Table Of ContentTeologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan
issn 2354-6147 eissn 2476-9649
Tersedia online di: journal.stainkudus.ac.id/index.php/Fikrah
DOI: http://dx.doi.org/10.21043/fikrah.v4i2.1885
Teologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama
Febri Hijroh Mukhlis
Aliansi Kebangsaan
[email protected]
Abstrak
Pancasila adalah ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Pancasila
lahir dari kesepakatan politik, budaya dan agama. Jadi pancasila itu
sifatnya ideal paripurna, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Keberadaan
pancasila memberikan nilai mengenai pentingnya keragaman di
Indonesia. Keragaman agama terutama mesti disikapi dengan terbuka,
saling toleran dan menjaga kerukunan. Dalam konsep pluralisme
agama (toleransi) mestinya yang paling utama adalah mengedepankan
kepentingan sosial-kemasyarakatan, bukan berdasar keyakinan. Dengan
demikian pancasila mestinya menjadi landasan teologis bagi agama-
agama, tujuannya untuk menjaga sikap saling menghargai perbedaan.
menjaga kesantunan dan keramahan dalam kehidupan sosial-
keagamaan. Selain itu, dengan kesadaran beragama serta berpancasila
visi kebangsaan akan tewujud secara kolektif melibatkan semua elemen
bangsa.
Kata kunci: Agama, kebangsaan, kerukunan, pancasila, toleransi
171 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016
Febri Hijroh Mukhlis
Abstract
Pancasila is the ideology and philosophy of of the Indonesian life.
Pancasila emerged from a political agreement, cultures and religions. So
Pancasila was ideal that cannot be negotiable. The existence of Pancasila
gives a value on the importance of diversity in Indonesia. Religious
diversity must be addressed with an open, tolerant and harmonious way
with each other. In the concept of religious pluralism (tolerance), the
most important is to promote the interests of social, not based on a faith.
Thus, Pancasila should be the theological foundation for religions, in
order to maintain an attitude of mutual respect for differences including
maintaining politeness and friendliness in a socio-religious life. In
addition, the awareness of religious sense and Pancasila Vision will be
achieved collectively by involving all elements of the nation.
Keywords: Religion, nationality, harmony, pancasila, tolerance
Pendahuluan
Aksi bela Islam yang belum lama terjadi (4/11) di Jakarta berbuntut panjang.
Sebenarnya aksi yang dikatakan bela al-Qur’an ini adalah buntut dari dugaan
penistaan agama oleh salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Kepolisian telah
menetapkan terduga saat ini sebagai tersangka. Dengan pelbagai tekanan yang ada
kepolisian telah bertindak sesuai hukum dan bersikap professional. Buktinya gelar
perkara kasus ini dilakukan secara terbuka terbatas, ini merupakan gelar perkara
pertama yang dilakukan secara terbuka dengan melibatkan langsung semua yang
terlibat termasuk saksi ahli.
Pasca aksi bela Islam jilid II, wacana aksi jilid III pun mulai santer diwacanakan.
Tekanan demi tekanan yang terus hadir bagi kepolisian dan pemerintah sepertinya
membuat seluruh aparat bertindak tegas. Asumsi mendasar yang muncul aksi tidak
lagi menuntut kasus itu lagi, karena sudah dalam proses hukum. Ada indikasi aksi
akan digunakan oknum tak bertanggung jawab sebagai momentum menguatnya
radikalisme agama.
Memang wacana radikalisme agama baru-baru ini cukup memprihatinkan.
Di samping semua sibuk bicara soal aksi tersebut, ada aksi teror di tangerang dan
bom di gereja samarinda. Aksi teror merupakan radikalisme yang perlu diwaspadai.
Hal ini termasuk peringatan keras bagi kerukunan umat beragama di Indonesia,
bahwa bahaya teror masih mengancam. Apapun alasan dan motif aksi teror sama
sekali tidak dibenarkan, baik itu karena motif agama maupun politik.
