺛدﺣ
هارﯾ ﻻ ،ﺎﮭﺑر نﻣ باوﺛﻟا رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ) دھﺎﺟﻣ نﻋ روﺻﻧﻣ نﻋ ،نﺎﯾﻔﺳ نﻋ ،نارﮭﻣ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،دﯾﻣﺣ نﺑا ﺎﻧﺛدﺣ
.ءﻲﺷ ﮫﻘﻠﺧ نﻣ
:لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ﺿِ ﺎﻧَ ذٍ ﺋِ ﻣَ وْﯾَ ٌ هوﺟُ وُ ) دھﺎﺟﻣ نﻋ ،شﻣﻋﻷا نﻋ ،هدّ ﺟ نﻋ ،ﮫﯾﺑأ نﻋ ،ﻲﺑأ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،يدوﻌﺳﻣﻟا مﯾھارﺑإ نﺑ ﻰﯾﺣﯾ ﻲﻧﺛدﺣ
.ﮫﻠﺿﻓو ﮫﻗزر رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ) مﯾﻌﻧﻟا نﻣ ةرﺿﻧ
:دھﺎﺟﻣﻟ تﻠﻘﻓ « مﮭﺑر نورﯾﻓ » :ثﯾدﺣ ﻲﻓ نوﻟوﻘﯾ سﺎﻧأ نﺎﻛ :لﺎﻗ ،دھﺎﺟﻣ نﻋ ،روﺻﻧﻣ نﻋ ،رﯾرﺟ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،دﯾﻣﺣ نﺑا ﺎﻧﺛدﺣ
.ءﻲﺷ هارﯾ ﻻو ىرﯾَ :لﺎﻗ ،ىرﯾ ﮫﻧإ نوﻟوﻘﯾ ﺎﺳﺎﻧ نإ
.ﺎﮭﻟ رﻣأ ﺎﻣ ﺎﮭﺑر نﻣ رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ) :ﮫﻟوﻗ ﻲﻓ ،دھﺎﺟﻣ نﻋ ،روﺻﻧﻣ نﻋ ،رﯾرﺟ ﺎﻧﺛ لﺎﻗ
ٌهوﺟُ وُ ) :ﮫﻟوﻗ ﻲﻓ ،ﺢﻟﺎﺻ ﻲﺑأ نﻋ ،دﻟﺎﺧ ﻲﺑأ نﺑ لﯾﻋﺎﻣﺳإ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،نﺎﯾﻔﺳ نﻋ ،كﻟﺎﻣ ﺎﻧﺛ :لﺎﻗ ،ﻲﻧﺎﺳﺣﻟا بﺎطﺧﻟا وﺑأ ﻲﻧﺛدﺣ
.باوﺛﻟا رظﺗﻧﺗ :لﺎﻗ ( ٌ ةرَ ظِ ﺎﻧَ ﺎﮭَ ﺑﱢرَ ﻰَﻟِإ ٌ ةرَ ﺿِ ﺎﻧَ ذٍ ﺋِ ﻣَ وْﯾَ
1) Dari Abu Kuraib, ia berkata, Umar ibn Ubaid menyampaikan kepada kami, dari Manshur dari Mujahid,
“Menanti pahala dari-Nya.”
3
2) Ia berkata, Wakî’ menyampaikan kepada kami dari Sufyan dari Manshûr dari Mujahid, “Menanti pahala
dari Tuhannya.”
3) Ibnu Basysyâr menyampaikan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman menyampaikan kepada kami, ia
berkata, Sufyan menyampaikan kepada kami dari Manshûr dari Mujahid, “Menanti pahala.”
4) Ibnu Humaid menyampaikan kepada kami, ia berkata, Mahrân menyampaikan kepada kami dari Sufyan
dari Manshûr dari Mujahid., ia berkata, ‘Mereka menanti pahala dari Tuhan mereka. Tiada akan melihat-Nya
sesuatu apapun dari ciptaan-Nya.!’
