Table Of ContentBAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Transformasi
Transformasi adalah sebuah proses perubahan secara berangsur-angsur
sehingga sampai pada tahap ultimate, perubahan yang dilakukan dengan cara
memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan
mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui
proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan.
Laseau 1980 yang dikutip oleh Sembiring 2006 memberikan kategori
Transformasi sebagai berikut:
1. Transformasi bersifat Tipologikal (geometri) bentuk geometri yang berubah
dengan komponen pembentuk dan fungsi ruang yang sama.
2. Transformasi bersifat gramatikal hiyasan (ornamental) dilakukan dengan
menggeser, memutar, mencerminkan, menjungkirbalikkan, melipat dll.
3. Transformasi bersifat refersal (kebalikan) pembalikan citra pada figur objek
yang akan ditransformasi dimana citra objek dirubah menjadi citra sebaliknya.
4. Transformasi bersifat distortion (merancukan) kebebasan perancang dalam
beraktifitas.
Habraken, 1976 yang dikutip oleh Pakilaran, 2006 (dalam http://www.ar.
itb.ac.id/wdp/ diakses pada tanggal 11 November 2013). menguraikan faktor-
faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi yaitu sebagai berikut:
1
1. Kebutuhan identitas diri (identification) pada dasarnya orang ingin dikenal
dan ingin memperkenalkan diri terhadap lingkungan.
2. Perubahan gaya hidup (Life Style) perubahan struktur dalam masyarakat,
pengaruh kontak dengan budaya lain dan munculnya penemuan-penemuan
baru mengenai manusia dan lingkuangannya.
3. Pengaruh teknologi baru timbulnya perasaan ikut mode, dimana bagian yang
masih dapat dipakai secara teknis (belum mencapai umur teknis dipaksa untuk
diganti demi mengikuti mode.
Bermula dari kedatangan etnis Jawa atas program pemerintah
(transmigrasi) di desa Koli dapat memberikan peluang besar bagi masyarakat
setempat untuk mengenal sitem mata pencaharian, sikap hidup etnis Jawa dan
kebudayan Jawa lebih terlihat adalah etos kerja etnis Jawa begitu pula sebaliknya.
Melihat kenyataan seperti ini tentu perubahan merupakan sebuah kepastian antara
kedua etnis. Dalam hal transformasi etos kerja tentu akan dipengaruhi oleh faktor
lain eksternal dan internal.
1.1.1 Proses Transformasi
Habraken, 1976 yang dikutip oleh Pakilaran, 2006 (dalam http://www.ar.
itb.ac.id/wdp/ diakses pada tanggal 11 November 2013) menguraikan proses
transformasi yaitu sebagai berikut:
1. Perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan atau sedikit demi sedikit
2. Tidak dapat diduga kapan dimulainya dan sampai kapan proses itu akan
berakhir tergantung dari faktor yang mempengaruhinya
3. Komprehensif dan berkesinambungan
2
4. Perubahan yang terjadi mempunyai keterkaitan erat dengan emosional (sistem
nilai) yang ada dalam masyarakat.
Proses transformasi mengandung dimensi waktu dan perubahan sosial
budaya masyarakat yang menempati yang muncul melalui proses yang panjang
yang selalu terkait dengan aktifitas-aktifitas yang terjadi pada saat itu. Telah
dijelaskan sebelumnya bahwa trasformasi tidak dapat diduga kapan dimulai dan
kapan akan berakhir begitu juga pada transformasi etos kerja yang nota benenya
dikaji pada ruang yang satu dan pada waktu yang panjang. Pada pengertian
transmigrasi jelas bahwa transmigran memiliki kebebasan pilihan untuk
menentukan pilihan dengan lingkungan barunya.