Kekhawatiran pemerintah dan tokoh-tokoh agama moderat adalah tumbuhnya
radikalisme. Seperti halnya aksi-aksi teror yang meresahkan kehidupan umat
beragama. Baik ormas maupun individu yang terlibat dalam aksi radikalisme wajib
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016 172
Teologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama
ditindak tegas. Kekhawatiran publik akan adanya kekuatan kelompok radikal saat
ini diwaspadai oleh pemerintah. Pemerintah telah memberi peringatan keras akan
menindak aksi-aksi yang berbau radikalisme dan berbuat makar terhadap negara.
Inilah salah satu buntut panjang dari aksi bela al-Qur’an. Wajar jika pemerintah
mewacanakan tindakan tegas atas segala aksi yang coba makar terhadap sistem
negara-bangsa. Saat ini pemerintah dan semua tokoh nasionalisme (baik agama dan
politik) berjuang membangun kembali semangat kebangsaan. Terbukti Presiden Joko
Widodo pasca aksi tersebut geram dengan melakukan langkah kongkrit menjaga
pancasila dan NKRI. Diantaranya presiden melakukan kunjungan dan pertemuan
dengan para ulama, kunjungan militer, dan juga konsolidasi politik. Bahkan jajaran
militer seperti Polri dan TNI giat menjalankan aksi-aksi keagamaan dalam rangka
kembali menumbuhkan semangat kebangsaan.
Dengan demikian semangat kebangsaan kembali dinyalakan. Ini berarti ada
nilai yang hilang sehingga kerukunan umat beragama menjadi terancam. Karena jelas
pancasila memberikan amanah untuk menjaga adanya saling hormat antar pemeluk
agama. Kembali menyalakan semangat pancasila adalah modal penting dalam
membangun keutuhan NKRI. Jika tidak dilakukan mental semangat kebangsaan
ber-pancasila maka semangat akan dengan mudah rapuh dan tergantikan dengan
ideologi asing yang tidak cocok dengan ragam kehidupan di Indonesia.
Untuk itulah pancasila adalah nyawa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
di Indonesia. Pancasila yang telah memberikan nafas bagi kehidupan agama-agama.
Menumbuhkan semangat pancasila adalah sebuah keniscayaan dalam rangka
menjaga toleransi, kerukunan, dan stabilitas kehidupan berbangsa. Demikian pula
dalam kehidupan beragama, sudah semestinya pancasila adalah ideologi nilai dalam
kehidupan beragama. Sehingga semua pemeluk agama dapat menjaga kerukunan,
toleransi, dan saling menghargai antar pemeluk agama. Dari uraian ini maka jelas
pancasila sangat dibutuhkan sebagai landasan teologis umat beragama dalam
menjaga kesantunan dan keramahan dalam kehidupan sosial-keagamaan.
Diskursus Teologi
Teologi dalam bahasa inggris theology, theos berarti Tuhan, dan logos berarti
ilmu atau wacana. Sedangkan dalam bahasa yunani teologi adalah theologia, yang
memiliki pengertian tentang ilmu ilahi, tentang hakikat Tuhan, doktrin atau
keyakinan tentang Tuhan, dan juga sebuah upaya penafsiran serta pembenaran
tentang keyakinan kepada Tuhan. Dari pengertian ini teologi merupakan pemahaman
ketuhanan yang dimiliki oleh agama-agama sebagai landasan berkeyakinan dalam
menjalankan rutinitas keagamaan (Homby, 1995, hal. 1237).
Teologi dikenal oleh semua agama. Setiap agama memiliki penafsiran dan
pemahaman ketuhanan yang berbeda. Secara pengertian, konsep teologisnya sama,
setiap agama memiliki keyakinan ketuhanan, namun berbeda dalam hal praktik
bahkan keyakinan. Sehingga banyak kita kenal dalam perkembangan agama-agama
ada teologi Islam, teologi Kristen, teologi Hindu, dan sebagainya.