5) Yahya bin Ibrahim al Mas’ûdi menyampaikan kepada kami, ia berkata, ayahku menyampaikan kepada kami
dari ayahnya dari kakeknya dari A’masy dari Mujahid, “Menanti rizki dan anugerah-Nya.”
6) Ibnu Hamîd menyampaikan kepada kami, ia berkata Jarîr menyampaikan kepada kami dari Manshur dari
Mujahid, ia berkata, “Ada banyak orang berkata tentang hadis, ‘Mereka akan melihat Tuhan mereka.’ Maka aku
berkata kepada Mujahid berkata, ‘Orang-orang berkata Dia akan dilihat!’ Mujahid berkata, “Dia Maha Melihat
dan tidak dapat dilihat oleh sesuatu apapun.’
7) Jarîr menyampaikan kepada kami dari Manshur dari Mujahid ia berkata, “Mereka menanti dari Tuhan
mereka apa yang Dia perintahkan.”[5]
Bagi mereka yang selama ini mengkultus Salaf dan memasung diri hanya dengan menelan mentah-mentah apa
yang dikatakan Salaf tentang ayat tertentu pasti berusaha keluar dari jeratan problem seperti ini… . Tetapi bagi
yang punya keterbukaan dan tidak memandang tafsir Salaf sebagai hujjah, pasti ia akan kembali kepada metode
tadabbur/perenungan ayat dan tidak akan menerima atau menolak tafsir Salaf kecuali atas dasar bukti… bukan
atas dasar ucapan Salaf itu sendiri!
1.5 TIDAK SEMUA AYAT AL QUR’AN TELAH DITAFSIRKAN OLEH SALAF
Masalah lain yang akan menghadang mereka yang mengebiri kreatifitasnya dalam memahami tafsir Al Qur’an
adalah bahwa ternyata tidak semua ayat Al Qur’an tu telah ditafsirkan oleh generasi Salaf baik sahabat mapun
tabi’în. Bahkan seperti yang kita ketahui bahwa Nabi saw. pun tidak menafsirkan seluruh ayat Al Qur’an. Atau
paling tidak berdasarkan riwayat yang ada di tangan para ulama, ternyata banyak ayat yang terlewatkan tidak
ada riwayat tafsir Nabi saw.!
1.6 SUMBER PENGAMBILAN SALAF DALAM TAFSIR
Bagi Anda yang mengetahui sumber pengambilan Salaf dalam memahami dan menafsirkan Al Qur’an pasti ia
tidak akan terjebak dalam kungkungan tafsir Salaf! Ustadz adz Dzahabi dalam kitabnya at Tafsîr wal al
Mufassirûn menyebut empat sumber tafsir Salaf generasi awal; para sahabat:
(1) Al Qur’an itu sendiri.
(2) Nabi saw.
(3) Ijtihad dan istimbâth/penyimpulan. Ketika mereka tidak menemukan keterangan tentang sebuah ayat dari
Al Qur’an atau kesulitan mendapatkan keterangan dari Sunnah Nabi saw., mereka kembali kepada ijtihad dan
menggunakan pikiran untuk menyimpulkan pendapat.
(4) Pendapat Ahlul Kitab; Yahudi dan Nashrani.[6]
(5) Dan di sini dapat ditambahkan sumber kelima yaitu Bahasa Arab melalui syair-syair orang-orang Arab,
seperti yang banyak dilakukan oleh Ibnu Abbas ra. Sebab syair-syair bangsa Arab adalah bagaikan kamus yang
4
merangkum kata-kata yang asing didengar oleh kebanyakan orang sekali pun. Sayyidina Umar ra. berkata,
“Hendaknya kalian memperhatikan diwân kalian agar kalian tidak tersesat!” Mereka berkata, ‘Apa yang Anda
maksud dengan diwân kami? Ia menjawab, “Syair-syair bangsa Arab masa jahiliyah. Di dalamnya terdapat tafsir
Kitab suci kalian dan makna pembicaraan kalian.”[7]
Adapun Salaf generasi tabi’în maka pengambilan mereka dalam tafsir dapat kita rangkum sebagai di bawah ini:
(1) Berujuk kepada Al Qur’an.
