Table Of ContentBAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pertambahan penduduk dalam suatu wilayah perkotaan selalu diikuti oleh
peningkatan kebutuhan akan ruang. Kota secara geografis selalu mengalami
perubahan dari waktu ke waktu. Namun, tanah yang ada selalu mempunyai luas yang
tetap dan karena secara administratif wilayah kota terbatas, maka dalam
perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah
maka pembangunan akan bergerak kepinggiran kota. Sebagai daerah pemekaran,
sehingga pinggiran kota berada dalam tekanan kegiatan perkotaan yang meningkat
dan berdampak pada perubahan fisik di sekitarnya.
Perluasan sifat kekotaan ini banyak mengubah tata guna lahan di daerah
pinggiran, terutama yang langsung berbatasan dengan kota, akibatnya banyak daerah
hijau yang berubah menjadi pemukiman. Pada perkembangannya, pembangunan ke
arah pinggiran kota mengakibatkan adanya penambahan ruang yang bersifat kekotaan
di daerah pinggiran kota yang disebut dengan perkembangan horizontal sentrifugal
(Yunus :2005), mengemukakan bahwa perkembangan daerah pinggiran kota
dipengaruhi oleh enam deteremin, yaitu aksesibilitas, pelayanan publik, karakteristik
lahan, karakteristik pemilik lahan, peraturan pemerintah dan inisiatif develover.
1
Universitas Sumatera Utara
Keberadaan kota1 dikenali dengan adanya berbagai macam kondisi dan hal-
hal yang membuat kota menjadi wilayah yang dinamis dan dikenal dengan
heterogen2. Defenisi yang mendukung keheterogenan kota juga dinyatakan oleh
Louis Wirth (dalam Suparlan, 1994) merumuskan kota sebagai “a relatively large,
dense, and permanent settlement of socially heterogenous individuals”. Kota
ditentukan oleh ukurannya yang cukup besar, kepadatan penduduknya dan
heterogenitas masyarakatnya. Sejalan dengan kehidupan kota yang keadaannya begitu
kompleks serta beranekaragam, maka keberadaan kota pun dinamakan heterogen.
Sebagai salah satu daerah otonom berstatus sebagai Ibukota di Provinsi
Sumatera Utara, kedudukan, fungsi, dan peranan Kota Medan cukup penting dan
strategis secara regional. Bahkan Kota Medan sering digunakan sebagai barometer
dalam pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah. Kota Medan juga
sebagai kota sentral ekonomi di Provinsi Sumatera Utara oleh karena itu mempunyai
perkembangan cukup pesat. Seiring perkembangannya, Kota Medan membutuhkan
ruang untuk tempat tinggal penduduk. Hal ini pun mengakibatkan peralihan
(konversi) lahan sangat cepat dan tinggi seperti peralihan lahan pertanian menjadi
rumah pemukim.
1 Menurut Yunus (2005) Kota adalah sebuah istilah atau kata yang sudah sangat populer di kalangan
masyarakat baik masyarakat awam maupun masyarakat yang memperdalam studinya mengenai kota,
karena hal inilah bagi masyarakat awam kata kota ini seolah-olah tidak memerlukan pembahasan lebih
lanjut. Namun, manakala seseorang memasuki wacana ilmiah, pengertian kta ini ternyata tidak
sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. Dalam pemahaman awam, sesuatu kota merupakan suatu
tempat yang berasosiasi dengan kompleks pertokoan besar yang berjajar-jajar keramaian lalu lintas
yang luar biasa dan bangunan yang berjubel.
2 Heterogen (keadaan berbagai unsur yang berbeda sifat atau berlainan jenis); kenakeragaman:
masyarakat di kota besar juga membuat perbedaan segala peristiwa. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
2
Universitas Sumatera Utara
Alih fungsi lahan atau lazimnya disebut sebagai konversi lahan adalah
perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (seperti
yang direncanakan) menjadi fungsi lain yang dapat membawa dampak negatif
terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri. Alih fungsi lahan juga dapat
diartikan sebagai perubahan untuk penggunaan lain disebabkan oleh faktor-faktor
yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk
yang makin bertambah jumlahnya dan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan
yang lebih baik. Alih fungsi lahan biasanya terkait dengan proses perkembangan
wilayah, bahkan dapat dikatakan bahwa alih fungsi lahan merupakan konsekuensi
dari perkembangan wilayah itu sendiri.