173 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016
Febri Hijroh Mukhlis
Perbedaan konsep keyakinan (teologi) masing-masing agama ini sifatnya
sensitif. Hal yang paling dasar dalam keyakinan umat beragama adalah konsep
teologis. Seringnya terjadi benturan internal maupun eksternal umat beragama
kebanyakan dipicu oleh adanya saling singgung soal hal-hal teologis. Dalam konsep
pluralisme agama (toleransi) mestinya yang paling utama adalah mengedepankan
kepentingan sosial-kemasyarakatan, bukan atas keyakinan. Karena jelas bahwa
konsep teologisnya berbeda dan tidak akan pernah bisa bertemu. Dalam melahirkan
kerukunan umat beragama harus mengedepankan hubungan dan kepentingan
bersama dalam tujuan-tujuan sosial.
Adanya dugaan demi dugaan penistaan agama yang tengah terjadi biasanya
dipicu oleh hal-hal teologis semacam ini. Jika urusan akidah (keyakinan) disinggung
meskipun kecil, luapan emosi dan amarah, tidak hanya individu bahkan secara
kolektif bergerak melakukan pembelaan atas nama ketuhanan (agama). Pemicu ini
karena sensitifnya keyakinan beragama pada setiap agama. Maka dari itu, dalam
membangun tolernasi dalam kemajemukan beragama mesti mengedepankan dasar-
dasar sosial-kemanusiaan, keramahan, dan juga kesantunan.
Untuk itu wacana-wacana teologis kemudian banyak dipertanyakan.
Pertanyaan tersebut muncul karena wacana teologi agama-agama perlu dipahami
secara kritis dengan tujuan untuk dikembangkan dalam merespon wacana-
wacana sosial-kemanusiaan. Harry Austryn Wolfson mengajukan pertanyaan
kritis mengenai konsep teologi. Menurutnya apa yang baru dari teologi agama?
karena wacana teologi klasik sudah tidak lagi respon terhadap kebutuhan umat
beragama kekinian. Untuk itu wacana kalam perlu direeksplorasi ulang agar teologi
berkembang secara dinamis sesuai dengan kebutuhan umat beragama kekinian.
(Wolfson, 1976, hal.720-733).
Penandasan kritis terhadap konsep teologi agama berdasar pada wacana
klasik. Teologi klasik masih mengedepankan hubungan teosentris dan baik terhadap
antroposentrisme. Konsep ketuhanan klasik masih mementingan hubungan
ketuhanan dan kemanusiaan saja, tapi tidak membangun bagaimana hubungan
manusia dengan kemanusiaan. Wacana kemanusiaan ini kemudian mestinya menjadi
kajian baru dalam pengembangan ranah teologi agama dalam setiap agama-agama.
Tujuannya untuk membangun toleransi agama-agama dan kepedulian terhadap
isu-isu kemanusiaan yang dilandasi dengan akar-akar teologis yang kuat.
Nietzsche, seorang filosof Jerman yang benar-benar gila diakhir hidupnya
pernah mengungkapan kata-kata kontroversial, “Tuhan telah Mati”. Jika gagal
paham memahami kata-kata ini anda bisa sesat jalan dengan menganggap Tuhan
benar-benar telah mati. Filosof Jeman ini sebenarnya telah melakukan bacaan kritis
terhadap konsepsi teologis. Teologi (agama) dianggapnya telah sesat jalan, tidak
memberikan solusi perubahan nyata dalam menyikapi kebuntuan urusan-urusan
kemanusiaan. Doktrin ketuhanan setiap agama menjadi wacana absolut dan mutlak
(Sunardi, 2009, hal. 43).
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016 174
Teologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama
Nietzsche menegaskan manusia harus keluar dari doktrin absolute ketuhanan
dan menciptakan nilai-nilai yang baru. Karena dunia kian berubah dan berkembang,
doktrin-doktrin absolute-mutlak harus ditinggalkan jika dirasa menjadi penjara bagi
perubahan. Maksud dari menciptakan nilai baru adalah nilai-nilai keduniaan yang
terus berkembang, termasuk wacana sosial, kemanusiaan, dan kemasyarakatan.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebutkan jika “Tuhan tidak
perlu dibela”. Kata-kata ini adalah wacana kritis terhadap konsep teologi klasik, yang
cenderung teosentris, selalu membela Tuhan namun lupa membela kemanusiaan.