(2) Mengindahkan tafsir Nabi saw dan keterangan para Sahabat yang sampai kepada mereka.
(3) Memperhatikan asbâb nuzûl dan kasus-kasus yang karenanya ayat itu diturunkan.
(4) Berujuk kepada bahasa Arab, khususnya yang diabadikan dalam syair-syair mereka. Ibnu Abbas ra.
menganjurkan para muridnya untuk memperhatikan dan merujuk syair-syair Arab untuk mengenali arti kata
dalam ayat Al Qur’an.[8]
(5) Mengandalkan ra’yu dan ijtihad melalui perenungan dan penyimpulan. Dalam arti mereka menafsirkan
tanpa berujuk kepada tafsir Nabi saw. atau seorang dari sahabat pun. Dengan bertadabbur dan memerhatikan
segala yang meliputi ayat yang hendak ia tafsirkan.
(6) Merujuk peninggalan Ahlul Kitab; Yahudi dan Nashrani (Perjanjian lama dan Perjanjian Baru).
Setelah ini pasti Anda maklum bahwa tidaklah benar anggapan bahwa seorang mufassir harus memasung
pemahamanannya dan membatasi diri dengan menjadikan tafsir Salaf sebagai hujjah yang tidak boleh keluar
darinya! Sehingga apapun yang dipahami oleh seorang mufassir betapapun hebat dan luasnya ilmu yang ia miliki
sebagai tafsir Khalafi yang konotasinya adalah bid’ah… mengada-ngada… tidak memiliki Salaf… dan akhirnya
dicap tafsir liar! Sebab apapun yang tidak diambil dari Salaf pasti ia dihukumi liar!!
Ar Râghib al Ishfahâni berkata menjelaskan ruang lingkup seorang mufassir, “Manusia telah berbeda pendapat
tentang tafsir al Qur’an, apakah ia boleh bagi setiap orang untuk menjeburkan diri di dalamnya? Sebagian orang
berkeras sikap dan berkata, ‘Tidak boleh bagi seorang menafsirkan al Qur’an walaupun ia seorang yang
alim/pandai, sastrawan Arab, luas pengetahuannya tentang dalil-dalil fikih, nahwu (tata bahasa Arab),
akhbâr/berita dan atsâr/data-data yang dinukil. Yang boleh baginya hanyalah menyampaikan apa yang telah
sampai kepadanya dari riwayat Nabi saw. dan dari orang-orang yang menyaksikan turunnya al Qur’an yaitu para
sahabat dan orang-orang yang menimba ilmu dari para sahabat yaitu tabi’în…. Dan yang lainnnya mengatakan,
‘barang siapa yang mendalami satra Arab maka boleh baginya menafsirkan Al Qur’an. Orang-orang berakal dan
para sastrawan…
Kedua pendapat di atas adalah ghuluw (berkeras-keras) dan tafrîth (teledor). Barang siapa membatasi diri
dengan apa yang dinukil maka ia benar-benar meninggalkan banyak hal yang ia butuhkan. Dan barang siapa
membolehkan siapa saja menafsirkan Al Qur’an maka ia telah menjadikannya sasaran kekacauan dan tidak
mengindahkan firman-Nya:
بِ ﺎﺑﻟَْﻷْا اوُﻟوُأ رَ ﻛﱠ ذَﺗَﯾَِﻟ وَ ﮫِ ﺗِﺎﯾآ اورُ ﺑﱠدﱠﯾَِﻟ كٌ رَ ﺎﺑﻣُ كَ ﯾَْﻟِإ ُهﺎﻧﻟْزَ ﻧَْأ بٌ ﺎﺗﻛِ .