Sebagian besar alih fungsi lahan yang terjadi, menunjukkan adanya
ketimpangan dalam penguasaan lahan yang lebih didominasi oleh para pengusaha
dengan mengantongi izin mendirikan bangunan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Tindakan alih fungsi lahan pertanian sebenarnya telah terjadi sejak adanya manusia di
dunia dengan mengenal bermacam-macam sesuatu yang dikehendaki demi
mempertahankan dan memperoleh kepuasan hidupnya seperti sandang, pangan, dan
papan. Namun, kebutuhan itu terus bertambah baik macam, corak, jumlah, maupun
kualitasnya seiring dengan bertambahnya populasi manusia.
Oleh karenanya dengan kebutuhan ini berarti menghendaki lebih banyak lagi
lahan pertanian yang perlu dirubah baik fungsi, pengelolaan, dan sekaligus
menyangkut kepemilikannya. Maka dengan demikian, peranan pembangunan
pertanian pada tahun-tahun mendatang masih terus dibutuhkan. Oleh karena itu, alih
3
Universitas Sumatera Utara
fungsi lahan merupakan keadaan yang akan dan telah menimbulkan berbagai dampak
yang tidak diinginkan, antara lain berkurangnya lahan pertanian. Utomo (1992)
menyatakan bahwa lahan sebagai modal alami yang melandasi kegiatan kehidupan
dan penghidupan, lahan memiliki dua fungsi dasar yakni :
Fungsi kegiatan budaya; suatu kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk
berbagai penggunaan, seperti pemukiman, baik sebagai kawasan perkotaan maupun
perdesaan, perkebunan, hutan produksi dan lain-lain, Fungsi lindung; kawasan yang
ditetapkan dengan fungsi utamanya untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup
yang ada, yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan nilai sejarah
serta budaya bangsa yang bisa menunjang pemanfaatan budidaya. Clifford Geertz
melakukan penelitian di Mojokuto, kota kecil di bagian Jawa melihat bahwa diantara
lima jenis mata pencaharian utama (petani, pedagang kecil, pekerja tangan yang
bebas, buruh kasar, dan pegawai), petani adalah jenis mata pencaharian yang paling
banyak.
Perlu dicermati pula bahwa penelitian ini bukan terfokus kepada alih fungsi
lahan dari aspek ekologi, melainkan bagaimana perubahan kehidupan masyarakat
pasca dibangunnya pemukiman penduduk demi mendukung kehidupan perkuliahan
terutama di Universitas Sumatera Utara. Daerah yang mengalami perkembangan yang
cukup signifikan tersebut adalah darah Kampung Susuk. Kampung Susuk merupakan
daerah pinggiran yang terletak di Kelurahan Padang Bulan Selayang 1, Kecamatan
Medan Selayang, Kota Medan. Daerah Kampung Susuk merupakan daerah padat
penduduk yang didominasi oleh mahasiswa yang tinggal sementara di rumah-rumah
4
Universitas Sumatera Utara
sewa ataupun tempat kos-kosan. Kepadatan di Kampung Susuk ini mengakibatkan
lahan yang dulunya merupakan lahan pertanian kini sebagian besar sudah menjadi
bangunan–bangunan permanen seperti perumahan, kos-kosan, rumah makan, café,
sekolah/kampus, rumah ibadah, dan perkantoran.
Munculnya bangunan-bangunan seperti perumahan, kos-kosan, café dan
sebagainya tersebut juga mempengaruhi banyak sektor yang ada di daerah tersebut
seperti sector ekonomi, religi, budaya dan sosial. Keberadaan perguruan tinggi di
daerah pinggiran ini tentu saja akan membawa perubahan yang tidak kecil terhadap
daerah sekitar tempat perguruan tinggi tersebut berdiri. Perubahan itu tidak saja
menyangkut satu atau dua aspek kehidupan, tetapi banyak aspek kehidupan akan
terpengaruh dengan keberadaan perguruan tinggi tersebut (Purwaningsih, 1994: 1).
Aspek yang sangat nyata dapat terlihat dan dapat diukur adalah adanya perubahan
tingkat status sosial ekonomi penduduk sekitar. Karena pembangunan perguruan
tinggi di daerah akan diikuti pula pembangunan sarana lainnya, seperti banyak
dibangunnya dan kos-kosan para mahasiswa dari luar daerah. Banyaknya mahasiswa
atau kaum pendatang dari luar daerah akan berpengaruh langsung terhadap pola dan
pandangan hidup penduduk asli daerah tersebut.
