Table Of ContentBAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. Sikap Terhadap Pornografi
1. Pengertian
Menurut Mar’at (1982) dalam pengertian umum, sikap dipandang sebagai
seperangkat reaksi-reaksi afektif terhadap objek tertentu berdasarkan hasil
penalaran, pemahaman, dan penghayatan individu.
Thurstone, Likert, dan Osgood (dalam Azwar, 2002) mendefinisikan sikap
sebagai suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan terhadap objek baik
mendukung atau tidak mendukung. Menurut Secord dan Backman (dalam Azwar,
2002), sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal pemikiran (kognitif), perasaan
(afeksi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di
lingkungan sekitarnya.
Gerungan (dalam Sunarto & Hartono, 2002) menyatakan bahwa sikap
berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku individu. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi berupa kecenderungan
(predisposisi) tingkah laku. Jadi sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek
tersebut.
Hutagalung (2007), mendefinisikan sikap adalah cara individu melihat
objek sikap ( seperti : orang, perilaku, konsep, benda, dan lain-lain) secara mental
(dari dalam diri sendiri) yang mengarah pada perilaku yang ditujukan pada objek
18
19
sikap tersebut. Jika penilaian terhadap objek sikap adalah positif maka akan
terpancar perilaku positif dari objek sikap yang dihadapi, sebaliknya jika
penilaian terhadap objek sikap negatif maka akan terpancar perilaku negatif dari
objek sikap yang dihadapi.
Chaplin (2011) mengartikan sikap sebagai predisposisi atau
kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus-menerus untuk
bertingkah laku atau mereaksi dengan cara tertentu terhadap pribadi lain, objek,
lembaga atau persoalan tertentu.
Sarwono (dalam Susanto, 2013) menjelaskan bahwa sikap adalah suatu
kesiapan pada diri individu untuk bertindak secara tertentu yang bersifat positif
atau negatif terhadap objek tertentu. Sikap positif mempunyai kecenderungan
untuk bertindak mendekati, menyenangi dan mengharapkan objek tertentu,
sedangkan sikap negatif mempunyai kecenderungan untuk menjauhi,
menghindari, membenci dan tidak menyukai objek tertentu.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah bentuk
penilaian individu pada suatu objek dengan melibatkan pemikiran (kognitif),
perasaan (afektif), dan kecenderungan untuk merespon (perilaku/konatif) baik
secara positif (mendukung) atau negatif (tidak mendukung).
Objek sikap dalam penelitian ini adalah pornografi. Kata pornografi dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai dua pengertian yaitu : (1)
penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk
membangkitkan nafsu berahi; (2) bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-
20
mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks. Definisi
pornografi menurut Majelis Ulama Indonesia (dalam Muntaqo, 2006):
“Pornografi adalah visualisasi dan verbalisasi melalui media komunikasi,
atau karya cipta manusia tentang perilaku atau perbuatan laki-laki atau
perempuan yang erotis dan atau sensual dalam keadaan atau memberi
kesan telanjang bulat, dilihat dari depan, samping atau belakang,
penonjolan langsung alat-alat vital, payudara atau pinggul dan sekitarnya
baik dengan penutup atau tanpa penutup, ciuman merangsang antar
pasangan sejenis atau berlainan jenis baik antar muhram, atau antara
manusia dengan hewan, atau antar binatang yang ditujukan oleh orang
yang membuatnya untuk membangkitkan nafsu birtahi oranhg, atau
antara manusia yang hidup dengan manusia yang telah meninggal dunia,
gerakan atau bunyi atau desah yang memberi kesan persenggamaan atau
percumbuan, gerakan masturbasi, onani lesbian, homoseksual, oral seks,
sodomi, fellatio, cunningulus, coitus interuptus, yang berujuan dan atau
mengakibatkan bangkitnya nafsu birahi dan atau menimbulkan rasa yang
menjijikkan dan atau memuakkan dan atau memalukan bagi yang
melihatnya dan atau mendengarnya dan atau menyentuhnya, yang
bertentangan dengan kaidah-kaidah agama dan atau adat-istiadat
setempat”.