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat- ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang- orang yang mempunyai
pikiran.” (QS. Shad;29).[9] Setelahnya ia menjelaskan sepuluh syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang mufassir.
5
1.7 BUKTI NYATA!
Bukti nyata adalah bahwa para ulama islam di sepanjang zaman melibatkan diri dalam tafsir Al Qur’an dan tidak
membatasi diri hanya terpaku dengan tafsir yang dima’tsurkan dari Salaf dengan segala hormat kita semua
kepada Salaf!
Karenanya, ucapan seorang yang mengaku Salafi, “Tunjukkan siapa Salaf kamu dalam pemahaman ayat ini atau
itu?!” “Tafsir kamu adalah tafsir Khalafi.. tafsir bid’ah dll. adalah ucapan seorang santri abangan yang terkesan
awam tapi sok Salafi… terkenal dangkal tapi sok peneliti… dan akhirnya mengundang keprihatinan mendalam
bagi para ulama muhaqqiqûn!
Semoga Allah SWT senantiasa berkenan membimibng kita semua ke jalan-Nya. Amîn.
[1] Tafsir Ibn Katsir,1/529.
[2] Ibid.
[3] Al Burhan Fî ‘Ulûmil Qur’ân,2/158.
[4] At Tafsîr wal al Mufassirûn,1/128-129 rujuk juga Muqaddimah Ushul at Tafsîr; Ibnu Taimiyah:28-29, Fawâtih ar Rahamût,2/188 dan al Itqân,2/179..
[5] Tafsir ath Thabari,29/192-193. Setelah menyebutkan perbedaan ahli ta’wil tentang ayat di atas dan setelah merangkum tafsir Mujahid, Ibnu Jarîr
ath Thabari menimbang dan kemudian memutuskan menolak tafsir Mujahid!
[6]Keterangan lengkap dipersilahkan merujuk ke at Tafsîr wal al Mufassirûn,1/36-62.
[7] at Tafsîr wal al Mufassirûn,1/74.
[8] Ibid.
[9] Mukaddimah Fi at Tafsîr:93.
6
2 METODE & KAIDAH DALAM MEMAHAMI KONSEP AKIDAH KETUHANAN
Posted on 21 September 2009 by abusalafy
Mukaddimah Penting!
Dalam memahami konsep akidah ketuhanan diperlukan metode yang benar dan logika sehat yang bertanggung
jawab! Tanpanya kita pasti akan terjebak dalam kerancuan berpikir dan penyimpangan dalam kesimpulan.
Dan hal ini sepertinya yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahhabiyah –baik para ulamanya apalagi para
mukallidnya hanya pandai menyanyikan lagu sumbang para masyâikh tanpa kefahaman dan nalar sehat!
Karenanya, kami perlu manyajikan kepada para pembaca (dan juga tentunya para aktifis dan Misionaris Sekte
Wahhabiyah yang sering berkunjung ke blog ini) beberapa kaidah dasar yang mesti diperhatikan dalam mengkaji
konsep akidah ketuhanan Islam.
2.1.1 Metode Yang Benar Dalam Membangun Akidah
Ketahuilah wahai saudaraku bahwa di dalam membangun sebuah akidah (keyakinan tentang sebuah masalah
i’tiqâdiyah) hendaknya seorang peneliti tidak membatasi pandangan dan penelitiannya hanya pada riwayah
semata, sebelum ia tuntas menelusurinya dalam ayat-ayat suci Al Qur’an al Karim, sebab ia adalah sumber
utama Islam yang harus menjadi rujukan dalam pembentukan sebuah keyakinan akan sebuah masalah syar’iyah.
Hendaknya pembentukan pemikiran itu berangkat dari titik Al Qur’an untuk mengetahui sejauh mana
kesesuaian keyakinan itu terhadapnya.