Dalam periode terakhir Kampung Susuk dapat dikatakan berada di pinggiran
kampus. Hal ini karena ada dua kampus yang dekat dengank kampus-kampus yaitu
Universitas Sumatera Utara dan Universitas Metodist, juga ada sekolah dan akademi
kebidanan. Keberadaan bangunan sarana pendidikan ini akan sangat berpengaruh
terhadap kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Terutama bagi petani Kampung
5
Universitas Sumatera Utara
Susuk yang menjadi dan sebagian menambah penghasilan dari berdagang, penarik
becak, pengusaha, dan lain-lain.
Ditinjau dari segi pendapatan penduduk, menurut hasil penelitian Haribowo
dalam Sri Purwaningsih, dkk (1994: 2) terdapat hubungan yang positif antara
keberadaan perguruan tinggi dengan tingkat kenaikan pendapatan penduduk. Selain
merubah pola kehidupan penduduk di Kampung Susuk juga sangat berpengaruh
terhadap mahasiswa-mahasiwa yang kuliah di kampus tersebut karena dekat dengan
kampus sehingga menjadi tempat pemukiman yang strategis.
Keberadaan kampus-kampus di daerah ini juga telah mendorong
pembangunan secara fisik di daerah tersebut terutama menjadi menarik bagi
pengusaha-pengusaha untuk membangun “kos” diseputaran Kampung Susuk tersebut.
Melihat latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul
penelitian yaitu Kampung Susuk (Etnografi Mengenai kehidupan Pemukim Di
Pinggiran Kampus). Keinginan peneliti adalah ingin menggambarkan secara detil
mengenai kehidupan masyarakat di Kampung Susuk yang sangat heterogen.
1.2.Tinjauan Pustaka
1.2.1. Wujud Kebudayaan
Pengertian Kebudayaan secara umum dapat dirumuskan (Koentjaraningrat;
1997) bahwa Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat
lambat dalam 1 (satu) jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat
yang rendah melalui beberapa tingkat antara, sampai ke tingkat-tingkat tertinggi.
6
Universitas Sumatera Utara
Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus
dibiasakannya dengan belajar keseluruhan dari hasil budi dan karyanya. Kemudian
Koentjaraningrat membuat konsep wujud kebudayaan untuk membantu merincikan
pemahaman terhadap bagaimana melihat kebudayaan tersebut. Tiga wujud
kebudayaan menurut Koentjaraningrat, ialah :
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-
nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya (wujud idéel)
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola
dari manusia dalam masyarakat (wujud kelakuan),
3. Wujud kebudayaan sebagai benda- benda hasil karya manusia (wujud
fisik).
Ketiga wujud dari kebudayaan tersebut di atas, dalam kenyataan kehidupan
masyarakat tentu tidak terpisah satu dengan yang lain. Kebudayaan ideel dan adat-
istiadat mengatur dan memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia. Baik
pikiran-pikiran dan ide-ide, maupun perbuatan dan karya manusia, menghasilkan
benda-benda budaya fisiknya. Sebaliknya, kebudayaan fisik itu membentuk suatu
lingkaran hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkaran
alamiahnya, sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga
mempengaruhi cara berpikirnya.
Inti kebudayaan terdiri dari sektor ekonomi masyarakat, ciri-ciri itulah yang
“paling dekat dengan kegiatan-kegiatan subsistensi dan tatanan ekonomi” (Steward,
1955; 37). Selanjutnya, “metode” ekologi kebudayaan meliputi analisis :
7
Universitas Sumatera Utara
a. Hubungan antara lingkungan dan teknologi eksploitatif atau
deduktif.
b. Hubungan antara pola-pola “perilaku” dan teknologi eksploitatif.
c. Seberapa jauh pola-pola “perilaku” itu mempengaruhi sektor-
sektor lain dari kebudayaan (Steward, 1955: 40-41).