Undang-undang Pornografi tahun 2008 menyebutkan:
“pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi,
gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk
pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau
pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi
seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat”.
Menurut Armando (dalam Widarti, 2004), jenis media yang mengandung
unsur pornografi di antaranya melalui media audio-visual (pandang-dengar)
seperti program televisi, film layar lebar, laser disc, VCD, DVD, game komputer,
atau ragam media audio visual lainnya yang dapat diakses di internet seperti: film-
film yang mengandung adegan seks atau menampilkan artis yang tampil dengan
pakaian minim, atau tidak (atau seolah-olah tidak) berpakaian; adegan
pertunjukkan musik, penyanyi, musisi, atau penari latar hadir dengan tampilan dan
gerak yang membangkitkan syahwat penonton, dan media yang lain.
21
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pornografi adalah segala
bentuk paparan yang berisi materi pornografi melalui berbagai media yang
memuat kecabulan dan eksploitasi seksual dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi,
foto, gambar bergerak, film, animasi, kartun, tulisan, atau bentuk pesan
komunikasi lain yang membangkitkan nafsu birahi bagi yang melihat, mendengar,
atau menyentuhnya serta melanggar kaidah-kaidah agama dan norma masyarakat
yang berlaku.
Dari pengertian sikap dan pornografi di atas maka dapat disimpulkan
bahwa sikap terhadap pornografi adalah bentuk penilaian individu yang
melibatkan pemikiran (kognitif), perasaan (afektif), dan kecenderungan untuk
merespon (perilaku/konatif) baik secara positif (mendukung) atau negatif (tidak
mendukung) terhadap segala jenis paparan pornografi melalui berbagai media
yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual. Sikap negatif individu
ditunjukkan dengan menjauhi, membenci, dan tidak menyukai pornografi.
Sebaliknya sikap positif diwujudkan dengan mendekati dan menyenangi
pornografi.
2. Komponen-komponen Sikap terhadap Pornografi
Menurut Azwar (2016) terdapat 3 (tiga) komponen sikap yang mengacu
dari pendapat Mann yaitu :
a. Komponen kognitif
Komponen kognitif berisi penilaian terhadap obyek sikap yang
dipercaya individu sebagai steorotipe atau sesuatu yang terpolakan dalam
22
pikiran. Apabila penilaian terhadap obyek negatif atau tidak baik maka objek
akan membawa asosiasi pola pikir itu. Pola pikir yang sudah terbentuk akan
menjadi dasar pengetahuan (kepercayaan) individu terhadap apa yang
diharapkan dari objek tertentu. Hutagalung (2007) menyatakan komponen
kognitif berisi tentang pengetahuan, fakta, dan keyakinan individu terhadap
objek sikap.
Contoh : individu yang mengetahui dan memahami bahwa banyak fakta yang
menunjukkan bahaya pornogafi, maka individu akan bersikap negatif terhadap
pornografi dengan tidak menyenangi dan menjauhi paparan pornografi.
b. Komponen Afektif
Komponen afektif melibatkan masalah emosional subyektif individu
terhadap suatu objek sikap. Hutagalung (2007) menyatakan bahwa komponen
afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi individu terhadap obyek sikap,
terutama penilaian. Tumbuhnya rasa senang atau tidak senang ditentukan oleh
‘keyakinan’ individu terhadap objek sikap.
Contoh : individu merasa jijik atau tidak suka dengan paparan pornografi di
berbagai media.
c. Komponen Perilaku (konasi)
Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap
menunjukkan bahwa perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam
diri individu berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Perilaku individu
banyak dipengaruhi oleh kepercayaan dan perasaan terhadap stimulus tertentu.
23
Kecenderungan berperilaku secara konsisten, sejalan dengan kepercayaan dan
perasaan akan membentuk sikap individual.