Gus Dur juga kritis terhadap kelompok-kelompok agama yang cenderung “bar-
bar”, beragama dengan kata-kata suci namun sikapnya bengis dan kejam. Inilah
yang menurutnya cara pandang ketuhanan yang sesat, karena konsep teologisnya
masih teosentris bukan antroposentris. Bagi Gus Dur, Tuhan tidak perlu apa-apa,
termasuk pembelaan, meskipun tidak menolak untuk dibela. Tuhan tidak akan
pernah berkurang sedikitpun atas apa saja ulah dan sikap makhluknya. Karena itu
Tuhan tidak perlu dibela, yang wajib dibela adalah kemanusiaan, penindasan kaum
minoritas, dan sebagainya (Wahid, 2010, hal. 67).
Dalam Islam, istilah teologi dikenal pula dengan sebutan “kalam”, “tauhid”,
atau ilmu ushuluddin. Secara makna istilah kalam (tauhid) mengandung pengertian
yang sama dengan teologi. Ahmad Hanafi pernah menggunakan istilah teologi
sebagai padanan kata “kalam”, sehingga wacana teologi Islam kemudian banyak
dikenal di Indonesia. Hanafi menyamakan keduanya dalam pelbagai isi wacana,
termasuk soal-soal ketuhanan (Hanafi, 1974, hal. v-vi).
Istilah teologi (kalam) Islam sendiri juga banyak mendapatkan kritik. Amin
Abdullah mengkritisi wacana kalam (teologi) klasik yang cenderung teosentris. Ilmu
kalam tidak berkembang dalam merespon isu-isu kemanusiaan dan pengetahuan.
Amin Abdullah kemudian memperkenalkan wacana “falsafah kalam” sebagai
kritiknya terhadap wacana teologi klasik yang mengabaikan isu-isu kemanusiaan
(Abdullah, 2009, hal. 89-90).
Hasan Hanafi salah satu pemikir Muslim juga mengkritisi hal yang sama.
Konsep teologi Islam harus berkembang dan bergerak dinamis. Wacana-wacana
ketuhanan harus digerakkan kepada wacana-wacana kemanusiaan. Konsep teologi
Islam mestinya tidak lagi berdimensi tunggal kemanusiaan, namun juga berdimensi
sosial-kemanusiaan. Artinya, landasan teologi akan menjadi dalil kuat menjadi
solusi bagi isu-isu kemanusiaan yang tengah terjadi (Hasan, 1988, hal. 25).
Dari sekian uraian di atas, maka jelas bahwa wacana teologi agama harus
dikembangkan, terutama dalam merespon masalah sosial-kemanusiaan. Sebagai
akar teologis umat beragama, melahirkan dalil kuat soal kemanusiaan akan
menggerakkan umat beragama dalam merespon pentingnya toleransi, kemanusiaan,
dan kepentingan dunia global. Maka kemudian muncul banyak istilah teologi yang
berkembang dalam membaca wacana-wacana kekinian, yakni teologi pembebasan,
teologi kemanusiaan, teologi sosial, teologi kiri, dan sebagainya.
175 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016
Febri Hijroh Mukhlis
Pancasila dan Nilai-nilai Kebangsaan
Pancasila adalah perumusan silang politik dan kebudayaan. Pancasila
merepresentasikan nilai-nilai perjuangan keindonesiaan. Sebagai ideologi bangsa
pancasila menjadi titik kunci dalam menguraikan segala bentuk kerumitan
kebangsaan. Pancasila mesti melandasi setiap sendi dan elemen kehidupan
berbangsa, sebagai jiwa sekaligus raga, ia nafas dan nyawa bagi kebangsaan.
Meminjam bahasa Yudi Latif (2011), Pancasila merupakan ideologi Negara
ideal paripurna. Membicarakan ideologi bangsa, pancasila sudah tidak bisa ditawar-
tawar lagi. Ia absah dan final bagi Indonesia. Sebagai sebuah pandangan hidup,
pancasila merepresentasikan nilai-nilai kebangsaan bagi terjalinnya kehidupan
berbangsa yang apik dan berbudaya.