SOSIAL
BUDAYA
TOPOLOGIKAL
TRANSFORMASI
EKONOMI
GRAMA TIKAL
POLITIK
REVERSAL
DISTORTION KORIDOR BENTUKAWAL
FASADE
PROSES BENTUK SAAT INI
Bagan 1. Proses Transformasi
Dilihat bagan diatas dapat dijelaskan bahwa transformasi adalah suatu
perubahan dari satu kondisi (bentuk awal) ke kondisi yang lain (bentuk akhir) dan
dapat terjadi secara terus menerus atau berulangkali yang dipengaruhi oleh
dimensi waktu yang dapat terjadi secara cepat atau lambat, tidak berhubungan
dengan perubahan fisik tetapi juga menyangkut perubahan sosial budaya ekonomi
3
politik masyarakat karena tidak dapat lepas dari proses perubahan baik lingkungan
(fisik) maupun manusia (non fisik).
2.2 Pengertian Etos Kerja
Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap,
kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja
dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos
dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang
diyakininya. Dari kata etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir
mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik
buruk (moral), sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat
yang amat kuat untuk menyempurnakan sesuatu secara optimal, lebih baik, dan
bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.
Menurut Toto Tasmara, (dalam http://jurnal-sdm.blogspot.com diakses
pada tanggal 16 juli 2013) Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta
caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada
sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal
sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia
dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja berhubungan
dengan beberapa hal penting seperti:
a. Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik, baik
waktu, kondisi untuk ke depan agar lebih baik dari kemarin.
b. Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu merupakan hal yang sangat
penting guna efesien dan efektivitas bekerja.
4
c. Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan
merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan
kesungguhan.
d. Hemat dan sederhana, yaitu sesuatu yang berbeda dengan hidup boros,
sehingga bagaimana pengeluaran itu bermanfaat untuk kedepan.
e. Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan yang dilakukan
tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri.
Uraian diatas menjadi cerminan bahwa potret sukses transmigran baik
lokal maupun nasional. Etnis Jawa dan etnis Makian mampu keluar dari himpitan
ekonomi dan menjadi sebuah perubahan ekonomi yang signifikan kenapa tidak
diawal beradaptasi dengan lingkuangan yang baru dapat dikatakan semuanya
berangkat dari awal baik sosial, ekonomi, budaya, politik, dan lingkungan.
Etos kerja menurut Jansen Sinamo (dalam http://www.tokohindonesia.com
diakses pada Rabu, 19 November 2008) adalah seperangkat perilaku kerja, yang
berakar pada kesadaran yang kuat, keyakinan yang jelas dan mantap serta
komitmen yang teguh pada prinsip, paradigma, dan wawasan kerja yang khas dan
spesifik. Sedangkan pengertian etos kerja berdasarkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang
atau sesuatu kelompok.
Abu Hamid 1991 memberikan pengertian bahwa etos adalah sifat,
karakter, kualitas hidup, moral dan gaya estetika serta suasana hati seseorang
masyarakat. Kemudian mengatakan bahwa etos berada pada lingkaran etika dan
logika yang bertumpuk pada nilai-nilai dalam hubungannya pola-pola tingkah
5
laku dan rencana-rencana manusia. Etos memberi warna dan penilaian terhadap
alternatif pilihan kerja, apakah suatu pekerjaan itu dianggap baik, mulia,
terpandang, salah dan tidak dibanggakan.
Dengan menggunakan kata etos dalam arti yang luas, yaitu pertama
sebagaimana sistem tata nilai mental, tanggung jawab dan kewajiban. Akan tetapi
perlu dicatat bahwa sikap moral berbeda dengan etos kerja, karena konsep
pertama menekankan kewajiban untuk berorientasi pada norma sebagai patokan
yang harus diikuti. Sedangkan etos ditekankan pada kehendak otonom atas
kesadaran sendiri, walaupun keduanya berhubungan erat dan merupakan sikap
mental terhadap sesuatu.
Pengertian etos tersebut, menunjukan bahwa antara satu dengan yang
lainnya memberikan pengertian yang berbeda namun pada prinsipnya mempunyai
tujuan yang sama yakni terkonsentrasi pada sikap dasar manusia, sebagai sesuatu
yang lahir dari dalam dirinya yang dipancarkan kedalam hidup dan kehidupannya.