Dan adalah sebuah kesalahan yang akan berdampak fatal apabila seorang pengkaji dalam membangun sebuah
kayakinan sebelum ia meneliti apa kata Al Qur’an, ia bergegas membongkar-bongkar tumpukan riwayat… dan
tidak ada dalam benaknya selain riwayat! Ia mengabaikan meneliti ayat-ayat Al Qur’an dalam masalah yang
sedang ia teliti. Ia tidak mengenal ayat-ayat yang berbicara tentang masalah tersebut!
Awal yang ia banggakan dalam berargumentasi adalah riwayat bukan ayat Al Qur’an!
Metode seperti itu perlu diluruskan. Hendaknya seorang pengkaji (tentunya yang memiliki kelaikan secara
intelektual untuk terjun dalam dunia kajian Islam, bukan para awam yang hanya akan menambah kekacauan
dan memperpanjangn daftar kebodohan belaka!) pertama-tama menfokuskan penelitiannya terhadap ayat-
ayat Al Qur’an, barulah kemudian kepada Sunnah (riwayat). Sebagian orang menyanyikan metode ini namun
dalam praktiknya ia jauh darinya. Mereka lebih berpegang dengan sebuah riwayat yang syâdz, tertolak, atau
munkar, sementara ayat-ayat suci Al Qur’an yang sharîhah (jelas maknanya) mereka campakkan di belakang
punggung mereka!
Banyak kasus “kecelakan pemikiran” akibat kesalahan metode pembangunan akidah di atas.
Periwayatan Hadis Dengan Makna Bukan Dengan Radaksi Asli Nabi Muhammad saw.
Kenyataan ini dengan mudah ditemukan di banyak riwayat. Salah satu dampak buruk darinya adalah terjadinya
idhthirâb (kekacauan/perbedaan dalam redaksi) yang cukup parah sehingga antara satu redaksi dengan redaksi
lainnya (yang masih dalam satu hadis) sering terjadi pertentangan yang tak mungkin dikompromikan.[1]
Hal ini juga harus menjadi bahan pertimbangan mengapa kita harus terlebih dahulu menfokuskan kajian akidah
kita kepada Al Qur’an bukan kepada riwayat!
7
2.1.2 Ayat-ayat Al Qur’an Ada Yang Mutasyâbih
Hal penting lain yang tidak boleh diabaikan dalam membangun sebuah keyakinan dari Al Qur’an adalah bahwa
ayat-ayat Al Qur’an terkemas dalam dua bentuk; muhkam dan mutasyâbih.
Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang gamblang dan tidak mengandung lebih dari satu pemaknaan. Ia
adalah induk yang harus dijadikan rujukan dan hakim yang akan mengarahkan pemaknaan ayat-ayat
mutasyâbihat kepada arah makna yang benar dan terpimpin.
Sedangkan ayat-ayat mutasyâbihat adalah ayat-ayat yang samar dan mengandung beberapa kemungkinan
makna; ada makna dekat namun bukan yang dimaksud dan ada makna jauh namun ia lebih dekat kepada dasar-
dasar akidah Islam telah terbangun di atas dasar-dasar ayat-ayat muhkamat!
Maka adalah sebuah kewajiban atas setiap pengkaji Muslim untuk merujukkan ayat-ayat mutasyâbihat dalam
upayanya untuk memahami kepada ayat-ayat muhkamat. Dan tidak gegebah dalam menerjunkan diri dalam
lautan ayat-ayat mutasyâbihat tanpa bantuan ayat muhkamat. Itulah cirri pengkaji Muslim yang Mukmin dan
patuh kepada perintah Allah SWT dalam memahami ajaran-Nya.
Adapun gegabah dalam usaha gagalnya dalam menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat mutasyâbihat dengan
tanpa modal kecuali keberanian berlebihan dan kecenderungan untuk menyimpang dan menyimpangkan ayat-
ayat Al Qur’an al Karim adalah ciri kentara kaum yang dalam hatinya terdapat zaigh (kecenderungan dalam
menyimpang dari al haq).