Kelima sila dalam pancasila adalah proses kehidupan berbangsa. Pada setiap
sila terdapat untaian rangkaian nilai-nilai kebangsaan sekaligus kebudayaan. Para
leluhur bangsa menjadikan pancasila sebagai kunci bagi kemajemukan budaya,
suku, dan juga agama. Sebagai sebuah ideologi pancasila pantas dibanggakan karena
mewakili seluruh konsepsi kebangsaan sebagai cita-cita mulia.
Bahkan pancasila merupakan sistem kebudayaan. Artinya, pancasila mestinya
menjadi bagian dari laku budaya setiap kehidupan berbangsa. Melalui hasil cipta
karsa manusia terepresentasikan dalam pelbagai kehidupan, baik budaya, politik,
dan agama, pancasila mesti menjadi kegiatan kebudayaan. Yakni, menjadi orientasi
hidup dan tujuan bagi kehidupan berbangsa (Arif, 2015, hal. 60-61).
Adapun nilai-nilai kebangsaan secara gamblang terdapat dalam lima sila
pancasila. Pertama, sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pada sila ini bahwa Indonesia
adalah negara berketuhanan. Indonesia tidak pimpin oleh satu agama atau golongan
tertentu. Indonesia adalah representasi nilai dari keragaman agama. Melalui sila
pertama ini menegaskan bahwa keragaman agama adalah kekuatan kebangsaan.
Toleransi merupakan urat-urat penting dalam membangun kebangsaan yang
adidaya.
Nilai dari sila pertama adalah perwujudan penghargaan kepada agama-agama.
Tidak ada agama satupun yang menjadi hukum ataupun ideologi Negara. Semua
agama telah membuat kesepakatan budaya dan politik bahwa pancasila adalah satu-
satunya ideologi negara. Dengan begitu Indonesia bukanlah negara agama namun
negara pancasila.
Agama dan negara tidak bisa dikatakan sekuler di Indonesia, karena negara
dan agama adalah kesatuan nilai kebangsaan. Tidak pula menjadikan agama
tertentu sebagai prinsip kebangsaan. Namun semua agama membangun sebuah
dialog kebangsaan yang tertuang dalam pancasila. Sebagaimana sila pertama yang
mendasarkan akar-akar berketuhanan sebagai prinsip paling dasar kehidupan
berbangsa. Dengan demikian maka Indonesia adalah “negara beragama”, bukan
negara agama.
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016 176
Teologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama
Kedua, sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Tegas melalui sila ini adalah
visi kebangsaan yang mulia. Yakni melahirkan kemanusiaan yang memiliki keadilan
dan keadaban. Prinsip ini adalah humanisme kebangsaan di mana mementingkan
budaya saling menghargai antara manusia satu dengan lainnya. Sedangkan nilainya
adalah adil dan beradab. Selain berketuhanan, pancasila menegaskan pentingnya
kemanusiaan.
Prinsip ini menjadi terang bahwa berketuhanan harus diiringi dengan
kemanusiaan. Yakni berketuhanan yang berkemanusiaan. Sebagaimana ungkapan
Presiden Soekarno, “berketuhanan yang berkebudayaan”, maksudnya beketuhanan
yang menjalankan visi kemanusiaan dengan keadilan dan keadaban. Nilai
berketuhanan benar-benar menjadi motif dalam kehidupan manusiawi yang adil
dan beradab.
Ketiga, sila “persatuan Indonesia”. Sila ini adalah visi kebangsaan. Nilai dari
sila ketiga ini adalah pentingnya sejarah hidup berbangsa. Itulah kenapa hidup
dalam berketuhanan juga perlu berkebangsaan. Tidak akan melahirkan apa-apa
jika beragama tanpa menjalankan sejarah kebangsaan yang baik. Termasuk dalam
hal beragama, terang sejarah membuktikan bahwa agama memiliki peran penting
dalam membangun hidup berbangsa.