Sebagai contoh, peradaban barat dalam perjalanan sejarahnya telah
mengalami proses modernisasi serata transformasi sejak awal abad 16, yaitu
zaman Rrenaissance dan Humanisme. Suatu periode permulaan proses
pembentukan kebudayaan baru dengan pandangan hidup yang lebih kemasa kini
dan pandangan dunia yang antroposentris. Keduanya menciptakan lingkungan
sosio kultural dengan rasionalisme, individualisme, ekspansionisme,
komersialisme dan kapitalisme. Pada saat itulah berbagai gejala intelektual yang
membentuk transformasi peradaban barat dari zaman pertengahan ke zaman
modern. Muncul dan berkembang. Kekuatan penggerak yang mendasari proses
6
dasyat itu adalah etos yang mengutamakan sifat-sifat manusia yang lazim disebut
Vertue, suatu konsep model manusia yang autentik, otonom, penuh semangat
kewiraswastaan, ada kemauan untuk berperstasi yang sebaik-baiknya dan
semaksimal mungkin, maka disinilah manusia dianggap telah menemukan diri
sendiri.
Etos kerja yang tinggi biasanya muncul karena berbagai tantangan,
harapan-harapan dan kemungkinan-kemungkinan yang menarik. Jadi dengan
situasi dimana manusia itu bekerja dengan rajin, teliti, berdedikasi serta tanggung
jawab yang besar. Kemunculan etos kerja bagi suatu masyarakat dengan
sendirinya merupakan suatu karakter yang menjadi watak masyarakat itu. Etos
kerja suatu masyarakat lahir dan berkembang berdasarkan standar norma-norma
yang dijadikan orientasi masyarakatnya. Etos kerja suatu masyarakat memang
merupakan suatu sikap yang dikehendakinya dengan bebas tumbuh dari suatu
kesadaran untuk selalu bekerja dengan tekun.
Data menunjukkan bahwa kurang lebih 41 % penduduk Indonesia adalah
etnis Jawa. Sehingga mengharuskan untuk bersaing antar sesama maupun etnis
lain. Dengan angka demikian sudah menjadi barang tentu etnis Jawa banyak yang
hidup diperantauan dengan tetap memegang norma-norma yang berlaku pada
etnis Jawa umumnya. Dalam konteks perantauan tentunya penyesuain diri dengan
lingkungan menjadi penting yang akan membawa pada sebuah perubahan. Hal
yang sama pun akan terjadi pada siapa pun dan kelompok manapun demikian juga
etnis Makian. Norma-norma etnis Makian mengacu pada ajaran agama islam dan
filosofis (mpe te de monte) “siapa yang tidak bekerja maka tidak makan”.
7
Secara umum tolak ukur atau indikator dari perilaku yang mencerminkan
etos kerja adalah yaitu Efisiensi, Kerajinan, Ketrampilan, Sikap, tekun, Tepat
waktu, kesederhanaan, kejujuran, sikap mengakui rasio dalam mengambil
keputusan dan tindakan, kesedian untuk berubah, sikap bekerja secara energis,
sikap bersandar pada kekuatan sendiri, percaya diri, sikap mau bekerja sama, dan
kesediaan mau memandang jauh kemas depan.
Kerja secara etimologi diartikan (1) sebagai kegiatan melakukan seseuatu,
(2) sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah. Etos kerja menurut Abdullah,
adalah “alat dalam pemilihan”. Definisi yang dikemukakan tersebut lebih
meletakkan manusia sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai keistimewaan
tersendiri, diantaranya adalah kemampuan untuk bekerja dalam rangka memenuhi
kebutuhan hidupnya. Hal ini terkandung pula makna bahwa manusia adalah
makhluk yang mempunyai keharusan untuk bekerja dan merupakan hal yang
istimewa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kerja adalah suatu aktivitas yang
menghasilkan suatu karya. Karya yang dimaksud, berupa segala yang dihasilkan
untuk memenuhi kebutuhan, dan selalu berusaha menciptakan karya-karya
lainnya. Mencermati pengertian tersebut, apabila kedua kata itu yakni etos dan
kerja, digabungkan menjadi satu yaitu etos kerja, akan memberikan pengertian
lain. Menurut Abu Hamid, etos kerja adalah sebagai sikap kehendak yang
diperlukan untuk kegiatan tertentu.