Steward mengemukakan tujuan utamanya adalah penjelasan tentang asal-usul
ciri-ciri kebudayaan tertentu. Akan tetapi, pendekatannya adalah; pertama untuk
menunjukkan bagaimana suatu ciri kebudayaan dan ciri lingkungan saling berkaitan
secara fungsional, dan kedua, untuk menunjukkan bahwa hubungan yang samadapat
berulang di daerah-daerah yang secara historis berlainan. Semua orang mengakui
bahwa sebagai manusia memiliki kedudukan yang tinggi bahkan sebagian besar
manusia menganggap sebagai makhluk yang tertinggi. Kedudukam yang tinggi itu
juga telah mengakibatkan munculnya beberapa karya mausia yang hebat dan takkan
ada makhluk lainnya yang sanggup menyamainya. Manusia adalah makhluk yang
ada dan keberadaannya didunia ini untuk mengadakan sesuatu, ataudengan istilah
lebih singkat, manusia ada untuk berbuat. Manusia adalah makhluk yang memiliki
kebebasan dalam hidup, yang mampu berkreasi, bebas dan terbuka, bertanggung
jawab, namun memiliki keterbatasan
1.2.2. Pinggiran Kota
Kota menurut definisi universal adalah sebuah area urban yang berbeda dari
desa ataupunkampong berdasarkan ukuranya, kepadatan penduduk, kepentingan atau
status hukum. Beberapa definisi (secara etimologis) “kota” dalam bahasa
lain seperti dalam bahasa Cina, kota artinya dinding dan dalam bahasa Belanda
8
Universitas Sumatera Utara
kuno, tuiin, bisa berarti pagar. Jadi dengan demikian kota adalah batas. Selanjutnya
masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian masyarakat
kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupanya serta cirri-ciri kehidupanya yang
berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Membahas masyarakat perkotaan sebetulnya tidak dapat dipisahkan dengan
masyarakat desa karena antara desa dengan kota ada hubungan konsentrasi penduduk
dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk
dari desa kekota. Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat urban dari berbagai
asal/desa yang bersifat heterogen dan majemuk karen terdiri dari berbagai jenis
pekerjaan/keahlian dan datang dari berbagai ras, etnis, dan agama.
Mereka datang ke kota dengan berbagai kepentingan dan melihat kota sebagai
tempat yang memiliki stimulus (rangsangan) untuk mewujudkan keinginan. Maka
tidaklah aneh apabila kehidupan di kota diwarnai oleh sikap yang individualistis
karena mereka memiliki kepentingan yang beragam. Lahan pemukiman di kota relatif
sempit dibandingkan di desa karena jumlah penduduknya yang relatif besar maka
mata pencaharian yang cocok adalah disektor formal seperti pegawai negeri, pegawai
swasta dan di sektor non-formal seperti pedagang, bidang jasa dan sebagainya. Sektor
pertanian kurang tepat dikerjakan di kota karena luas lahan menjadi masalah apabila
ada yang bertani maka dilakukan secara hidroponik. Kondisi kota membentuk pola
perilaku yang berbeda dengan di desa, yaitu serba praktis dan realistis.
Ciri-ciri masyarakat kota (urban) antara lain :
9
Universitas Sumatera Utara
1. Kehidupan keagaam berkurang, karena cara berpikir yang rasional dan
cenderung sekuler
2. Sikap mandiri yang kuat dan tidak terlalu tergantung pada orang lain sehingg
cenderung individualistis
3. Pembagian kerja sangat jelas dan tegas berdasarkan tingkat kemampuan/
keahlian
4. Hubungan antar individu bersifat formal dan interaksi antar warga
berdasarkan kepentingan.
5. Sangat menghargai waktu sehingga perlu adanya perencanaan yang matang.
6. Masyarakat cerderung terbuka terhadap perubahan di daerah tertentu (slum)
7. Tingkat pertumbuhan penduduknya sangat tinggi
8. Kontrol sosial antar warga relatif rendah
9. Kehidupan bersifat non agraris dan menuju kepada spesialisasi keterampilan
10. Mobilitas sosialnya sangat tinggi karena penduduknya bersifat dinamis,
memamanfaatkan waktu dan kesempatan, kreatif, dan inovatif.
Sementara itu daerah Kampung Susuk yang menjadi fokus penelitian ini
merupakan daerah pinggiran kota. Daerah pinggiran kota (urban fringer)
didefenisikan sebagai daerah pinggiran kota yang berada dalam proses transisi dari
daerah pedesaan menjadi perkotaan. Sebagai daerah transisi, Kampung Susuk ini
berada dalam tekanan kegiatan-kegiatan perkotaan yang meningkat yang berdampak
pada perubahan fisikal termasuk konvensi lahan pertanian dan non pertanian dengan
berbagai dampaknya. Berikut adalah defenisi pinggiran kota :
10
Universitas Sumatera Utara
Description:pinggiran, terutama yang langsung berbatasan dengan kota, akibatnya .. Pada awal abad ke-20, antropologi perkotaan mulai dikembangkan oleh.