Allah SWT berfirman:
ﮫ ُ ﻧْﻣِ ﮫَ ﺑَﺎﺷﺗَ ﺎﻣ نَ وﻌُ ﺑِﺗﱠﯾَﻓَ ﻎٌ ﯾْزَ مْﮭِ ﺑِوُﻠُﻗ ﻲﻓ نَ ﯾذﱠﻟا ﺎﻣﱠ َﺄﻓَ تٌ ﺎﮭﺑِﺎﺷﺗَﻣُ رُ ﺧَ ُأ وَ بِ ﺎﺗﻛِ ﻟْا مﱡُأ نﱠ ھُ تٌ ﺎﻣﻛَ ﺣْ ﻣُ تٌ ﺎﯾآ ﮫ ُ ﻧْﻣِ بَ ﺎﺗﻛِ ﻟْا كَ ﯾَْﻠﻋَ لَ زَ ﻧَْأ يذﱠﻟا وَھ ُ
اوُﻟوُأ ﱠ ﻻِإ رُ ﻛﱠ ذﱠﯾَ ﺎﻣ وَ ﺎﻧﺑﱢرَ دِﻧْﻋِ نْ ﻣِ لﱞ ﻛُ ﮫِ ﺑِ ﺎﻧﱠﻣَ آ نَ وُﻟوُﻘﯾَ مِﻠْﻌِ ﻟْا ﻲِﻓ نَ وﺧُ ﺳِ ارﱠ ﻟا وَ ُﷲ ﱠ ﱠ ﻻِ إ ﮫ ُ َﻠﯾوْﺄﺗَ مُ َﻠﻌْﯾَ ﺎﻣ وَ ﮫِ ِﻠﯾوْﺄﺗَ ءَ ﺎﻐِﺗﺑْا وَ ﺔِ ﻧَﺗِْﻔﻟْا ءَ ﺎﻐﺗِﺑْا
بِ ﺎﺑﻟَْﻷْا.
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat
yang muhkamât itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihât. Adapun
orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian
ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal
tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.
Mereka berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan
kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
(QS. Âlu ‘Imrân [3]; 7)
2.1.3 Akidah Harus Dibangun Di Atas Bukti yang Qath’i
Dalam masalah-masalah furû’iyah (fikih praktis) para ulama boleh membangun kesimpulan berdasarkan dalil-
dalil yang dzanniyah. Adapun I’tiqâd (keyakinan, apalagi yang mendasar) maka tidak boleh kecuali ditegakkan di
atas pondasi dan dasar yang qath’i (pasti/tidak mengandung ta’wil dan/atau kesamaran).
Kenyataan ini harus selalu diindahkan dalam mengkaji dan menetapkan masalah-masalah I’tiqâdiyah agar tidak
terjebak dalam kesalahan dan penyimpangan.
Dalam banyak kasus, mereka menetapkan sebuah keyakinan tertentu, akan tetapi setelah dilakukan menelitian
ternyata dalil yang dijadikan dasar dan pondasi adalah ayat-ayat Al Qur’an yang dari sisi pengertian dan
maknanya tidak memberikan kepastian tegas. Ia mengandung kesamaran dan ketidak tegasan serta multi
interpretasi! Atau terkadang malah mengandalkan dalil-dalil riwayat yang dari sisi wurud (datang)nya dari Nabi
saw. belum pasti!
8
Ayat-ayat Al Qur’an kendati ia pasti/qath’i dari sisi wurûd-nya, akan tetapi banyak darinya masih dzanni dalâlah
(petunjuk)nya.
Qath’i yang dibutuhkan di sini adalah dalam dua levelnya; dalam warûd dan dalam dalâlah-nya secara
bergandengan.
Sebelum kita menalaah kualitas riwayat-riwayat tentang Nabi melihat Tuhannya dalam mimpi, kami ajak
pembaca untuk meneliti dan mengkaji dua mukaddimah yang erat kaitannya dan sangat urgen sekali dengann
tema kita. Dua kaidah ini penting untuk selalu kita indahkan dan menjadi pijakan dalam kajian-kajian kita tentang
akidah Tauhid dan ketuhanan serta dasar-dasar keyakinan; ushûluddîn.