Etos kerja merupakan; (1) dasar motivasi yang terdapat dalam budaya
suatu masyarakat, yang menjadi penggerak batin anggota masyarakat pendukung
budaya untuk melakukan suatu kerja. (2) nilai-nilai tertinggi dalam gagasan
8
budaya masyarakat terhadap kerja yang menjadi penggerak bathin masyarakat
melakukan kerja. (3) pandangan hidup yang khas dari sesuatu masyarakat
terhadap kerja yang dapat mendorong keinginan untuk melakukan pekerjaan.
Etos kerja atau semangat kerja yang merupakan karakteristik pribadi atau
kelompok masyarakat, yang dipengaruhi oleh orientasi nilai-nilai budaya mereka.
Antar etos kerja dan nilai budaya masyarakat sangat sulit dipisahkan. Nilai budaya
antara etnis Jawa dengan etnis Makian dalam prespektif etos kerja sama-sama
dengan visi yang maju ke masa depan yang labih baik dari hari ini.
Etos merupakan kehendak otonomi sebagai ciri khas sikap moral, dalam
kaitan kerja, etos berarti sikap kehendak yang dituntut dalam setiap kegiatan
tertentu. Jadi etos kerja adalah cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa
bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya,
tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal saleh dan oleh karenanya
mempunyai nilai ibadah yang luhur. Untuk menggali makna atau mengetahui
definisi dari etos kerja, alangkah baiknya jika kita pun mengkaji makna kata
perkata dari etos kerja itu sendiri, guna mendapatkan pemahanan yang lebih
mendalam mengenai definisi dari etos kerja.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (Em Zul Fazri dan Ratu Aprilia Senja)
etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial, sedangkan
menurut Clifford Geertz etos menunjukkan pada sifat, watak dan kualitas
kehidupan bangsa, moral dan gaya estetis. Etos adalah sikap mendasar terhadap
diri bangsa itu dan terhadap dunia yang direfleksikan dalam kehidupan.
9
David C. Mac Clelland mengartikan etos kerja dengan Need of
Achierement (N. Ach) yakni virus mental yang mendorong untuk meraih hasil
atau prestasi hidup yang lebih baik dari keadaan sebelumnya, atau dengan kata
lain: sebuah semangat dan sikap mental yang selalu berpandangan bahwa
kehidupan hari ini harus lebih baik dari kehidupan kemarin, dan hari esok harus
lebih baik dari hari ini (http://www.psychologymania.com Senin, 06 Mei 2013).
Berpijak pada pengertian bahwa etos kerja menggambarkan suatu sikap,
maka dapat ditegaskan bahwa etos kerja mengandung makna sebagai aspek
evaluatif yang dimiliki oleh individu (kelompok) dalam memberikan penilaian
terhadap kegiatan kerja. Mengingat kandungan yang ada dalam pengertian etos
kerja, adalah unsur penilaian, maka secara garis besar dalam penilaian itu, dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu penilaian positif dan negatif.
Bertolak dari uraian itu, maka suatu individu atau kelompok masyarakat
dapat dikatakan memiliki etos kerja yang tinggi, apabila menunjukkan tanda-tanda
sebagai berikut:
1. Mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia.
2. Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat luhur
bagi eksistensi manusia.
3. Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan
manusia.
4. Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan
sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita,
10
Description:Perubahan gaya hidup (Life Style) perubahan struktur dalam masyarakat, kebudayan Jawa lebih terlihat adalah etos kerja etnis Jawa begitu pula dengan perubahan fisik tetapi juga menyangkut perubahan sosial budaya .. Watak khas itu dalam ilmu antropologi disebut ethos, sering tampak.