Menurut Hutagalung (2007) komponen perilaku terdiri dari kesiapan
individu untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.
Bila individu menyenangi suatu objek, maka ada kecenderungan untuk
mendekati objek, demikian juga sebaliknya.
Contoh : individu yang tidak menyukai pornografi maka tidak akan mengakses
paparan pornografi.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa sikap individu terhadap
pornografi meliputi komponen kognitif (keyakinan, penilaian), komponen afektif
(perasaan tidak suka, membenci) dan perilaku (menjauhi, mendekati). Sikap
negatif akan ditunjukkan dengan menghindari dan tidak menyukai pornografi.
Sebaliknya sikap positif terhadap pornografi akan ditunjukkan dengan mendekati
dan menyenangi pornografi.
Menurut Mar’at (1982), sikap memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Sikap didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan dengan objek tertentu,
menggugah motif untuk berperilaku.
b. Sikap digambarkan dalam berbagai kualitas dan intesitas yang berbeda dan
bergerak secara kontinyu dari positif melalui areal netral ke arah negatif.
c. Sikap lebih dipandang sebagai hasil belajar daripada sebagai hasil
perkembangan atau sesuatu yang diturunkan. Sikap diperoleh dari interaksi
objek sosial atau peristiwa sosial.
24
d. Sikap memiliki sasaran tertentu, konkrit maupun abstrak atau dapat bersifat
langsung dan tidak langsung.
e. Tingkat keberpaduan sikap adalah berbeda-beda. Sikap yang saling terpaut
akan membentuk kelompok (kluster) yang merupakan subsistem sikap.
f. Sikap bersifat relatif menetap dan tidak berubah
Berdasarkan pandangan dari 2 (dua) teori di atas, peneliti memilih
menggunakan komponen-komponen sikap Azwar (2016) sebagai acuan teori
penyusunan alat ukur untuk mengetahui sikap terhadap pornografi pada siswa
SMP, yang terdiri dari komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen
perilaku. Pemilihan terhadap komponen-komponen sikap yang dijabarkan oleh
Azwar (2016) dikarenakan definisi setiap komponen lebih operasional sehingga
lebih mudah dipahami dan lebih jelas dijabarkan/diamati dalam mengungkapkan
adanya indikator-indikator sikap terhadap pornografi pada siswa SMP
dibandingkan dengan teori dari Mar’at (1982).
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Siswa terhadap Pornografi
Menurut Azwar (2016) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
dan perubahan sikap sebagai berikut:
a. Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat untuk dapat
menjadi dasar pembentukan sikap. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila
pengalaman pribadi terjadi dalam situasi yang melibatkan emosional, karena
25
penghayatan akan pengalaman terasa lebih mendalam dan lebih lama
membekas.
Contoh: individu yang sudah terbiasa dengan paparan pornografi dan merasa
nyaman dengan paparan tersebut maka individu bisa bersikap positif terhadap
pornografi.
b. Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Sikap remaja akan dipengaruhi oleh orang yang berarti khusus
(significant others) dalam menetukan sikap terhadap objek tertentu. Bagi
remaja peran orang yang dianggap penting diharapkan bisa memberikan
persetujuan akan sikap yang diambilnya. Orang yang dianggap penting bagi
remaja adalah orang tua, guru, teman sebaya, dan keluarga dekat.
Contoh: remaja yang bergaul dengan teman-teman yang terbiasa melihat
pornografi, awalnya sekedar ikut-ikutan bisa terbawa menjadi bersikap positif
terhadap pornografi karena bagi individu teman-teman mendukung paparan
pornografi.
c. Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan memiliki pengaruh besar dan pengarah terhadap
pembentukan sikap dari berbagai masalah yang dihadapi individu. Kebudayaan
telah mewarnai sikap anggota masyarakat, karena kebudayaan yang memberi
corak pengalaman individu sebagai anggota kelompok masyarakat.