Visi kebangsaan adalah misi politik, budaya dan juga agama. Semua elemen
berbangsa harus menyadari pentingnya menjaga nasionalisme dan berbangsa.
nasionalisme mestinya juga menjadi ibadah kebangsaan dalam tujuan kebersamaan
dan demokrasi. Kebangsaan adalah inti dari kehidupan bernegara, di mana semua
lintas kehidupan bersinergi menjaga kedaulatan bangsa.
Keempat, sila “kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan”. Selain kemanusiaan dan kebangsaan, demokrasi
permusyawaratan juga adalah visi berbangsa. Sila keempat ini menegaskan bahwa
demokasi Indonesia adalah demokrasi permusyawaratan. Dalam demokrasi seperti
ini partisipasi rakyat merupakan sebuah kedaulatan, rakyat adalah tuan rumah
bagi bangsanya. Adapun eleman pembangunan hidup berbangsa merupakan tugas
bersama, wujud partisipasi semua elemen itu merupakan wujud dari demokrasi
permusayaratan.
Demokrasi permusyaratan bukan sekedar partisipasi politik. Partisipasi
dalam kehidupan berbangsa mesti diwujudkan oleh semua sendi kehidupan lintas
budaya dan agama. Itulah sebabnya kenapa pancasila merupakan sistem kebudayaan
kebangsaan. Melalui nilai-nilai ini sendi kehidupan berbangsa memiliki kesamaan
visi dan tujuan, yakni menjadikan Indonesia sebagai Negara pancasila yang maju,
demokratis, dan bermartabat.
Kelima, sila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Akhir dari semua
visi sila sebelumnya adalah keadilan sosial. Mewujudkan keadilan sosial adalah visi
kebangsaan yang mulia. Sebagaimana sangat awal ditegaskan dasar-dasar teologis
bangsa ini adalah negara berketuhanan (negara beragama), kemudian manandaskan
177 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016
Febri Hijroh Mukhlis
sikap kemanusiaan yang adil dan beradab, berkebangsaan, dan mewujudkan
demokrasi permusyaratan, dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial yang merata.
Visi keadilan sosial harus menjadi tujuan bersama baik agama maupun politik.
Agama hendaknya juga mementingkan keadilan sosial dalam bingkai
kemanusiaan dan demokrasi permusyawaratan. Begitu pula harus politik menjadi
sebuah perjuangan kebangsaan dalam mewujudkan keadilan sosial. Politik bukanlah
perjuangan golongan malainkan kepentingan bangsa. Agama dan politik harus
menjadi cermin berbangsa dalam menjalankan visi kebangsaan dalam bingkai
kepancasilaan. Tanpa ideologi pancasila agama dan politik bisa saja berbelok arah,
hingga gagal menyelesaikan visi kebangsaan yang sesuai dengan amanah pancasila.
Menimbang Pancasila sebagai Prinsip-prinsip Teologi
Pancasila sebagai teologi bukan berarti pancasila menggantikan kedudukan
agama. Bukan pula menjadikan pancasila sebaga “Tuhan” yang diyakini oleh
agama-agama. Namun menjadikan pancasila sebagai landasan teologis kehidupan
umat beragama. Artinya dalam menjalin hubungan baik antar pemeluk agama,
untuk saling toleran diperlukan kekuatan yang sifatnya kultural diterima oleh
semua agama. Untuk itu pancasila memiliki kedudukan sebagai basis nilai dalam
membangun sikap keberagamaan di tengah kemajemukan agama dan juga budaya.
Sebagaimana pendasaran falsafah negara ini sebagai “negara beragama”.
Identitatas keagamaan adalah fondasi kebangsaan paling fundamental. Sehingga
pantas saja para leluhur bangsa menjadikan sila pertama sebagai visi dasar
berketuhanan. Dengan maksud akan melahirkan kekuatan yang begitu mendasar
lintas agama dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Gud Dur (2010) pernah mengungkapkan bahwa agama dan kebangsaan adalah
sebuah ikatan. Antara agama dan berbangsa adalah jodoh yang tidak bisa ditawar-
tawar lagi. Agama memiliki peran begitu penting dalam perjuangan kemerdekaan
bangsa. Agama merupakan representasi sebuah perjuangan teologis berkebangsaan.