2.1.3.1 Kaidah Pertama:
Pertama-tama yang harus kita cermati ketika mengangkat sebuah riwayat/hadis sebagai hujjah/bukti dalam
menetapkan sebuah materi akidah [2]adalah bahwa keshahihan hadis dari sisi sanadnya saja belum cukup.
Sebab kayakinan harus ditegakkan di atas dasar pondasi yang kokoh … hadis yang dijadikan dasar hendaknya
mutawâtir sehingga ia memberikan kepastian informasi; ilm dan dari sisi kandungan dan petunjukknya adalah
Qath’iyu ad Dalâlah. Sebab dalam hal keyakinan yang dituntut adalah keyakinan atas dasar yang pasti yang tidak
boleh salah atau keliru. Demikian yang ditegaskan para ulama Islam. Karena itu apabila ada sebuah hadis âhâd–
betapapun ia shahih dari sisi sanad- bertentangan dengan nash Al Qur’an atau hadis mutawatir atau ijma’ atau
dalil aqli yang ditegakkan di atas kaidah-kaidah Al Qur’an dan Sunnah maka ia secara otomatis gugur dari
penganggapan dan berhujjah dengannya, sebab dalam kondisi seperti itu dalil yang belum pasti itu
bertentangan dengan sesuatu yang pasti.
Karena masalah ini sangat penting untuk diperhatikan dan sering kali dilupakan atau diabaikan oleh kebanyakan
pengikut sekte Wahhâbiyah dan/atau Mujassimah maka kami perlu membahasnya dengan sedikit terinci.
Hadis Âhâd Hanya Memberikan Kesimpulan Dzan Bukan Ilm
Untuk lebih jelasnya saya akan libatkan kemontar dan keterangan para ulama yang menegaskan kenyataan ini.
Komentar Al Hafidz al Khathib al Baghdadi
Komentar Al Hafidz al Khathib al Baghdadi dalam kitab Al Faqîh wa al Mutafaqqih berkata:
تﺎﺑﺟوﻣ فﻟﺎﺧﯾ نأ : ﺎھدﺣأ : روﻣﺄﺑ در دﺎﻧﺳﻻا لﺻﺗﻣ ارﺑﺧ نوﻣﺄﻣﻟا ﺔﻘﺛﻟا ىور اذإو . . . : دﺣاوﻟا رﺑﺧ ﮫﺑ درﯾ ﺎﻣﯾﻓ لوﻘﻟا بﺎﺑ
ﮫﻧﻼطﺑ مﻠﻌﯾﻓ لوﻘﻌﻟا . . .
”Bab tentang hal-hal yang menyebabkan ditolaknya hadis ahâd… jika seorang parawi tsiqah dan
terpercaya meriwayatkan sebuah hadis yang bersambung sanadnya, ia dapat ditolak dengan
banyak asalan:
Pertama, ”Apabila ia (hadis itu) menyalahi kepastian hukum akal sehat maka dengannya dapat dipastikan
kepalsuannya. Sebab agama datang dengan hal-hal yang dibenarkan akal sehat bukan yang bertentangan
dengannya.
Kedua, Ia bertentangan dengan nash Al Qur’an dan Sunnah yang mutawatirah, maka karenanya diketahui bahwa
riwayat itu tidak punya asal muasal yang benar.
Ketiga, Ia menyalahi ijma’, maka disimpulkan bahwa apa yang termuat dalam hadis itu telah di-mansukh-kan.
9
Description:Akan tetapi sepeti berulang saya katakana, kaum Mujassimah dan mereka yang tertipu oleh syubhat kaum . begitu jug Imam al-Mufassir ath-Thabari rahiamhullah ketika mentafsirkan surat al-Hadid ayat:4: beliau berkata:.