Kepribadian individu yang matang dan kuat dapat memudarkan dominasi
kebudayaan dalam pembentukan sikap individu.
26
Contoh: budaya orang Timur yang awalnya memandang pornografi sebagai
suatu hal tabu, dengan adanya pengaruh budaya Barat (yang cenderung
menyetujui pornografi) sekarang mulai bergeser, adegan ciuman dalam
sinetron Indonesia menjadi suatu hal yang biasa ditayangkan di televisi.
d. Media Massa
Media massa sebagai sarana komunikasi, seperti : televisi, radio, surat
kabar, internet, dan lain-lain, memberikan informasi baru dan pesan-pesan
sugestif berpengaruh terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.
Wiryanto (dalam Muntaqo, 2006) menjelaskan bahwa, teory
Hypodermic Needle Model menyebutkan:
“Media massa diibaratkan sebagai sebuah jarum suntik besar yang
memiliki kapasitas sebagai perangsang (stimulus) yang amat kuat dan
menghasilkan tanggapan (response) yang kuat pula, bahkan secara
spontan, otomatis serta reflektif”.
Contoh: Televisi, internet, dan video/film, merupakan media yang dapat
menimbulkan efek yang lebih besar, karena mampu memperlihatkan dan
memperdengarkan sesuatu atau tayangan. Tayangan-tayangan tersebut
menunjukkan pro-pornografi.
e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
berpengaruh dalam pembentukan sikap individu karena keduanya sebagai
peletak dasar pengertian dan konsep moral dari dalam individu. Pemahaman
akan baik dan buruk, halal dan haram, garis pemisah antara sesuatu yang boleh
27
dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan
serta ajarannya.
Menurut An Nahlawi (1996) sekolah merupakan sistem yang di
dalamnya mengajarkan moral dan ajaran agama, nilai-nilai kebaikan dan
kebenaran, perintah dan larangan, kaidah adab dan akhlaq. Syari’at dalam ajaran
Islam sebagai pengontrol sikap dan perilaku bagi seorang muslim, sebagai acuan
utama ketika dihadapkan pada suatu masalah, misalnya pergaulan remaja.
Pengembangan kontrol tersebut dapat disempurnakan melalui pengkajian ilmu
di lembaga pendidikan dan lembaga agama dengan motivasi menuju ketaqwaan
kepada Allah. Menurut Wardani (2017) nilai-nilai moral dijabarkan dari agama.
Sarwono (2006) menjelaskan bahwa religiusitas merupakan nilai-nilai ajaran
agama yang berfungsi sebagai pengendali moral. Dister (dalam Darokah &
Safaria, 2005) mengungkapkan bahwa religiusitas sebagai keberagamaan
individu yang menunjukkan tingkat pemahaman, pengamalan, pelaksanaan, dan
penghayatan ajaran agama secara terus-menerus.
Jalaluddin (2016) menyatakan bahwa fungsi dan peran sekolah sebagai
lembaga pendidikan adalah pelanjut dari pendidikan keluarga. Jalaluddin dan
Ramayulis (dalam Jalaluddin, 2016) memaparkan, berdasarkan penelitian
Gillesphy dan Young, walaupun pendidikan agama di keluarga lebih dominan
dalam pembentukan jiwa keagamaan pada anak namun terbukti bahwa
pendidikan keagamaan (religious pedagogic) sangat memengaruhi tingkah laku
keagamaan (religious behavior). Menurut Prasetyo (2015) pembiasaan nilai-
nilai religius di sekolah diharapkan mampu meningkatkan dan memperkokoh
Description:Thurstone, Likert, dan Osgood (dalam Azwar, 2002) mendefinisikan sikap sebagai . kebenaran, perintah dan larangan, kaidah adab dan akhlaq. ajaran Islam yaitu memiliki jiwa keberagamaan (religiusitas) dalam aspek . Dimensi pengamalan (akhlak), menunjuk pada seberapa tingkat aplikasi.