Maka tidak bida dipungkiri oleh siapapun jika agama menjadi kekuatan paling
penting bagi bangsa, melalui toleransi, mengingat di mana Indonesia memiliki
kemajemukan agama yang luar biasa.
Penandasan pentingnya toleransi dan kerukunan umat beragama bertujuan
mempertahankan sikap kebangsaan yang kuat. Bhineka tunggal ika bukan sekedar
slogan tanpa nilai. Ia merupakan representasi sistem kebudayaan atas pelbagai
keragaman kehidupan berbangsa. Leluhur bangsa telah jauh lebih dahulu menyadari
pentingnya kesadaran bertoleransi antar agama demi kehidupan berbangsa dan
berbhineka.
Maka teologi kebhinekaan atau kepancasilaan adalah sebuah keniscayaan.
Prinsip teologi ini lahir dari bumi pertiwi. Teologi pancasila merupakan budaya
masyarakat pribumi yang menjunjung kesantunan dan kerahamahan dalam budaya
beragama. Itulah kemudian pancasila mengabadikan semua nilai tersebut dalam
sistem kebhinekaan dan kepancasilaan.
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016 178
Teologi Pancasila: Teologi Kerukunan Umat Beragama
Teologi pancasila lahir dari budaya majemuk. Yudi Latif pernah
mengungkapkan bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk paripurna. Artinya
kemajemukan adalah keniscayaan sejarah. Kemajemukan adalah sunnatullah
yang tidak bisa ditolak. Kemajemukan adalah nilai kehidupan berbangsa bagi
kesatuan dan persatuan. Melalui budaya majemuk ini perjuangan Indonesia dalam
memerdekakan diri menjadi langkah gerakan kolektif demi mewujudkan Negara
yang maju dan berkembang (Latif, 2015, hal. 282).
Teologi pancasila adalah penting bagi Indonesia. Teologi pancasila adalah
nafas perjuangan dan pembebasan. Teologi inilah yang menggerakkan para
pejuang bangsa merebut dan menegakkan kemerdekaan. Melalui teologi ini semua
elemen bangsa, kyai, santri, pesantren, turut serta berjuang melawan penjajah demi
kemerdekaan bangsa.
Saat ini teologi pancasila begitu penting dan sangat perlu dikuatkan. Melihat
krisis kebangsaan saat ini, meliputi krisis keteladanan, sedangkan ketedalanan
pancasila lah yang paling baik. Di tengah krisis politik demokratis, kembali
kepada pancasila adalah jalan terbaik dalam membangun persatuan visi. Melihat
gejolak terorisme dan radikalisme agama, teologi pancasila merupakan kunci bagi
perlawanan dari segala aksi teror yang merusak kebhinekaan berbangsa.
Dari segi istilah teologi pancasila memiliki kesamaan maksud dengan teologi
pembebasan maupun teologi kemanusiaan. Teologi pancasila adalah semangat
perjuangan. Teologi pancasila memiliki semangat kebangsaan dan nasionalisme
yang kuat. Teologi pancasila mencerminkan sikap budaya yang mencerminkan
nilai-nilai kepancasilaan, yang jelas terinci pada kelima sila di dalamnya.
Bagi Indonesia, teologi pancasila sudah sejak lama menjadi semangat
pembebasan. Bahkan teologi pancasila lah yang menjadi pelopor semangat
kemerdekaan. Termasuk dalam perumusan pancasila sendiri juga merupakan
representasi teologi pancasila. Di mana semua elemen lintas agama dan budaya
duduk bersama merumuskan pentingnya menjaga harmoni kehidupan mejamuk
bangsa Indonesia.
Melihat pelbagai kasus intoleransi agama, hingga aksi teror, bahkan penindasan
terhadap minoritas agama, disanalah pentingnya teologi pancasila kembali
dihadirkan. Teologi pancasila perlu dikuatkan di semua elemen lintas agama untuk
menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Semangat kepancasilaan harus
menjadi garda paling depan bagi semua pemeluk agama untuk menjaga stabilitas
kehidupan kebangsaan.
Teologi Pancasila: Teologi Kebangsaan dan Kerukunan Umat
Beragama
Berdasarkan sejarah agama-agama di Indonesia, corak kultural keagamaan
masyarakat pribumi adalah kesantunan dan keluhuran budi. Sebelum Islam datang di
Indonesia, agama-agama secara kultural telah membentuk pribadi yang berbudaya.
179 Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016
Febri Hijroh Mukhlis
Bukti dari kehidupan kultural rakyat pribumi bisa dirasakan hingga sekarang,
seperti tradisi sembahyang, gamelan, seni wayang, dan sebagainya. Melalui budaya
demikian pribudi berbudi rakyat pribumi kental dengan nilai-nilai luhur berupa
kerukunan dan kesantunan (Wijaya, 2011, hal. 184).
Bahkan ketika Islam datang di Indonesia, tidak datang dengan wajah garang.
Tapi Islam datang dengan raut senyum dan menyenangkan. Negosisasi kultural
antara Islam dan rakyat pribumi Indonesia berlangsung dialogis, sehingga Islam
dengan mudah diterima sebagai agama baru waktu itu. Dalam perkembangannya
Islam mampu menggeser kepercayaan penduduk pribumi dan Islam kemudian
menjadi agama mayoritas (Karim, 2007, hal. 47).
Islam datang di Indonesia penuh dengan penghargaan-penghargaan kultural.
Peran walisongo erat kaitannya dengan dakwah kultural Islam Indonesia. Para
wali sama sekali tidak menghapus tradisi kultural pra-Islam di Indonesia, namun
menjadikannya media dakwah, bahkan tidak sedikit dari tradisi pra-Islam masih
dipertahankan hingga sekarang. Kenyataan ini membuktikan kearifan teologis
masyarakat beragama di Indonesia.
Pada masa-masa kerajaan pun, Islam dan agama-agama lainya hampir tidak
pernah ditemukan catatan konflik. Sejarah banyak menceritakan Islam sangat
rekonsiliatif dengan sistem ketata kerajaan, dan hal ini rupanya memberikan ruang
positif bagi berkembangnya Islam di bumi Nusantara. Dengan demikiran konflik
agama jelas bukan budaya bangsa kita. Budaya bangsa Indonesia adalah kesantunan,
keramahan, dan juga budi pekerti.
Nilai-nilai budi dan etika kultural bangsa Indonesia ditanamkan dalam
pancasila. Pancasila menjadi nilai “abadi” bagi berlangsungnya kehidupan berbangsa
dan juga beragama. Para leluhur bangsa menempatkan nilai-nilai luhur dalam
pancasila sebagai fondasi bagi terbangunya Indonesia yang berbudi dan maju dalam
berbangsa. Jadi bisa dikatakan pancasila adalah sistem kebudayaan, sistem nilai,
sistem perilaku, sistem politik, dan juga cara beragama bagi masyarakat Indonesia.
Belum lagi sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, erat kaitannya landasan
teologis menjadi pemicu semangat perjuangan kemerdekaan. Semua elemen
lintas suku, budaya, agama, bahu membahu menumpahkan darah juang demi
Indonesia. Dengan demikian teologi kebangsaan merupakan teologi perjuangaan
dan pembebasan. Teologi ini menginspirasi semangat kegigihan para prajurit dalam
berjihad mewujudkan kedaulatan NKRI.
Jadi, pancasila adalah landasan penting bagi kokohnya NKRI. Pancasila
adalah representasi perjuangan semua etnis suku, agama dan budaya. Kekuatan
pancasila sebagai landasan perjuangan telah membakar semangat pembebasan, dari
kungkungan penjajahan kepada kemerdekaan. Hingga Indonesia telah benar-benar
merdeka dari penjajahan asing. Sudah semestinya perjuangan teologis kebangsaan
ini hingga sekarang menjadi titik gerakan dalam memperjuangkan kedaulatan
bangsa dan nasionalisme.
Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016 180
Description:Pancasila adalah ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Pancasila demikian pancasila mestinya menjadi landasan teologis bagi agama- .. 186. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 4 Nomor 2, 2016.